Batam, Posmetrobatam.co: Landmark Welcome To Batam (WTB) di Batamcentre yang menjadi ikon di Kota Batam sudah tertutup bangunan ruko berlantai 5. Wisatawan pun enggan mengunjungi tempat tersebut, sehingga berimbas pada para pelaku UMKM yang berdagang di sana.
Mak In, salah seorang pedagang mengatakan, sejak adanya pembangunan ruko itu, para wisatawan lokal dan luar negeri sudah jarang datang ke WTB.
“Sudah semakin sepi wisatawan yang datang,” katanya kepada media ini, Rabu (21/5).
Karena semakin sepi pengunjung, sejumlah pedagang terpaksa menutup gerainya. Hal ini tentu berimbas pada pendapatannya.
“Banyak yang sudah tutup. Ya saya terpaksa buka (jualan) ini, siapa tahu masih ada rezekinya. Karena ini pak sumber utama pendapatan keluarga,” kata wanita berhijab ini.
Tambahnya, para wisatawan datang ke tempat tersebut biasanya untuk berswafoto, sekalian menikmati kuliner yang dijual sekitar landmark WTB.
“Iya pak, biasanya untuk foto-foto, tapi kalau foto dari lokasi tempat kuliner ini tidak nampak WTBnya. Kadang orang foto dari atas masjid,” paparnya.
Landmark WTB yang menjadi kebanggaan masyarakat Batam itu dibangun sekitar tahun 2010 masa kepemimpinan Walikota Batam Ahmad Dahlan. Huruf-huruf kapital WTB setinggi 6 meter dengan panjang 80 meter tersebut dibangun di atas bukit yang familiar disebut Bukit Clara, yang tidak jauh dari Masjid Agung Raja Hamidah, Batamcentre.
Kini, landmark WTB yang jadi ikon kota ini yang lampunya hidup pada malam hari itu tergusur. Sejumlah masyarakat atau pedagang, khususnya yang mencari penghidupan di area tersebut menyayangkan kebijakan pemerintah daerah yang mengalokasikan lahan tersebut, hanya untuk kepentingan pengusaha kelas kakap saja.
“Harusnya pemerintah punya kebijakan untuk mensejahterakan masyarakat atau pedagang kecil seperti kami ini. Jangan hanya berpihak ke para pengusaha kakap yang sudah kaya raya,” kata salah seorang pedagang.(waw)









