Batam, Posmetrobatam.co: Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Fadli, menegaskan pentingnya kekompakan dan soliditas seluruh kader dalam menghadapi masa depan partai.
Penegasan itu disampaikannya saat Musyawarah Wilayah (Muswil) PPP Kepri yang digelar di Golden View, Bengkong, Minggu (28/12).
Menurut Fadli, Muswil bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momen paling sakral yang akan menentukan arah dan nasib PPP ke depan, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau.
“Kita akan membentuk formatur untuk menyusun kepengurusan DPW PPP Kepri. Momen ini sangat menentukan masa depan partai. Saat ini kita berada di titik nadir dalam percaturan politik,” ujar Fadli.
Ia mengungkapkan bahwa hasil Pemilu sebelumnya menunjukkan kondisi PPP Kepri yang masih memprihatinkan. Saat ini, PPP hanya memiliki empat kursi DPRD yang tersebar di empat daerah, yakni satu kursi di Kabupaten Anambas, satu di Natuna, satu di Kota Tanjungpinang, dan satu di Kota Batam.
“Kondisi ini tidak akan berubah jika tidak diiringi kepengurusan wilayah dan cabang yang solid, kompak, dan komprehensif. Ini adalah tugas bersama untuk mengendalikan dan membesarkan partai,” tegasnya.
Fadli menekankan bahwa perjuangan di PPP bukan hanya tanggung jawab politik, tetapi juga tanggung jawab moral dan keagamaan. PPP, kata dia, didirikan untuk meneruskan perjuangan para ulama dan membawa aspirasi umat Islam.
“Bagaimanapun jalannya, kita bertanggung jawab kepada Allah SWT dan kepada umat Islam. Mari jalankan Muswil ini dengan hati yang ikhlas. Siapa pun yang terpilih harus mampu memperbanyak kursi PPP di setiap daerah pemilihan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk mendukung penuh kepengurusan hasil Muswil hingga Pemilu mendatang dan masa jabatan berikutnya, serta tetap menjaga kekompakan tanpa perpecahan.
Selain itu, Fadli menyatakan dukungan seluruh kader PPP Kepri kepada Ketua Umum PPP, Mardiono, untuk terus memimpin partai dalam satu barisan perjuangan.
Sementara itu, Bendahara Umum PPP, Imam Fauzan, menyoroti realitas politik yang tengah dihadapi PPP secara nasional. Ia menegaskan bahwa kebesaran partai tidak diukur dari usia, jumlah pengurus, maupun besarnya dana, melainkan dari jumlah kursi di parlemen.
Ia mengingatkan bahwa tantangan Pemilu 2029 akan jauh lebih berat dibandingkan Pemilu 2024, karena PPP harus melalui proses verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
“Kalau tidak kompak, jangankan masuk parlemen, lolos sebagai peserta pemilu saja akan sangat sulit. Verifikasi faktual itu berat, mulai dari DPW harus 100 persen, DPC 75 persen, hingga PAC 50 persen lengkap dengan kantor,” jelasnya.
Imam Fauzan juga menekankan pentingnya menerima hasil rekonsiliasi internal partai yang telah dituangkan dalam Surat Keputusan Islah, meski diakui tidak semua pihak merasa puas.
“Rekonsiliasi tidak pernah melahirkan kepuasan mutlak. Kalau yang dicari kepuasan sepihak, itu bukan rekonsiliasi, tapi egoisme. Saatnya kita berhenti bertengkar dan mulai bekerja,” tegasnya.
Muswil PPP Kepri diharapkan menjadi titik awal penguatan soliditas dan rekonsiliasi internal partai, sekaligus mempersiapkan langkah strategis menuju kebangkitan PPP di Kepulauan Riau pada Pemilu mendatang.(hbb)









