Kepri, Posmetrobatam.co: Para mafia saat ini sengaja beralih dari narkotika ke Obat-Obat Tertentu (OOT) untuk menjerat mangsa. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat pencegahan penyalahgunaan OOT secara terpadu dan berkelanjutan guna melindungi anak dan remaja Indonesia.
Dalam keterangan resmi, Selasa (26/5), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar menjelaskan, perbedaan mendasar antara narkotika dan OOT, kini menjadi perhatian serius dalam pengawasan BPOM.
Dia menyoroti, sekarang para mafia sengaja beralih dari narkotika ke OOT karena sanksi hukumnya dinilai lebih ringan. “Efeknya mirip, tetapi dia bisa bebas dari hukuman mati,” katanya.
Dia pun menceritakan tentang jatuhnya Tiongkok kuno akibat peredaran opium, yang ia jadikan cermin kondisi Indonesia hari ini.
Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM Nomor 19 Tahun 2025 tentang Perubahan Peraturan BPOM Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pedoman Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Obat, Bahan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, saat ini terdapat 12 jenis OOT yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya tramadol, triheksifenidil, dan ketamin.
Pihaknya juga berencana memasukkan vape dan dinitrogen monoksida (N2O/gas tertawa) ke dalam daftar tersebut, mengingat peredarannya sudah terdeteksi di berbagai kota besar, termasuk Batam.
Dia pun mengungkapkan temuan mengejutkan dari operasi penegakan hukum yang baru-baru ini dilakukan BPOM di beberapa wilayah.
“Kita menemukan 1,6 miliar kapsul,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga menindak ribuan ton bahan baku yang berpotensi menghasilkan 5 hingga 6 miliar kapsul, dengan nilai ekonomi yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.
Khusus untuk Batam, Taruna menyebut ada temuan intelijen yang memprihatinkan.
“Di Batam saja, hanya ada dua jalur normal masuk, yaitu udara dan pelabuhan feri. Tapi ternyata ada kurang lebih 54 jalur-jalur tikus untuk membawa makanan, minuman, obat-obatan, dan sebagainya secara ilegal,” katanya.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad menyoroti posisi geografis Kepulauan Riau (Kepri) yang menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah berisiko tinggi. Dia menyebut Kepri berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional paling sibuk di dunia.
“Kepri berbatasan langsung dengan salah satu dari 10 check points penting perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka, yang setiap tahun rata-rata 80 ribu kapal berlalu lintas,” ujar Ansar.
Gubernur Ansar mengingatkan, dari wilayah yang 98,5 persen berupa lautan itu, risiko penyelundupan obat-obatan ilegal sangat besar. Ia mengakui tantangan pengawasan di daerahnya tidaklah ringan dan menegaskan. penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.(ant)









