Karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam
Hari ini, di rumah Rihana dapat giliran buat acara arisan komplek. Rihana pun mendadak sibuk. Untungnya, dia tak sendiri saat mempersiapkan acara arisannya.
Ada beberapa tetangga yang ikut serta membantu mempersiapkan makanan buat hidangan di acara arisan.
Termasuk Zulaikha yang tak lain adalah orang baru di komplek perumahan tempat Rihana mengontrak.
Padahal, Rihana sama sekali tak menginginkan kehadirannya di rumah. Tapi, bagaimana pun, mau ribut sama Zulaikha, Rihana nggak enak sama ibu-ibu lainnya yang datang ke rumah.
Kebetulan, hari ini Cahyo tak pergi ke kantor. Karena harus membantu Rihana mempersiapkan acara arisan itu.
Tentu saja ini kesempatan Zulaikha untuk bertemu Cahyo di rumahnya.
Cahyo yang melihat Zulaikha ada di rumah, langsung pamit sama Rihana mau keluar, ada urusan sama kawan kantor. Padahal itu hanya alasan klasik Cahyo buat menghindari Zulaikha.
“Mau kemana Mas, bukannya kantor lagi libur kalau hari Sabtu?” celetuk Zulaikha yang melihat Cahyo pamitan ke Rihana, kalau mau keluar.
Cahyo cuek, tak ingin menanggapinya karena itu bakal jadi masalah besar di mata Rihana.
“Sayang. Aku pergi dulu ya karena ada urusan sama kawan aku,” ucap Cahyo, yang buru-buru meninggalkan rumahnya.
Melihat Cahyo begitu mesra dengan Rihana, hati Zulaikha terasa terasa terbakar api cemburu.
“Lihat saja Mas, kamu akan bertekuk lutut di depan aku lagi dan kamu akan meninggalkan Rihana, suatu hari nanti?!” ucap Zulaikha dalam hatinya, penuh kesal.
“Mbak, itu mobilnya dibelikan Mas Cahyo ya. Bagus ya?!” tanya Zulaikha tiba-tiba pada Rihana.
“Iya hadiah ultah aku,” kata Rihana yang berusaha sombong di depan Zulaikha.
“Oh iya ya….,” Zulaikha semakin cemburu mendengar itu.
“Ternyata, Mas Cahyo begitu perhatian banget dengan istrinya.” batin Zulaikha lagi.
“Lagian kenapa sih Mbak ini ngurus mobil orang?!” kata Rihana to the point. Kalimat skak mati buat Zulaikha.
Wajah Zulaikha memerah. Tapi dia nggak kehabisan akal. Dia bahkan memuji Rihana dengan pujian yang berlebihan.
“Cinta mati ya Mas Cahyo sama Mbak. Sampai rela ngasih hadiah mobil.” ucap Zulaikha lagi masih kepo sama Rihana.
Ibu-ibu lainnya yang mendengar pertanyaan Zulaikha, sedikit terkekeh.
“Ya iya Mbak, sayang banget Mas Cahyo sama istrinya. Mbak Rihana kurang apa coba. Cantik, baik hati. Pasti istri seperti itu, idaman para suami.” celetuk salah seorang ibu-ibu yang ingin membela Rihana.
Ibu itu tahu kalau Rihana sepertinya kesal ditanya soal masalah pribadi.
“Memang suami Mbak, nggak sayang ya sama Mbak?!” imbuh ibu itu lagi.
“Sial emak-emak satu ini,” batin Zulaikha.
“Sayang dong Bu.” jawab Zulaikha meyakinkan ibu itu.
“Mbak Zulaikha dibelikan mobil juga nggak sama suaminya?!” tanya ibu itu seakan ingin menguji mental Zulaikha.
“Saya beli sendiri Bu, kalau soal mobil,” jawab Zulaikha.
“Oalah. Berarti suaminya nggak perhatian seperti suami Mbak Rihana ya. Ya kan Mbak Rihana?” katanya lagi, seolah ingin memojokkan Zulaikha, dan membela Rihana.
Rihana hanya mengukir senyum tipis di sudut bibirnya.
“Sudah yuk. Buruan kita selesaikan satu persatu masakannya. Nanti kalau ghibah soal mobi, nggak siap-siap dong!” ucap Rihana yang berusaha menutup topik pembahasan soal mobil.
Ibu-ibu lainnya pun bersorak.
“Yuhu….kita gas!” ucap ibu Ovi penuh semangat.
Zulaikha tampak terdiam.
“Mampus saja kamu Zulaikha. Ngapain ngurus soal mobil aku!” batin Rihana kesal.
Tak lama Zulaikha yang merasa terpojok, pura-pura pamit mau pulang ke rumah sebentar.
“Izin ya ibu-ibu saya balik ke rumah, sebentar saja. Ada pakaian kotor yang harus saya cuci dulu. Nanti kalau sudah beres, saya balik lagi ya?!” katanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan ibu-ibu.
“Oh ya….silakan,” sahut salah seorang diantara mereka.
Rihana acuh tak acuh menanggapi Zulaikha yang pamit undur diri.
“Lagian siapa sih yang undang dia kemari?!” celetuk Rihana bersamaan dengan Zulaikha yang beranjak pergi dari rumah Rihana.
***
Selepas jam empat sore, acara arisan dimulai. Lagi-lagi Zulaikha hadir di acara arisan itu.
Rihana pun masih tak habis pikir. Dia nggak pernah mengundang perempuan sialan itu.
Tapi, Zulaikha juga tak bisa disalahkan. Karena warga yang tinggal di komplek itu secara otomatis memang tercatat sebagai anggota arisan.
Diperhatikannya dari jauh, Zulaikha tampak gelisah matanya jelalatan mencari seseorang.
“Hahahah. Pasti dia nyari Mas Cahyo.” pikir Rihana, kesal.
“Mas Zulaikha masih nyari-nyari kamu, tahu!” tulis Rihana di pesan WhatsApp nya, dikirim ke Cahyo.
“Kamu undang dia ya?!” balas Cahyo.
“Nggak Mas. Tapi, memang nggak bisa disalahkan sih. Dia kan warga komplek kita. Jadi kalau ada acara-acara di komplek, dia pasti hadir.” sebut Rihana.
“Hmmm. Iya juga. Sabar ya sayang. Secepatnya tanah kavling yang sudah kita beli kemarin, akan aku bangun. Aku lagi cari pak tukang bangunan. Paling nggak ada dua orang yang ngerjain pembangunannya biar cepat kelar!” kata Cahyo panjang lebar memberi informasi ke Rihana.
Rihana berbunga-bunga membaca pesan itu. Setidaknya kalau rumahnya cepat terbangun, Rihana bisa angkat kaki dari komplek perumahan yang dia sewa.
Sudah terbayang di depan mata, rumah yang akan dibangun Cahyo, bakal jadi istana megah, buat Rihana.
“Iya Mas aku sabar menunggu. Semoga segera dapat Pak Tukangnya, ya. Mas. Nanti juga coba aku tanya-tanya sama ibu-ibu yang hadir di arisan. Siapa tahu mereka punya kenalan Pak Tukang.” kata Rihana lagi.
“Ya sudah lanjut ya sayang acara arisannya. Nanti kalau sudah beres, aku balik ke rumah. Maaf ya aku nggak bantu di acaranya.” ucap Cahyo sedikit merasa bersalah.
Tapi, Cahyo tak ingin menjadi masalah, dengan bertemu Zulaikha di acara arisan itu. Karena, dilihatnya Zulaikha suka nekad kalau mau mendekati Cahyo.
“Aman Mas, ibu-ibu arisan kan banyak. Mereka biasanya bantu kemas-kemas kalau selesai acara.” sebut Rihana, membuat Cahyo sedikit lega.
“Makasih ya sayang. Ya sudah. Bay! Rihana sayang.”
Rihana masih mendapati Zulaikha tampak gelisah karena tak menemukan pujaan hatinya, Cahyo.
Rihana cengar-cengir melihat tingkah Zulaikha yang seperti cacing kepanasan itu. Nggak bisa diam. Matanya sibuk jelalatan menunggu kemunculan Cahyo.
Dilihatnya, Riko dipanggil Zulaikha. Sepertinya dia menitipkan sesuatu ke Riko.
“Riko. Kamu dikasih apa sama Tante itu,” tanyaku ke Riko.
Riko langsung memotret secarik kertas yang ditulis tangan.
(Mas ada yang mau aku omongkan. Penting!)
“Itu mau Riko kasih ke siapa kertasnya?!”
Riko pun tak menutupinya.
“Kata Tante itu, minta tolong secarik kertasnya diberikan ke papa Cahyo. Katanya Tante itu teman kantor papa Cahyo.” tulis Riko.
Rihana geleng-geleng kepala. “Dasar perempuan sialan!” maki Rihana dalam hati. Dia kesal karena suaminya terus dikejar-kejar.
“Tapi Riko nggak akan kasih di papa Ma.” sebut Riko mantap.
“Iya. Tolong Riko simpan ya. Nanti mama aja yang sampaikan ke papa,” pesan Rihana serius.
“Apa lagi taktik licik perempuan itu. Selalu aja ingin mencari perhatian ke Mas Cahyo!”
***
Ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 wib, dan mendekati adzan Maghrib, acara arisan segera berakhir.
Lagi-lagi Zulaikha menunggu kehadiran Cahyo di acara arisan yang sudah mau bubar itu.
Matanya selalu mengawasi area parkiran. Karena mobil Cahyo tak kunjung terparkir disana.
Rihana penasaran soal secarik kertas yang dia serahkan ke Riko.
Tanpa diminta, setelah acara selesai, Riko langsung menyerahkan kertas itu ke Rihana.
“Siapa sih Ma Tante itu?!” tanya Riko yang jarang melihat sosok Zulaikha.
“Katanya teman kantor Papa Cahyo ya?!” tanya Riko ingin tahu soal sosok Zulaikha itu.
“Mungkin juga. Mama juga nggak paham.” Rihana pura-pura nggak tahu. Padahal, masalahnya, Zulaikha itu mantan pacarnya Cahyo.
***
Nyaris mendekati waktu sholat Maghrib, Zulaikha tak kunjung beranjak pergi dari rumah Rihana.
“Ma. Papa tumben ke kantor hari Sabtu?!” Riko heran.
“Iya ada kerjaan di kantor.” sebut Rihana yang terpaksa berbohong sama Riko.
Padahal, sebenarnya Rihana tahu persis, kalau Cahyo beranjak pergi dari rumah, lantaran ingin menghindari pertemuannya dengan Zulaikha.
“Tapi Ma. Tante itu belum balik-balik lho Ma.” kata Riko heran.
Tepat dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, Cahyo tiba-tiba pulang.
Wajah Zulaikha yang tadinya terlihat suntuk, kini berubah ceria.
“Mbak aku menumpang sholat di rumah Mbak aja ya,” kata Zulaikha yang berusaha mencari perhatian dari Cahyo.
Rihana menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya dengan kasar ke langit-langit ruang tamu nya.
“Muak aku. Jijik banget lihat gaya perempuan ini. Kenapa sih pakai numpang sholat segala. Rumah juga cuma lima langkah dari sini. Apa salahnya balik, pulang dan sholat di rumahnya sendiri. Parah banget!” batin Rihana kesal.
“Mau nggak dikasih numpang sholat, aku nanti dosa.” imbuh Rihana lagi.
Sementara Cahyo, buru-buru masuk ke kamarnya, demi menghindari Zulaikha.(*)













