BMKG: Kualitas Udara Karimun Tidak Sehat, Jarak Pandang Tinggal 2 KM – Warga Diminta Pakai Masker

Posmetrobatam.co, Karimun: Kabut asap di Karimun terasa makin tebal, Jumat (09/10). Kondisi ini dirasakan sejak pagi. Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Raja Haji Abdul (RHA) Tanjungbalai Karimun bahkan mengeluarkan status kualitas udara tidak sehat. Tak hanya itu jarak pandang pun dinyatakan semakin pendek. Tercatat pada Jumat menjadi 2-4 kilometer.

Status ini dikeluarkan berdasarkan analisa hingga pukul 10.00 Wib. BMKG RHA mencatat perkembangan kondisi kualitas udara dan potensi sebaran asap di wilayah Kabupaten Karimun pada Jumat, 9 Oktober 2026, berdasarkan hasil analisis prakiraan, konsentrasi partikulat halus (PM₂.₅) di sejumlah wilayah Kabupaten Karimun pada 9 Oktober 2026 masih menunjukkan nilai yang relatif tinggi

“Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara, terutama apabila terdapat tambahan pasokan asap dari wilayah kebakaran hutan dan lahan. Pada pukul 10.00 WIB, konsentrasi PM₂.₅ di 14 kecamatan diprakirakan berkisar antara 51,2–96,6 µg/m³, dengan rata-rata sekitar 67,3 µg/m³. Nilai tertinggi terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 96,6 µg/m³, disusul Kecamatan Meral Barat dan Tebing masing-masing 92,2 µg/m³. Sementara itu, Kecamatan Durai menunjukkan nilai relatif lebih rendah, yaitu 51,2 µg/m³. Konsentrasi PM₁₀ pada waktu yang sama berkisar antara 57,5–105,7 µg/m³.
Jika dibandingkan dengan rentang konsentrasi PM₂.₅ yang digunakan, sebagian besar nilai prakiraan tersebut berada pada rentang TIDAK SEHAT,” tulis Forecaster On Duty Muhamad Sawal dalam rilisnya.

BACA JUGA:  Prediksi Line-up Timnas Indonesia vs Filipina, Calvin Verdonk Gantikan Justin Hubner?

Parameter kualitas udara lainnya pada pukul 10.00 WIB menunjukkan konsentrasi CO sekitar 1.190–2.058 µg/m³, NO₂ sekitar 0,4–70,6 µg/m³, serta AOD pada kisaran 1,88–2,90. Nilai AOD menggambarkan keberadaan aerosol di kolom atmosfer.

“Untuk jarak pandang akibat kabut asap yang masih menyelimuti Karimun pada Jumat diketahui berada pada 2-4 kilometer,” terangnya.

Untuk perkembangan selama 9 Oktober, konsentrasi PM₂.₅ diprakirakan masih relatif tinggi, terutama pada pagi hingga siang hari. Nilai tertinggi dalam prakiraan hari tersebut mencapai 116,9 µg/m³ di Kecamatan Karimun pada pukul 04.00 WIB. Memasuki sore hingga malam, konsentrasi partikulat secara umum menunjukkan kecenderungan menurun, meskipun pada beberapa kecamatan nilainya masih cukup tinggi.

Namun dalam analisa prakiraan, memasuki 10 Oktober, kondisi partikulat diprakirakan mulai membaik. Rata-rata PM₂.₅ dari 14 kecamatan menurun dari sekitar 69,1 µg/m³ pada 9 Oktober menjadi 40,3 µg/m³ pada 10 Oktober. Penurunan diprakirakan berlanjut pada 11 Oktober menjadi sekitar 31,9 µg/m³ dan 12 Oktober sekitar 27,2 µg/m³. Secara indikatif, rata-rata konsentrasi pada 10–12 Oktober berada dalam rentang SEDANG, sehingga kondisi partikulat cenderung lebih baik dibandingkan 9 Oktober.

“Meski demikian, kondisi tersebut diprakirakan belum sepenuhnya stabil. Pada 13 Oktober, terdapat potensi peningkatan kembali konsentrasi PM₂.₅, terutama pada dini hari hingga pagi hari. Di Kecamatan Karimun, PM₂.₅ diprakirakan mencapai sekitar 72,9 µg/m³ pukul 04.00 WIB, meningkat menjadi 77,8 µg/m³ pukul 07.00 WIB, kemudian sekitar 75,0 µg/m³ pukul 10.00 WIB. Peningkatan ini perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara,” tegasnya lagi

BACA JUGA:  Natal dan Tahun Baru 2025, Pelni Siapkan 3.100 Tiket Gratis, Ada Rute Batam-Belawan

Dengan demikian, kondisi partikulat di Kabupaten Karimun diprakirakan masih relatif tinggi pada 9 Oktober, membaik secara bertahap pada 10–12 Oktober, tetapi berpotensi meningkat kembali pada 13 Oktober 2026. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara masih bersifat dinamis dan dapat dipengaruhi oleh perubahan arah serta kecepatan angin, kondisi atmosfer, dan perkembangan sumber polutan di wilayah sekitar.

“Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas fisik berat maupun aktivitas dalam waktu lama di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk atau asap mulai menebal. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma, penyakit paru-paru, dan penyakit jantung diharapkan meningkatkan kewaspadaan,” imbaunya.

Yang terpenting, BMKG RHA mengingatkan apabila harus beraktivitas di luar ruangan saat konsentrasi partikulat meningkat, disarankan menggunakan masker KN95/N95 atau masker dengan kemampuan penyaringan partikulat yang baik. Pasalnya selain berdampak pada kesehatan, peningkatan konsentrasi partikel dan keberadaan asap juga dapat menyebabkan berkurangnya kejernihan udara serta jarak pandang.

BACA JUGA:  Responsif Terhadap Aduan Warga, Amsakar-Li Claudia Kompak Gercep Tangani Masalah Sampah

Oleh karena itu, pengguna transportasi darat dan laut, khususnya masyarakat yang beraktivitas di perairan Kabupaten Karimun dan sekitarnya, diimbau meningkatkan kewaspadaan apabila jarak pandang mengalami penurunan. Pihaknya juga akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara.

Kadinkes Karimun Imbau Pakai Masker

Sementara itu, meski dinyatakan kualitas udara di Karimun dalam kondisi tidak sehat dan jarak pandang makin pendek. Dinas Kesehatan Karimun masih mencatat belum terjadi lonjakan penderita gangguan pernafasan.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Karimun, drg Soerjadi saat dikonfirmasi Posmetro. Meski belum terjadi lonjakan penderita ISPA, ia mengajak agar masyarakat memulai kegiatan di luar ruangan dengan menggunakan masker.

“Kurangi banyak kegiatan diluar kecuali yg perlu dan mendesak. Jangan lupa pakai masker bila kegiatan diluar, jaga kesehatan,” tegas Soerjadi.(ria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *