Sanggar Kuda Kepang Tanjungpinang Digandrungi Muda-mudi

Pinang, Posmetrobatam.co: Kendaraan roda dua dan roda empat tampak banyak lalu lalang di perkampungan Jalan Merpati KM 12, Jumat (2/10) pukul 19.30 WIB.

Sementara itu, di teras samping gedung Posyandu yang ukurannya tak terlalu lebar itu, berkumpul belasan remaja tanggung/ anak-anak ABG, yang terlihat fokus mengikuti irama musik gamelan dari sebuah speaker yang diputar. Suara musiknya tak terlalu keras. Tapi mereka tetap lincah mengikuti iramanya.

Mereka adalah anak-anak muda penari kuda kepang dari Sanggar Turonggo Asri Bawono, Tanjungpinang yang sedang berlatih.

Nano, salah seorang anggota dan juga bagian dari penari debus Turonggo Asri Bawono mengatakan, sanggar Turonggo Asri Bawono berdiri sejak 2018.

Saat pertama dibentuk, jumlah anggotanya masih sangat terbatas, hanya sekitar 6 hingga 8 orang. Seiring berjalannya waktu, ternyata keberadaan sanggar kuda kepang ini banyak dilirik anak-anak muda Tanjungpinang. Terutama yang hobby di bidang seni tari.

“Sekarang, alhamdulillah jumlah anggota secara keseluruhan mencapai sekitar 50 orang. Penari plus pengurus. Kalau penari, sekitar 22 orang. Selebihnya pengurus,” kata Nano.

Menurutnya, penari yang aktif dan sering tampil di lapangan, sekitar 20 orang. Sementara, sekitar 15 orang merupakan penari inti yang rutin mengikuti latihan, dan tampil di lapangan saat pertunjukan.

Masih kata Nano, mereka yang ingin bergabung tidak langsung diminta menjadi penari.

Mereka terlebih dahulu diperkenalkan dengan lingkungan sanggar dan diberi kesempatan, melihat proses latihan. Kalau sudah merasa tertarik dan berminat, baru ikut latihan.

Jika dahulu pemain kesenian banyak berasal dari kalangan yang sudah berusia lebih tua, sekarang justru anak-anak remaja.

Kalau ditanya soal tampil di lapangan, kata Nano, alhamdulillah kuda kepang terbilang banyak menarik perhatian masyarakat.

Pertunjukan biasanya dilakukan berdasarkan undangan. Sanggar kuda kepang sering tampil di acara-acara hajatan seperti acara sunatan maupun pernikahan.

“Bukan hanya di acara hajatan saja. Sanggar kuda kepang lebih sering tampil di beberapa lokasi, atas permintaan warga,” ucap Nano.

Satu hal yang selalu disyukuri Nano, respon masyarakat cukup baik. Ketika sanggar kuda kepang tampil dimana saja, penontonnya, alhamdulillah luar biasa banyak.

“Bagi saya, ramainya penonton saat sanggar kuda kepang tampil, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, buat saya dan tim,” ungkapnya penuh antusias.

BACA JUGA:  Bintan Trekking and Fun Trail Run 5K, Promosi Wisata Alam dan Budaya Lewat Pesona Gunung Bintan

Satu lagi, yang bikin semangat, saweran yang diperoleh saat tampil, jadi sumber pemasukan sanggar, untuk memenuhi memenuhi berbagai kebutuhan.
Mulai dari perlengkapan hingga kostum yang digunakan dalam pertunjukan.

Harapan terbesar Nano, kesenian kuda kepang ini, terus berkembang dan tetap ada di hati masyarakat.

Berpuasa hingga Semedi
Sementara itu, Rohim, salah seorang pegiat dan juga pendiri kuda kepang di Tanjungpinang, bercerita kepada Posmetrobatam.co, Senin (5/10), tentang kisah perjalanannya mendirikan sanggar Turonggo Asri Bawono.

Sebelum menetap di Tanjungpinang, ia sudah mengenal dan memainkan kuda kepang ketika masih berada di tanah Jawa.
Sekitar 2018, ia merantau ke Tanjungpinang. Entah kenapa, Rohim mengaku tak pernah bisa meninggalkan kesenian kuda kepang itu.

Rohim pun bergabung di salah satu sanggar kuda kepang yang ada waktu itu. Sempat vakum karena pengurusnya juga tidak terlalu aktif.

Sekitar 2022, Rohim mulai kembali aktif di kuda kepang di Tanjungpinang. Awalnya ia bergabung sebagai anggota dan membantu kegiatan kelompok seni.

Dari kisah itu, perjalanan baru dimulai. Beberapa orang mendesak Rohim untuk mendirikan sanggar kuda kepang. Lalu, beberapa anak muda mulai tertarik dan ikut bergabung di sanggarnya. Sanggar itu diberi nama Turunggo Asri Bawono.

“Bermula dari sanggar, saya ingin melestarikan kesenian tradisional kuda kepang ini. Apalagi ini peninggalan nenek moyang kita zaman dahulu. Jadi harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya, sebelum kesenian ini diklaim negara lain,” ungkapnya penuh optimis.

“Menurut saya, kuda kepang ini bukan hanya sekedar sebuah kesenian. Tapi, tempat kita bertemu saudara di perantauan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kesenian kuda kepang juga bisa menjadikan generasi muda Tanjungpinang, lebih mencintai warisan budaya leluhur.

“Awalnya, anggota sanggar Turunggo Asri Bawono hanya ada 6 sampai 8 orang. Sekarang alhamdulillah ada 50 orang. Rata-rata masih pelajar. Terutama para penarinya,” sebut Rohim.

Para anggota senior, lebih banyak berperan membimbing generasi muda.
Mereka tidak hanya mengajarkan gerakan tari, tetapi juga berusaha menjaga agar anak-anak muda memahami nilai dan tradisi yang melekat pada kesenian tersebut.
“Kami yang tua ini istilahnya menuntun arahnya agar tetap terarah,” katanya.

BACA JUGA:  Terpilih Menjadi Ketum KONI Kepri secara Aklamasi, Usep RS Bilang Begini

Perlu diketahui, untuk bergabung di sanggar kesenian Turonggo Asri Bawono, ada proses yang harus dilalui secara bertahap.

Pertama, mereka yang ingin bergabung, akan diperkenalkan dengan tata krama, sopan santun dan aturan dalam kelompok.

Setelah itu, kemampuan dan kesanggupan mereka, apakah punya bakat atau tidak.
“Kalau mereka mampu, mereka menjadi penarinya. Kalau tidak mampu, mereka hanya bergabung menjadi anggota,” jelasnya.

Meski dinilai tidak punya kemampuan sebagai penari, anggota lainnya tetap memiliki peran dalam mendukung kegiatan kelompok.

Masih menurut Rohim, bergabung sebagai penari kuda kepang, tak hanya sekedar dituntut bisa menari. Tapi, ada tradisi yang harus dijalani setiap anggota.

Salah satunya adalah puasa Senin-Kamis. Puasa ini penting, kata Rohim. Karena puasa adalah bagian dari persiapan spiritual dan pembinaan diri bagi pemain tertentu.

Tradisi ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Mereka akan dilihat terlebih dahulu, dan dibimbing.

“Kalau puasa Senin-Kamisnya kuat, dan sudah terbiasa, baru ke tahapan puasa berikutnya, yaitu puasa mutih,” tuturnya.

“Di tahapan puasa ini, kita akan lebih ketat. Kita lihat dulu apakah mereka sanggup atau tidak melaksanakannya. Karena rata-rata penarinya pelajar,” sebut Rohim lagi.

Tahapan ekstrim berikutnya, anggota penari kuda kepang harus menjalani ritual sunyi. Disini, biasanya kita mencari lokasi yang jauh dari keramaian. Misalnya seperti di Gunung Bintan.

Terakhir, Rohim menyebutkan, setiap kali kuda kepang tampil di depan umum, peran seorang pawang sangat penting.

“Sebelum pertunjukan kuda kepang dimulai, harus ada ritual bakar kemenyan. Ini dilakukan sebagai tanda permohonan izin pada leluhur, agar permainan berjalan lancar tanpa ada hambatan. Tak hanya itu, pawang penari kuda kepang, bertugas menjaga kondisi di lapangan, agar pertunjukan tetap terkendali, terutama ketika ada pemain yang mengalami kondisi tertentu. Seperti kesurupan. Maka pawang akan cepat bertindak.”

Kesenian yang Memiliki Daya Tarik

Rizki Dwi Saputra, Siswa Kelas IX SMP Negeri 7 Tanjungpinang jadi penari Kuda Kepang sejak masih sekolah TK.

Seulas senyum manis terukir di sudut bibirnya, ketika ditanya sejak kapan tertarik bergabung di kesenian kuda kepang?

“Sejak masih sekolah TK,” jawab
Rizki Dwi Saputra, siswa kelas IX SMP Negeri 7 Tanjungpinang, putra Rohim saat berbincang dengan Posmetrobatam.co, Senin (5/10).

BACA JUGA:  PAN Dukung Pasangan Ayang di Pilkada Kepri, Nyanyang: Akan Ada Penambahan Partai Lagi

Di antara para anggota, Rizki adalah anggota Turonggo Asri Bawono paling kecil, waktu itu.

“Dia masih sekolah TK sudah sering ikut tampil menari kuda kepang, waktu itu,” sebut Rohim dengan bangga.

Kata Rizki, ia tertarik bergabung di kuda kepang binaan orang tuanya sendiri, lantaran ingin ikut menjaga keberlangsungan kesenian kuda kepang.

Baginya, kesenian tradisional memiliki daya tarik tersendiri karena berasal dari budaya nenek moyang sejak dahulu.

“Aku merasa tertarik di kesenian kuda kepang ini, karena rasa ingin mendukung budaya sendiri,” ujar Rizki penuh antusias.

Ketertarikannya terhadap kuda kepang juga tumbuh sejak kecil. Ia sudah mengenal kesenian tersebut dari sang ayah, dan ikut bergabung jadi penari cilik.

“Saya ikutan ayah main kuda kepang sejak TK sampai sekarang. Alhamdulillah teman-teman juga merespon dengan baik. Sekarang setelah duduk di bangku SMP, teman-teman suka tanya jadwal kapan tampil,” kata Rizki penuh antusias.

“Kapan kau tampil? Kapan main?” begitu kira-kira pertanyaan yang sering diterimanya.

Menurutnya, dengan respon sederhana itu menunjukkan bahwa teman-temannya itu tertarik dengan pertunjukan kuda kepang.

Tapi, di sisi lain, ketika ada yang bertanya soal syarat bergabung di sanggar kuda kepang, teman-temannya itu justru berpikir seribu kali, karena syaratnya memang berat. Ada proses panjang yang harus dijalani.

Ia sendiri mulai mengenal lebih jauh berbagai tradisi yang menyertai kesenian tersebut, ketika duduk di bangku SMP.

“Meski saya bergabung di sanggar kuda kepang sejak TK, tapi saya mulai belajar menjalankan syarat-syarat ritualnya sebagai penari kuda kepang, ketika sudah duduk di bangku SMP,” pungkasnya.(aiq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *