karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam
Mobil HRV keluaran terbaru yang dihadiahkan Cahyo untuk Rihana, tiba di depan rumah.
Rihana menyambutnya dengan suka cita dan riang gembira.
Seorang pemuda yang tak lain sales mobil Honda, memberikan selembar kwitansi pembayaran mobil itu ke tangan Rihana.
“Ini buku service nya ya Bu. Silakan dibawa ke bengkel Honda kami, secara berkala sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.
“Jangan sampai lewat dari ketentuan ya Bu, service nya?” sebut pria muda itu pada Rihana.
Rihana menganggukkan kepalanya.
Tak lama, Riko dan Gilang, langsung menelisik ke dalam mobil memeriksa isi nya.
“Ma……ini mobil Mama dari Papa Cahyo beneran?” tanya Riko yang tampak tak percaya.
“Iya sayang. Ini kata Papa Cahyo, mobilnya ini buat kado ultah mama.” sebut Rihana dengan bangganya.
Rihana pun langsung ikutan memeriksa isi dalam mobil baru mewah itu.
“Subhanallah. Mimpi apa aku kemarin ya, sampai dikasih mobil sama Papa Cahyo,” celetuk Rihana.
“Baik banget ya Ma. Papa Cahyo,” Riko lagi-lagi memuji Cahyo.
Cahyo yang baru muncul langsung ikutan gabung masuk ke mobil baru itu, memeriksa isi dalamnya.
“Tes Drive kemana kita?!” tanya Cahyo penuh bangga, karena berhasil memberikan kado spesial buat Rihana.
“Yuk. Ma. Kita tes drive ke Malioboro,” ajak Riko spontan.
Cahyo yang mendengar usulan Riko juga menyatakan setuju, sembari meminta Rihana langsung yang mengemudikannya.
“Yuk Ma. Ya……pengen ke Malioboro lagi, kita makan siang disana aja Ma,” pinta Riko setengah mendesak.
Diliriknya Gilang. Gilang masih menunjukkan sikap dingin. Rihana menduga, pikiran Gilang masih fokus ingin ketemuan sama Bagas.
Sepertinya selama belum ketemu Bagas, Gilang tak akan berubah. Kalau pun Gilang terlihat senang dengan hadiah mobil yang didapat Rihana, Gilang hanya menunjukkan rasa senang yang sekedarnya saja.
“Cepet Ma. Kita ke Malioboro.” desak Riko. Hingga akhirnya Rihana menuruti apa permintaan Riko.
Cahyo, duduk santai di samping Rihana. Sedangkan Riko dan Gilang, duduk di belakang.
“Makasih ya Mas. Kamu sudah menjadikan aku ratu kamu!” ucap Rihana pelan.
Tak disangka Cahyo malah terlelap di samping Rihana yang sedang fokus mengemudi.
“Hmmm. Diajak ngobrol malah bobok dia,” ucap Rihana.
Dilihatnya Riko dan Gilang juga ikutan terlelap.
“Hmm….kalian kok kompak, malah tidur semua. Terus aku ngobrol sama siapa nih?!” celetuk Rihana yang ngomong sendiri, tak ada yang meresponnya.
Satu jam kemudian, mobil baru yang dikemudikan Rihana itu, sampai di taman kota Malioboro. Tempat biasa Riko dan Rihana cari tempat tongkrongan.
“Parah kalian ini ya, aku di jalan tadi ngobrol sendiri kayak orang gila. Kalian malah kompak tidur.” celetuk Rihana terdiam.
Riko, justru terkekeh.
“Soalnya enak Ma, naik mobil baru, nggak terasa kalau waktu lagi tidur. Bahkan, perasaan aku tadi, aku tidur di rumah.” jelas Riko panjang lebar.
“Dasar! Kalian nggak sopan.” sahut Rihana seenaknya.
Setelah menikmati makan siang bersama, di salah satu rumah makan, akhirnya Rihana membawa keluarga kecilnya itu, pulang ke rumah.
****
“Mas, makasih ya hadiahnya. Rasanya berarti banget bagi aku. Ini mobil mewah impian aku.” ucap Rihana yang mengecup lembut kening Cahyo yang sedang tertidur pulas.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 wib, mata Rihana tak ingin terpejam.
Pikirannya kini tertuju ke Gilang. Dia nggak tahu harus bagaimana untuk membuat Gilang tersenyum. Karena Rihana tahu, obat yang paling manjur buat Gilang tak lain adalah bertemu Bagas.
“Tapi kemana aku harus mencarinya?!” Rihana gelisah.
Iseng dilihatnya lagi chat beberapa waktu lalu yang dikirimkan Rihana ke nomor ponsel Bagas.
Tapi, chat itu masih centang satu. Fix, Rihana menduga, Bagas memang ingin menghilang untuk sementara waktu.
“Apa semua ini buntut dari pencalonan Bagas yang gagal kemarin ya? Rumah Bagas yang mentereng itu menurut Gilang juga bakal disita. Ya Allah kalau memang Bagas sedang mengalami kesusahan, tolong bantu dia ya Allah. Setidaknya, aku berdoa ini, karena Bagas itu papa dari anak-anak aku.” Rihana menarik nafas dalam-dalam. Lalu melepasnya ke udara bebas di kamar nya itu.
Diliriknya jam dinding di kamar, menunjukkan pukul 03.30 wib.
Rihana iseng jalan ke kamar Gilang. Dilihatnya Gilang duduk termenung di tempat tidurnya.
Gilang tak menyadari, kalau diamnya itu ada yang memperhatikan. Rihana mengintip dari balik pintu kamar Gilang.
Anak bujangnya itu,. diam-diam memandangi foto Bagas yang ada di ponselnya.
“Papa kenapa menghilang dari aku?!” ucap Gilang lirih.
Mendengar itu, batin Rihana perih.
“Ya Allah…..anak aku itu rindu sama Papa nya. Sabar ya Gilang. Allah akan mempertemukan kalian lagi di waktu yang tepat,” batin Rihana.
***
Rihana terkejut, pagi-pagi Gilang ngomong pengen ke Jakarta, menemui Bagas.
“Boleh ya Ma.” pintanya penuh harap.
Rihana masih terpaku dengan permintaan Gilang yang sedikit nggak masuk akal.
Sebab, keberadaan Bagas hingga kini juga belum diketahui dimana rimbanya.
“Sayang, bukan Mama melarang. Cuma, yang jadi pertanyaan. Papa Bagas sekarang kan katanya lagi ada kerjaan di luar kota. Ponselnya juga nggak aktif. Terus kalau Gilang terbang ke Jakarta, mau ketemu siapa dong disana?!” kata Rihana hati-hati mengatakan itu.
Gilang tampak masih tak terima dengan penjelasan Rihana.
“Ya kalau nggak ketemu, Gilang balik lagi Ma ke Jogja?” kata Gilang berusaha meyakinkan Rihana.
Tapi, bagaimana pun juga Rihana tidak bisa melepas Gilang begitu saja. Apalagi saat ini kondisi Gilang sedang tidak baik-baik saja.
“Sebaiknya, Gilang harus janjian dulu sama Papa Bagas. Kalau memang Papa Bagas bisa dijumpai, baru Gilang boleh terbang ke Jakarta. Bukan berarti Mama melarang kamu ya sayang. Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa di Jakarta itu bukan kota kecil sayang.” kata Rihana mencoba memberi pengertian ke Gilang, untuk yang kesekian kalinya.
Gilang masih terlihat kecewa dengan penjelasan Rihana.
“Oke Ma. Gilang coba berusaha hubungi Papa Bagas dulu. Kalau memang sudah oke. Gilang terbang ke Jakarta ya Ma.” kata Gilang, yang terlihat terpaksa mengatakan itu ke Rihana.
“Nah. Begitu sayang. Nanti kalau sudah oke, janjian sama Papa Bagas, Mama pasti akan izinkan Gilang terbang ke Jakarta.” tambah Rihana.
Tak lama, Gilang beranjak pergi meninggalkan Rihana.
“Sedih aku Mas, lihat Gilang. Sampai sekarang dia masih fokus kepikiran mau ketemu sama Bagas. Berarti banget keberadaan Bagas di hidup anak aku yang satu itu.” Rihana curhat ke Cahyo.
“Iya aku juga prihatin. Aku doakan suatu hari dia bisa ketemuan sama Bagas lagi. Bagaimana pun, Gilang itu darah dagingnya Bagas.” balas Cahyo.
“Coba tanya ke Gilang, Ri. Mau nggak nanti malam kita nonton yuk bioskop. Kita nonton film terbaru, Seni Merayu Tuhan!” sebut Cahyo yang ingin melihat Gilang tersenyum.
“Iya ya Mas. Ide bagus. Oke nanti akan aku tanya ke dia. Semoga dia mau ya.” ucap Rihana.
***
Tiba-tiba Rihana kedatangan tamu tak diundang pagi ini. Siapa lagi, kalau bukan Zulaikha.
Karena, demi mencari perhatian Cahyo, dia rela menyewa rumah di dekat rumah kontrakan Cahyo dan Rihana.
Saat Zulaikha berdiri di ambang pintu ruang tamu, Rihana terperangah.
“Ngapain perempuan sialan ini pagi-pagi ke rumah.” gumam Rihana kesal.
Tapi, karena Zulaikha bertamu dengan cara baik-baik, akhirnya Rihana menerima kedatangan Zulaikha dengan terpaksa.
“Mbak…..boleh aku masuk?” tanya Zulaikha yang sedikit bertingkah aneh pagi ini.
“Oh silakan.” kata Rihana acuh tak acuh.
“Mbak. Aku menyesal. Minta maaf ya kalau selama ini sudah menyakiti kamu,” ucapnya terlihat penuh penyesalan.
“Mbak. Aku cuma mau antar kue ini Mbak. Kamu kan ulang tahun ya Mbak kemarin. Maaf aku telat kirim kue ini buat kamu.” sebut Zulaikha pelan.
“Terima ya Mbak?!” pinta Zulaikha memohon.
“Aneh. Baru kali ini aku musuhan sama orang, terus orang itu kasih aku kue. Lucu banget sih. Konyol!” batin Rihana tak habis pikir.
“Maafin ya Mbak. Aku menyesal,” ucap Zulaikha.
Awalnya Rihana tak ingin memaafkan perempuan sialan itu. “Ini jebakan atau memang tulus mau minta maaf atau apa ya.” Rihana masih tak ingin percaya begitu saja dengan pengakuan Zulaikha.
“Jangan-jangan dia punya niat terselubung,” Rihana curiga.
“Mbak…..terima atau nggak terima permohonan maaf aku, itu terserah sama Mbak Rihana. Namun, yang pasti aku minta maaf dari hati yang terdalam. Selamat ulang tahun ya
Mbak,” kata Zulaikha. Kue cake ultah buat Rihana itu pun diletakkan begitu saja di atas meja ruang tamu Rihana.
Sepulangnya Zulaikha, Rihana membuang kue itu ke tong sampah. Dia tak mau menyentuh pemberian Zulaikha.
“Ada-ada saja sih. Musuh tapi ngasih kue ultah.” Rihana terkekeh.
Sebelum membuang kue itu ke tong sampah yang ada di dapurnya, Rihana mengabadikan kue itu, terlebih dahulu, untuk ditunjukkan ke Cahyo.
Cahyo juga tak kalah heran dengan Rihana.
“Hah kok bisa dia nganter kue itu..Hmmm. Jangan-jangan dia itu kesurupan tak ya. Hahahaha?” seloroh Cahyo sembari melepas tawa di ujung ponselnya.
“Masih sibuk ya Mas di kantor?” tanya Rihana kemudian.
“Nggak juga. Ada rapat kecil saja. Sebentar. Ya sudah ya sayang. Aku lanjut kegiatan aku di kantor.” pungkas Cahyo.(*)













