PT PLN Unit Induk Transmisi Batam menyampaikan rencana besar transisi sistem kelistrikan di Pulau Batam dalam sebuah forum sosialisasi bertajuk “Cetak Biru Kelistrikan Masa Depan”, dalam pelatihan jurnalistik Posmetro Batam yang bekerjasama dengan PT PLN Batam, Kamis (10/9) lalu.
Dalam paparan Manajer Transmisi PT PLN Batam, M Affandi memperkenalkan skema yang mereka sebut sebagai “Skenario Hijau 2034”, sebuah peta jalan sepuluh tahun untuk mengubah komposisi energi listrik di Batam sekaligus menjaga kestabilan jaringan di tengah lonjakan kebutuhan yang disebut memasuki fase hyper-growth.
Menurut paparan yang disampaikan, beban puncak kelistrikan Batam tercatat sebesar 690 megawatt (MW) pada 2024, hasil dari pertumbuhan organik rata-rata 6,4 persen per tahun sejak 2015. Namun proyeksi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menunjukkan lonjakan tajam hingga 10,69 persen per tahun, dengan beban diperkirakan menembus angka 6 gigawatt (GW) pada akhir periode tersebut.
“Kapasitas pembangkit lokal yang ada saat ini tidak dirancang untuk membendung gelombang permintaan baru tanpa perombakan arsitektur jaringan secara menyeluruh,” demikian disampaikan Affandi dalam materi resmi PLN Batam, merujuk pada kesenjangan kapasitas yang kian melebar.
Data Center dan Industri Jadi Pendorong Utama
Salah satu faktor pendorong lonjakan permintaan tersebut adalah pertumbuhan sektor digital di kawasan Batam. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, yang digadang menjadi episentrum data center Tier 3 dan Tier 4, diproyeksikan membutuhkan pasokan hingga 1.075 MVA — melampaui total beban puncak historis seluruh Batam.
Kebutuhan itu ditambah proyeksi permintaan dari KEK Kabil sebesar 85 MVA untuk ekspansi industri manufaktur.
Kedekatan geografis Batam yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Singapura disebut menjadi katalis utama masuknya investasi digital tersebut, dengan syarat pasokan listrik yang andal tanpa jeda (zero downtime) serta komitmen terhadap energi hijau seratus persen dari para pelaku industri skala global.
Target Bauran Energi Bersih 29,4 Persen
Berdasarkan data 2024, komposisi energi Batam masih didominasi gas sebesar 83,94 persen dan batu bara 15,86 persen, sementara energi baru terbarukan (EBT) baru menyumbang 0,11 persen. PLN Batam menargetkan pada 2034 porsi EBT dapat naik menjadi 29,4 persen, seiring penurunan porsi batu bara menjadi 19,8 persen dan gas menjadi 50,8 persen.
Strategi tersebut ditempuh antara lain melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di area Waduk Duriangkang berkapasitas 492 MWp dan Waduk
Tembesi berkapasitas 168 MWp, serta interkoneksi kabel bawah laut dari Sumatera yang ditargetkan beroperasi pada 2031 dengan kapasitas impor energi bersih mencapai 700–1.200 MW melalui jaringan SUTET/GITET 275 kV.
Tantangan Stabilitas Jaringan
Di sisi lain, PLN Batam turut mengakui adanya risiko teknis dari masifnya penetrasi energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti PLTS. Pemodelan yang dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan penurunan Indeks Kekuatan Sistem apabila penetrasi PLTS tidak diimbangi mitigasi yang memadai, dengan ambang aman penetrasi berada di bawah 3 persen kapasitas tanpa menyebabkan gangguan frekuensi.
Untuk mengatasi hal tersebut, PLN Batam menyatakan komitmen membangun Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas total 725 MW, yang berfungsi sebagai penyeimbang fluktuasi pasokan sekaligus menghadirkan virtual inertia — respons elektronik dalam hitungan kurang dari 200 milidetik untuk mencegah pemadaman saat terjadi gangguan pada pembangkit.
Eksekusi Bertahap hingga 2034
Peta jalan tersebut dibagi ke dalam tiga fase eksekusi: Fase Penetrasi Awal (2025–2028) yang mencakup pembangunan PLTS Tembesi 35 MW dan BESS tersebar 15–100 MW; Fase Interkoneksi dan Eskalasi (2029–2032) yang menandai beroperasinya kabel bawah laut Sumatera-Batam; hingga Fase Kematangan Sistem Cerdas (2033–2034) di mana target bauran EBT 29,4 persen ditargetkan tercapai secara penuh.
“Pertumbuhan tanpa stabilitas adalah krisis. Stabilitas tanpa energi hijau adalah masa lalu. Batam merangkul ketiganya sebagai masa depan,” demikian pernyataan penutup dalam paparan resmi PLN Batam, yang menyebut Batam-Bintan berpotensi menjadi rujukan transisi kelistrikan industri di kawasan Asia Tenggara.(*)
(Abraham Imanuel, Siswa SMAN 20 Batam)









