Menyalakan 22 Persen Batam-Bintan dari Gas Bumi Kepri: PLTGU Tanjung Uncang, Efisiensi Kelas Nasional

Sesi foto bersama usai pelatihan jurnalistik di SMA N 20 Batam yang digelar Posmetro dan PLN Batam.

KETIKA warga Batam dan Bintan menyalakan lampu di rumah, sebagian listriknya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Uncang milik PLN Batam. PLTGU ini menyumbang 22% dari kebutuhan listrik Batam-Bintan.

Bagaimana PLTGU Tanjung Uncang Mencukupi Kebutuhan Listrik Batam-Bintan? PLN PLN Batam membangunnya dengan dua turbin gas dan satu turbin uap, berkapasitas 120 megawatt. Bila seluruh mesin bekerja tanpa henti, hasilnya 2.880 M W h / hari. Jika dihitung secara sederhana dari rata-rata konsumsi rumah tangga, jumlah itu memang berpotensi untuk menyalakan ratusan ribu rumah di Kepulauan Riau.

Sejarahnya tak terlalu panjang. Tahun 2017 ia mulai menunjang kelistrikan Batam, lalu 12 Desember 2019 bagian siklus gabungannya resmi beroperasi.

Gas dari Perairan Sendiri

Bahan bakarnya ada banyak di Batam, dan itu kekuatan utamanya. Sebagian besar gas alam diproduksi di perairan Kepulauan Riau itu sendiri, dari Lapangan Blok A di Laut Natuna, lalu mengalir lewat pipa darat ataupun lepas pantai ke mesin pembangkit. Medco Power… Tidak ada kapal tangker antarnegara, tidak ada kekhawatiran harga dunia, pasokannya stabil setiap hari, dan biayanya lebih terkendali.

Tak jauh dari sana, ELB mengoperasikan pembangkit swasta PLTG Tanjung Uncang berkapasitas dua kali tiga puluh lima megawatt. Medco Power… Pada tahun-tahun berikutnya pembangkit itu dikonversi menjadi siklus gabungan dengan turbin uap tambahan tiga puluh sembilan megawatt, sehingga kontrak pasokannya kepada PLN Batam naik menjadi seratus sembilan megawatt.

BACA JUGA:  Metro Forum Bersama Bacawagub Kepri Nyanyang Haris Pratamura

Juara Efisiensi

Kini soal angka yang paling membanggakan. Menurut data internal PLN Batam, Tanjung Uncang pernah menempati peringkat pertama nasional dalam koefisien efisiensi energi yang susutnya paling kecil se-Indonesia.

Bagaimana caranya? Gas buang dari turbin gas, yang pada pembangkit biasanya langsung dilepas begitu saja, justru disalurkan ulang untuk memanaskan air. Uap panas itu lalu menggerakkan turbin uap dan melahirkan listrik tambahan. Prinsip pemanfaatan panas sise inilah yang menjadi fokus kajian Sergeev dan kolega dalam studi efisiensi pembangkit siklus gabungan.

Dan sains mendukung praktik di lapangan: lembaga riset Uni Eropa mencatat efisiensi siklus gabungan berada di kisaran lima puluh dua hingga enam puluh persen [1], angka yang jauh melampaui pembangkit siklus sederhana [5]. PLTGU Tanjung Uncang membuktikan angka itu bukan sekadar teori.

Dari Kerja Sama, Lahir Prestasi

Efisiensi sekelas itu tidak lahir dari mesin semata. Ia lahir dari orang-orang yang setiap pagi memeriksa, menjaga, dan merawat.

Tim operasi dan pemeliharaan bekerja dalam kerja sama yang erat, pemeriksaan rutin, perawatan berkala, kesiapsiagaan teknisi siang dan malam. Di luar pagar pembangkit, kerja sama yang terjalin antara PLN Batam, ELB, dan para pemasok gas. Semuanya berkomitmen menjaga keandalan listrik Batam-Bintan, sejalan dengan target Indonesia mencapai emisi nol bersih pada tahun dua ribu enam puluh [3][4].

BACA JUGA:  Energi Masa Depan Batam, Menjamin Kelistrikan Lebih Andal

“PLN Batam siap, tentu saja kami ingin memberikan kontribusi yang lebih baik lagi, dan menciptakan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan,” ujar Direktur Utama PLN Batam Muhammad Irwansyah Putra.

PLN Batam – Dari gas di perairan sendiri, dari tangan-tangan yang merawat mesinnya, listrik itu mengalir senyap, sampai ke saklar rumah warga.(*)

(Hamdan Abdhadi, Siswa SMA N 20 Batam)

Daftar Pustaka
A. Jurnal terindeks (terverifikasi, DOI aktif)

[2] Sergeev, V., Anikina, I., & Kalmykov, K. (2021). Using Heat Pumps to Improve the Efficiency of Combined-Cycle Gas Turbines.Energies, 14(9), 2685.

https://doi.org/10.3390/en14092685

[3] Gulagi, A., Oyewo, A. S., Bogdanov, D., Simamora, P., Tampubolon, A., Pujantoro, M., Godron, P., Tumiwa, F., & Breyer, C. (2025). Accelerating the transition from coal to

renewables in Indonesia to achieve a net-zero energy system. IET Renewable Power Generation, 19(1), e13188. https://doi.org/10.1049/rpg2.13188

B. Laporan lembaga (grey literature, otoritas S/A)

[1] European Commission — Joint Research Centre (2012). Efficiency of Heat and Electricity Production Technologies (efisiensi CCGT 52–60% LHV).

BACA JUGA:  Gas di Balik Terangnya Batam, Mengintip Kerja PLTGU Tanjung Uncang
https://publications.jrc.ec.europa.eu/repository/bitstream/JRC70956/jrc%20efficiency%20of%20heat%20and%20electricity%20production%20technologies%20final%20revision

%2020121115%20online.pdf

[4] IRENA (2022). Indonesia Energy Transition Outlook 2022.

https://www.irena.org/-/media/Files/IRENA/Agency/Publication/2022/Oct/IRENA_Indonesia_energy_transition_outlook_2022.pdf

[5] IPIECA (2022). Combined-cycle gas turbines (Energy Efficiency Compendium). https://www.ipieca.org/resources/energy-efficiency-compendium/combined-cycle-gas-

turbines-2022

C. Sumber primer (situs resmi perusahaan)

  1. plnbatam.com — kapasitas 120 MW (2 turbin gas + 1 turbin uap), COD simple cycle 15 November 2017, COD combined cycle 12 Desember 2019, pasokan 22% dari beban

puncak Batam-Bintan 450 MW (data per 2020), komitmen net zero emission 2060, kutipan Direktur Utama PLN Batam Muhammad Irwansyah Putra.

  1. medcopower.com (Medco Power) – pasokan gas ELB: PGN 15 BBTUD pipa darat + 9,18 BBTUD lepas pantai, serta Premier Oil Blok A Natuna 20 BBTUD; kepemilikan PLTG

Tanjung Uncang 70 MW dan konversinya menjadi PLTGU 109 MW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *