Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Riko dan Gilang tampak bahagia, hari ini. Apalagi Gilang, yang terlihat kegirangan, karena ditraktir Cahyo, makan KFC.
Melihat itu, rasanya Cahyo tak kuasa ingin menceritakan tragedi hari ini bahwa rumah mewah mereka diambil ayahnya, Bagas.
“Mas dimana? Sudah jemput Riko dan Gilang kan?!” tanya Rihana dengan perasaan gelisah.
“Sudah. Aku minta waktu sebentar ya sayang. Aku lagi cari cara bagaimana cerita kepada dua orang ini. Biar mereka nggak sedih.” kata Cahyo lewat chat.
Rihana membalas pesan Cahyo dengan emoticon orang menangis. Setelah membuka pesan balasan dari Rihana, Cahyo meletakkan ponselnya. Bersiap hendak mengatakan semuanya pada Riko dan Gilang.
“Riko….Gilang. Papa dan Mama kan mau pindah ke Jogja. Kalian mau ikutan pindah nggak? tanya Cahyo.
“Mau dong Pa!” jawab Riko dan Gilang kompak.
“Oh ya udah…..sebelum pindah ke Jogja. Kita liburan dulu di sini. Soalnya nanti kan kalau sudah pindah ke Jogja, kalian pasti rindu kota ini. Jadi, kalian puas-puasin ya di kota ini. Mau nggak?” tanya Cahyo lagi penuh antusias.
Riko dan Gilang kembali menjawab dengan kompak!
“Mau pakai banget Pa!”
Cahyo lega. Dia berpikir, sepertinya cerita soal rumah mereka diambil Bagas itu, nggak perlu diceritakan.
“Oke kalau begitu, kita jemput mama kamu di hotel, terus kita keliling Jakarta. Ke tempat-tempat yang kalian mau.” jelas Cahyo.
Riko sedikit bingung.
“Lho. Mama di hotel ya Pa. Ada acara?!” tanya Riko.
“Iya mama kamu ada acara. Dia menginap di hotel kali ini. Nanti kalian papa sewain satu villa, buat kalian ya. Di sebelahnya, ada mama sama Papa.” sebut Cahyo.
Riko percaya saja apa yang dikatakan Cahyo.
“Oke Pa. Mau Pa.” jawab Riko tanpa bertanya lagi.
Akhirnya mereka bertiga menuju ke hotel dimana Rihana menginap.
Sebelum Riko dan Gilang bertemu Rihana, Cahyo berpesan pada Rihana, tak perlu bercerita soal rumah mereka yang diambil Bagas.
“Nanti aku cerita ya soal ini. Tapi kumohon jangan singgung-singgung soal rumah yang diambil Bagas. Nanti mereka sedih.” kata Cahyo lewat pesan singkatnya.
“Oke. Mas,” balas Rihana.
“Beuh kalian pesta KFC ya sama Papa,” kata Rihana, saat Riko dan Gilang sudah sampai di villa.
“Ma. Tumben mama mau menginap di Villa. Biasa, Riko yang ajak, mama ada aja alasannya. Padahal, Riko waktu itu pengen banget liburan di villa, kayak kawan-kawan Riko,” protes Riko.
“Hmmm. Boleh kan sesekali mama pengen liburan.di villa. Kan sekarang ada temannya, papa Cahyo,” kata Rihana yang melirik ke arah Cahyo. Cahyo cuma senyum-senyum, mendengar itu.
Sebelum pembicaraan melebar kemana-mana, Cahyo buru-buru menelepon bagian resepsionis, untuk memesan satu villa lagi.
Seorang pria pelayan hotel bintang lima itu, datang mengantarkan kunci villa yang dipesan Cahyo.
“Selamat siang Pak. Dengan Pak Cahyo?!” tanya pelayan itu ramah.
“Iya benar.”
“Ini kunci untuk pemesanan satu villa lagi ya Pak.” ucapnya sembari menyerahkan kunci itu ke tangan Cahyo.
“Oke..Makasih ya Mas,” ucap Cahyo.
Cahyo langsung menyerahkan kunci itu ke Riko dan Gilang.
“Ini kalian istirahat di sebelah ya,”
Riko dan Gilang pun terlihat kegirangan menerima kunci itu. Keduanya bergegas meninggalkan Cahyo dan Rihana, berlari ke sebelahnya.
“Kalian kalau perlu apa-apa, pencet belnya ya….Ini disini!” Cahyo memberi petunjuk ke Riko dan Gilang.
“Oke. Pa. Ma.” sahut Riko.
“Kami mau langsung renang Ma ya!” celetuk Gilang yang memang terlihat selalu riang.
“Terserah kalian.” jawab Rihana.
Selepas kedua anak sambungnya itu pergi, Cahyo buru-buru menutup kamarnya. Menguncinya dari dalam.
Seperti biasa. Dia akan menarik paksa tangan Rihana. Lalu mengajaknya bermain di atas ranjang, sampai beberapa ronde.
“Sayang. Aku penasaran. Tadi kamu cerita ke Riko dan Gilang, cerita apa soal rumah yang diambil Bagas?” tanya Rihana yang masih dalam dekapan Cahyo, tanpa sehelai benangpun. Mereka baru menyelesaikan permainan ranjang itu, satu ronde.
“Cerita nggak ya!” canda Cahyo.
“Ceritain dong!” pinta Rihana penasaran.
“Nggak mau sekarang. Sekarang aku mau ronde keduanya aja!” goda Cahyo yang coba melarang Rihana menutup tubuh indahnya itu.
“Ih apaan sih! Orang belum selesai permainannya. Ini mau ditutup aja!” Cahyo menyibakkan selimut yang hendak ditutupkan Rihana, ke tubuhnya.
“Ceritain dulu sayang. Penasaran nih!” pinta Rihana lagi.
Cahyo sepertinya tak peduli, sebelum ia menuntaskan hasrat kelelakiannya itu.
“Ugh sayang. Kamu cantik banget!” Cahyo mendesah, saat ia mencapai puncak kenikmatan itu.
Rihana pun menikmati permainan itu, sesuai permintaan Cahyo.
“Udah.kan…sekarang ceritain dong!” Rihana kembali memaksa Cahyo cerita soal kejadian tadi pagi.
“Ih nggak sabaran.” Cahyo masih berusaha merahasiakannya dari Rihana.
“Ih pelit!” Rihana merajuk.
“Ih tambah cantik kalau merajuk!” goda Cahyo. Hingga akhirnya, dia pun menceritakan pada Rihana.
“Jujur, aku nggak cerita apa pun soal rumah yang diambil Bagas. Aku tanya ke Riko dan Gilang. Mereka mau nggak kalau diajak pindah ke Jogja. Terus mereka berdua jawab, mau. Nah karena mereka bilang mau, jadi aku bilang ke mereka, sebelum pindah ke Jogja, aku ajak mereka liburan di jakarta ini, sepuas mereka. Mereka senang. Terus aku bilang, aku sewain villa buat liburannya. Mereka senang. Udah sih gitu aja..Terus kami pulang, langsung ke villa ini,” terang Cahyo panjang lebar.
“Cocok nggak sih kalau aku jadi kak Seto? Tukang dongeng anak kecil!” Cahyo melepas tawa. Spontan Rihana langsung mencubit paha Cahyo.
“Ih sakit tahu sayang!” pekik Cahyo. Tapi Rihana tak peduli. Dia justru mencubit paha Cahyo lagi untuk yang kedua kalinya.
“Ih ganas banget istri aku ini ya kalau mencubit!” protes Cahyo lagi.
“Jadi, sayang…..sepertinya kamu nggak perlu cerita ke Riko dan Gilang soal rumah yang diambil Bagas itu.” saran Cahyo.
“Iya sih Mas.” jawab Rihana.
“Kamu nggak mau kan, lihat mereka sedih?” ucap Cahyo.
“Lagian, seminggu lagi kita berangkat umroh. Terus, besok pagi, kita langsung tembak ke Jogja aja. Aku boking tiket pesawatnya sore ini. Sebelum berangkat umroh, kita harus cari rumah dulu di Jogja. Rumah sewa sementara. Anak-anak, kita ajak aja umroh bareng,” sebut Cahyo panjang lebar.
Rihana yang mendengar itu, seperti kena hipnotis. Dia terpana dengan pesona Cahyo.
“Ya Allah Mas. Seriusan?” Mau berapa biayanya kalau ber-empat berangkat umroh?!” Rihana tertegun.
“Biayanya dari Allah.” kata Cahyo dengan senyum bahagia.
“Kamu yang tenang sayang ya. Sekali lagi, aku cium kamu ya kalau masih mikirin soal biaya. Semua sudah aku sediakan. Intinya aku mau kamu dan anak-anak bahagia. Itu janjiku dalam hati.” Cahyo mengatakan itu penuh dengan rasa syukur.
“Semoga Allah balas kebaikan kamu ya Mas. Sekali lagi, aku hanya bisa bilang terima kasih untuk kado terindah pernikahan kita ini.” ucap Rihana penuh haru.
“Terimakasih nya udah yang ke seribu ini. Kalau sampai yang ke seribu satu kali, aku kurung kamu ya di villa ini. Nggak boleh keluar. Harus temani aku semalaman. Hahahahah!” seloroh Cahyo.
“Ih apaan sih?” Rihana tersenyum bahagia.(*)













