ISTRI PAJANGAN Bagian 65: Hari Pertama Jadi Istri Cahyo

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Pagi itu, seperti biasa. Rihana bangun pagi-pagi sekali, jam 04.00 wib. Menyiapkan segala keperluan dua anak lelakinya yang masih bersekolah. Riko di SMA dan Gilang masih duduk di bangku SMP.

“Ma….kalau Riko lulus SMA tahun depan, Riko mau kuliah di Jogja.” kata Riko.

Rihana setuju saja dengan saran anak bujangnya itu.
“Ya semua terserah sama kamu, Riko. Kan kamu yang jalani.” ucap Rihana.

“Lagi pula, insya Allah juga mama kan mau pindah ke Jogja juga, sama Om Cahyo.
“Wah……seriusan Ma. Terus sekolah Adik Gilang gimana? Dia kita tinggalin sendiri disini?” tanya Riko dengan polosnya.

“Enak aja. Main tinggal. Aku pokoknya ikutan sama Mama, kemana Mama pergi!” tiba-tiba Riko menjawab dengan nada protes.

Spontan Gilang melepas tawa. Dia merasa senang kalau melihat adiknya itu panik.

“Jahat banget jadi Abang. Nggak sayang sama adiknya!” kata Rihana yang terkesan membela Riko.

“Iya Ma. Bang Riko jahat banget jadi Abang!” tukas Riko lagi yang tiba-tiba memeluk Rihana.

“Eh ini malah peluk-peluk Mama. Sudah sana siap-siap. Kalian nanti berangkat ke sekolah sama Om Cahyo ya.” kata Rihana memberitahu keduanya.

“Ma. Sama Mama aja. Nggak enak kalau sama Om Cahyo. Belum terbiasa Ma soalnya.” protes Gilang, yang mengaku masih canggung berhadapan dengan Cahyo.

“Hmmm. Nanti lama-lama juga biasa.” sahut Cahyo yang tiba-tiba muncul.

“Eh Mas…..sudah bangun ya.” sapa Rihana yang juga merasa sedikit canggung pagi ini, karena pria itu kini sudah jadi suaminya.

“Aku buatin kopi ya, Mas,” kata Rihana. Riko dan Gilang pun menjauh dari keduanya, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

“Nanti kalau sudah siap, Papa antar ya kalian,” kata Cahyo penuh persahabatan pada kedua anak lelaki Rihana.

“Iya Om! Makasih ya!” kata Riko dan Gilang, kompak.

“Eh sini dulu kalian,” panggil Rihana yang menghentikan langkah keduanya.

“Mulai sekarang, kalian panggil papa ya sama Om Cahyo,” kata Rihana sambil melempar senyum ke arah Cahyo.

“Iya Ma. Oke!” kata keduanya kompak lagi, dan berlalu meninggalkan keduanya.
Cahyo yang mengetahui itu juga senyum-senyum.

“Kita persiapan berangkat Umroh dulu ya, sebelum aku pindah tugas ke Jogja!” sebut Cahyo memberitahu Rihana.

“Hah seriusan Mas?!” hati Rihana begitu bahagia mendengar ajakan Cahyo.

Rihana mendekati Cahyo. Lalu memeluknya erat.

“Eh udah berani peluk-peluk duluan ya sekarang!” goda Cahyo.
“Iya dong kan udah jadi hak milik. Hahahahah!” seloroh Rihana sembari melepas tawa.

“Hmmm. Sudah mulai berani nakal sama aku dia!” Cahyo mencoba menarik tangan Rihana, dan mengajaknya masuk ke kamar.

“Tunggu sayang..ini sudah mau jam 07.00 wib. Anak-anak mau berangkat ke sekolah. Nanti ya pas sepi,” bisik Rihana dengan nada menggoda.
“Yah……gagal!” seloroh Cahyo.

“Oh iya aku juga mau antar mereka ke sekolah,” ucap Cahyo menepuk jidatnya sendiri.

Rihana melihat itu senyum-senyum.
Akhirnya Cahyo juga bersiap mandi. Selepas itu dia hendak mengantarkan Gilang dan Riko ke sekolah masing-masing.

“Berapa hari Mas cuti kamu?” tanya Rihana.

“Insya Allah sebulan! Kan kita mah berangkat Umroh. Aku minta tambahan waktu, sembari kita persiapan pindah ke Jogja.” jelas Cahyo panjang lebar.

“Hah sebulan? Emang bisa selama itu cutinya Mas?” Rihana heran.

“Iya, kan aku mau pindah tugas. Terus aku juga minta izin mau berangkat Umroh bareng istri. Alhamdulillah kantor aku mengizinkan,” jelas Cahyo panjang lebar.

“Oh begitu. Syukurlah kalau memang seperti itu Mas.” kata Rihana, lega.

“Maaf ya Ri. Kamu harus ikut aku. Aku nggak mau pisah sama kamu.” ucap Cahyo, menatap lekat-lekat wajah Rihana.
Mereka berdiri berhadap-hadapan, hingga tak menyadari kehadiran Riko dan Gilang yang baru saja berdiri mematung di belakang Cahyo.

“Ma. Antarkan kami ke sekolah,” Gilang to the point. Cahyo pun sedikit malu-malu karena aksinya pagi itu dilihat Riko dan Gilang.

“Oh iya yuk. Let’s go!” Cahyo spontan langsung membalikkan badan, bergegas keluar menuju ke mobilnya.

Riko dan Gilang mengekori langkah Cahyo menuju mobil.

“Terimakasih ya Allah, rasanya ini seperti mimpi. Terimakasih ini hadiah terindah pernikahan aku dengan pria yang aku sayangi.” batin Rihana penuh bahagia.

Dia pun mulai mempersiapkan sejumlah pakaiannya dan pakaian Cahyo, yang akan dibawa ke tanah suci.

Tak lama, empat puluh menit kemudian, Cahyo sudah tiba lagi di rumah.

“Yuk. Kita lanjut adegan tadi yang tertunda!” Cahyo berusaha menghentikan aktifitas Rihana. Dia kembali menggoda Rihana.

“Ih tunggu sayang. Ini bajunya belum siap masuk ke koper,” Rihana pura-pura menghindar. Tapi, ajakan Cahyo tak bisa dia tolak.

Rihana pun terlena dalam permainan sebelas menitan itu.
“Aku bangga punya istri seperti kamu,” bisik Cahyo, setelah melepas hasrat kelelakiannya itu.

Rihana yang berusaha ingin mengakhiri permainan pagi itu, berusaha digagalkan Cahyo.

“Tunggu sayang. Kamu lebih cantik nggak pakai penutup sehelai benangpun. Aku masih mau lanjut sesi sebelas menit kedua.” bisik Cahyo yang masih menguasai tubuh molek Rihana, yang tanpa penutup sehelai benangpun.

Rihana lagi-lagi hanya bisa pasrah. Karena dia juga begitu merindukan permainan sebelas menit itu bareng Cahyo.

“Aku mau ada sebelas menit kelima?!” bisik Cahyo lagi.

Rihana hanya terdiam. Memandangi wajah pria itu penuh tatapan cinta yang membara.

“Makasih ya Mas kamu mau menerima aku apa adanya,” kata Rihana pelan, sembari melingkarkan tangannya di leher Cahyo.

“Sayang. Cukup sebelas menit kedua aja ya..Nanti jemput anak-anak gimana?” bisik Rihana pelan.

“Tunggu. Sekali lagi ya. Sebelas menit ketiga aja. Setelah itu aku jemput anak-anak,” kata Cahyo sembari melancarkan serangannya lebih dahsyat.

Dengan penuh gairah, Rihana membalas serangan-serangan Cahyo bertubi-tubi itu.

“Kamu masih cantik banget ya sayang. Luar dalam. Aku bangga memilih kamu,” bisik Cahyo lagi, penuh gairah.

“Sayang, jangan berubah ya selamanya kita kayak begini,” bisik Rihana, mesra.

Saat keduanya sama-sama berada di puncak, sebelas menit ketiga itu pun berakhir penuh kepuasan.

“Makasih ya sayang. Kamu sudah membuat aku bahagia hari ini,” ucap Cahyo sebelum akhirnya dia rebah di samping Rihana, yang terlihat buru-buru mengambil kain penutup tubuh indahnya itu.

Rihana balik mencium bibir Cahyo, lalu bergegas membersihkan diri ke kamar mandi.

“Sayang. Makasih ya kamu sudah jadi papa yang baik buat anak-anak aku,” kata Rihana kemudian, yang sudah terlihat segar, setelah mandi wajib.

Cahyo tersenyum. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Karena tak lama lagi, tugas menjemput Riko dan Gilang, sudah menanti.

Sepuluh menit kemudian, Cahyo sudah stay. Dia hendak menuju ke sekolah Riko dan Gilang.

“Sayang….hari ini kamu nggak usah masak ya. Aku jemput anak-anak, terus kita makan di restoran paling enak langganan kita.” kata Cahyo sembari mengecup kening Rihana.

“Oke.Mas. Aku juga siap-siap ya.” jawab Rihana.
Bicara soal restoran paling enak langganan mereka, tak lain adalah rumah makan Padang Panjang.


“Ma….Riko mau makan otak sapi ya nanti,” Rko tiba-tiba request dulu di perjalanan menuju rumah makan langganan Rihana dan Cahyo.

“Iya. Terserah kalian mau makan apa. Sikat aja! Selama papa masih punya uang, kalian jangan khawatir.” sahut Cahyo tampak dengan sikapnya yang kalem, pada Riko dan Gilang.

“Makasih ya Mas.” tiba-tiba Rihana menggenggam tangan Cahyo.

“Iya Ma…..! Aku ingin kalian bahagia,” ucap Cahyo, buat Rihana bangga, menjadi milik Cahyo.

“Ma. Jadi kapan pindah ke Jogja!” tiba-tiba Gilang bersemangat bicara soal rencana kepindahan Rihana ke Jogja.

“Tanyain Papa kamu, kan Mama cuma ikutan aja, kemana papa kalian pergi,” sahut Rihana sembari melempar pandang ke Cahyo di sebelahnya.

“Sabar ya. Papa urus secepatnya. Sekarang, kita maem dulu ya Gilang. Papa lapar banget sekarang. Soalnya tadi selesai mencangkul,” katanya melirik ke Rihana. Rihana senyum-senyum.

Tak lama, mereka sampai juga di rumah makan atau restoran langganan Rihana dan Cahyo. Mereka pesan makanan sesuai selera mereka.

“Serasa pacaran lagi, ya kita makan disini. Rumah makan kenangan saat kamu mengejar aku,” kata Cahyo by chat.

Padahal, mereka duduk satu meja. Tapi Cahyo bicara dengan Rihana, lewat chat. Cahyo tak ingin kalimat itu didengar Riko dan Gilang, jadi dia katakan lewat chat.

Rihana yang menerima pesan itu, tak membalas sepatah katapun. Dia mengirimkan emoticon orang marah.

Rihana tak terima kalau dia dibilang yang mengejar Cahyo.
“Awas aja ya nanti,” tambah Rihana lagi. Lalu, dia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, karena hendak makan.

Cahyo membalasnya dengan mengirim emoticon gambar love.

Keempat orang itu tampak fokus menikmati hidangan makan siang bersama itu.(*)

Exit mobile version