ISTRI PAJANGAN Bagian 93: Di Jogja Gilang Masih Murung

karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Sampai di Jogja dengan selamat. Rihana bersyukur bisa melihat Gilang sehat dan pulih seperti sedia kala.

Tapi, Rihana masih melihat ada kesedihan yang menggelayut di mata Gilang.

Semua karena Bagas. Seharian, sejak kepulangannya dari rumah sakit, hingga tiba di Jogja, Rihana belum melihat keceriaan yang utuh di wajah Gilang.

“Riko. Coba tawarin Gilang jalan ke Malioboro. Mau nggak, dia?!” Rihana iseng.

“Emang mama mau nganterin kami, kalau andai Gilang mau diajak ke Malioboro?” tanya Riko, meragukan Rihana.

“Ya justru itu, Riko. Mama mau nyari makanan yang enak-enak nih ke Malioboro.” sebut Rihana meyakinkan Riko.

“Oh yang pengen jalan ke sana, Mama toh?!” Riko cengar-cengir mengatakan itu.

“Ih emang nggak boleh jalan?!” protes Rihana.

“Yeee..Boleh dong Ma. Riko ikut ya. Soalnya Riko juga pengen makan gudeg?!” imbuh Riko bersemangat.

“Bosen mama denger gudeg. Apa nggak eneg? Sering-sering makan gudeg. Kan manis soalnya?” tanya Rihana penasaran.

“Enak tahu Ma?!” jawab Riko meyakinkan.

“Hmmm.” Rihana terlihat sibuk menghubungi Cahyo, mau izin keluar sama anak-anak.

“Mas aku mau jalan ke Malioboro ya sore ini?!”

“Pakai apa? Aku masih ada urusan di kantor, sayang. Besok aja gimana aku antarin?! Aku usahakan balik cepat dari kantor.” Cahyo memberi usulan.

“Yeee…..pengen makannya sekarang Mas. Kalau besok, lain lagi. Pengennya ke Mall!” canda Rihana dan Cahyo pun mengiyakan akan menyanggupi meluangkan waktunya buat Rihana ke Mall.

“Iya sudah. Sekarang silakan. Besok ya Mas antar. Sekarang pakai grab aja ya?!” sebut Cahyo.

“Siap…..!” Rihana bergegas meminta Riko bersiap.

Tapi lagi-lagi yang jadi masalah adalah Gilang. Gilang masih tak berminat jalan-jalan.

Rihana pun memakluminya. Mungkin Gilang masih merasakan kelelahan. Apalagi baru kemarin keluar dari rumah sakit.

“Ma. Adik nggak ikut. Dia bilang titip makanan yang enak tapi bungkus aja!” sebut Riko.

“Oke!” jawab Rihana. Merasa tak puas dengan jawaban Riko, Rihana mencoba mendatangi Gilang yang sedang rebahan di kamarnya.

“Gilang…..kamu mau makan apa, sayang?!” tanya Rihana penuh kelembutan, pada Gilang.

“KFC Ma, sama es krimnya?!” sebut Gilang to the point.

“Hmmm. Kalau begitu kita makan KFC aja yuk bertiga.” bujuk Rihana.

“Yuk!” sahut Riko setuju.

“Nggak Ma..Gilang mau tiduran aja di rumah. Makanannya take away aja Ma.” pinta Gilang.

“Ya sudah kalau begitu.” Rihana tak bisa memaksakan kehendak.

Tak lama, grab yang dipesan Rihana sudah sampai di depan rumah. Rihana dan Gilang.

Supir grab itu pun membawa Rihana dan Gilang menuju Malioboro.

“Badhe dateng pundi Bu?!” supir Grab dengan medok Jawa itu bertanya ke Rihana.

Rihana bingung harus jawab apa. Dia melempar pandang ke arah Riko di sampingnya.

Riko hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda tak paham apa kata supir grab itu.

Tak lama, supir grab itu mengklarifikasi bahasa nya. Karena dilihatnya sang penumpang tak menjawab pertanyaannya.

“Oh maaf Bu. Ibu bukan orang Jawa ya?” kata supir grab itu.

“Saya dari Jakarta Pak. Tapi saya sudah sebulan lebih di Jogja. Maaf ya Pak. Kurang paham saya bahasa Jawa,” kata Rihana.

“Oh begitu Bu. Maaf ya. Jadi ini mau jalan ke Malioboro ya,” tanya pria itu lagi dengan ramah.

“Iya ini mau nganter anak bujang jalan-jalan cuci mata disana.” jelas Rihana.

“Oh begitu Bu. Baiklah. Semoga betah di Jogja ya Bu,” imbuh pria itu sebelum akhirnya dia lebih banyak diam dibalik kemudinya itu.

Akhirnya Rihana dan Riko tiba di Malioboro.
Di taman, Riko begitu bersemangat. Apalagi saat didatangi pengamen banci dengan pakaian seksinya.

Pengamen itu menyanyikan lagu Stasiun Balapan Solo, dan lagi Piye Kabarmu Sayang. Riko seperti terhibur banget dengan kehadirannya pria tapi wanita berpakaian seksi itu.

Tak hanya satu pengamen yang mendatangi Riko dan Rihana di taman itu. Ada tiga pengamen yang unjuk gigi di depan Rihana dan Riko.

Setelah Riko menyelipkan uang lima ribuan di kotak yang disodorkan pengamen itu, datang pengamen kedua, dan ketiga, yang juga menyanyikan lagu-lagu Jawa.

“Ma….besok Riko jalan ke mall ya?!” pinta Riko.

“Oalah. Punya anak laki-laki kok hobby nya ke mall.” celetuk Rihana sambil menepuk jidatnya sendiri.

“Hmmm. Ma kan nggak belanja. Riko cuma mau nongkrong aja. Lagian Riko juga belum punya teman akrab Ma. Masak iya suruh nongkrong di rumah terus. Kan bosen Ma?!” jelas Riko mencari alasan.

“Hmm..Iya iya baiklah. Jalan sama Gilang ya kalau bisa. Ajak adikmu!” perintah Rihana serius. Karena dia tak ingin melihat Gilang murung terus selama di Jogja ini.

“Kalau Gilang nggak mau, ya Riko ke Mall sendiri ya Ma?!” sebut Riko.

“Atur!” jawab Rihana.

“Ma..Cari makan angkringan yuk!” ajak Riko yang dari tadi celingukan di tengah merdunya suara pengamen yang unjuk gigi di depannya itu.

“Yuk.” Rihana dan Riko, beranjak pergi dari taman itu, setelah menyelipkan selembar uang lima ribuan ke kotak penyanyi bencong itu.

Mamang Angkringan. Tempat yang paling rame, di Malioboro. Pembelinya berjibun. Antri. Tempat duduknya juga sering kekurangan.

Meski ramainya tak ketulungan, Rihana dan Riko sabar mengantri. Karena, hanya di Mamang Angkringan yang masakannya sesuai dengan selera lidah Rihana dan Riko.

“Ma….kita buka angkringan aja disini. Warung makan mama pindah ke Malioboro aja. Pasti laris manis jualannya.” kata Riko memberi saran.

“Hmmm. Bisa kalah saing sama Mamang Angkringan, kita Rik, kalau jualan di Malioboro ini,” kata Rihana, pesimis duluan.

Riko langsung protes. Katanya, belum coba, Rihana sudah nyerah duluan.

“Jangan kasih saran yang mustahil ya Rik. Tolong!” protes Rihana.

Riko pun menanggapinya malah ketawa-ketawa.

“Mama sih nggak percaya diri sama jualannya.” celetuk Riko lagi.

“Udah ah yang penting sekarang kita makan dulu, nanti itu soal bisnis,” kata Rihana, sembari menarik tangan Riko, karena sudah ada meja lesehan yang sudah kosong.

Sementara, di belakang Rihana dan Riko, masih ada yang berdiri, menunggu meja lesehan angkringan yang kosong.

“Berapa ya Rik, gini ini omsetnya. Bisa jalan-jalan keliling dunia nih Ma. Hasilnya pasti gede ya?!” Rihana justru penasaran dengan omset Mamang Angkringan itu.

“Makanya Ma. Coba buka warung angkringan juga disini. Di Malioboro. Kan rejeki masing-masing orang sudah diatur sama Allah Ma,” saran Riko sok bijak.

“Hmmmm. Riko. Jaga mejanya dulu ya. Mama mau pilih makanannya. Nanti gantian ya, kalau mama sudah balik pilih makanannya, kamu giliran yang pilih.” Rihana pun berdiri menuju meja panjang tempat aneka lauk dan makanan khas Mamang Angkringan.

Rihana bingung mau pilih lauknya. Karena ada puluhan aneka makanan dan lauk masakan khas Jogja, tersedia di meja Mamang Angkringan itu.

Rihana tertarik mengambil tahu dan tempe bacem, plus nasi bakar.

Berbeda dengan Riko. Menu kesukaannya tak lain adalah nasi gudeg plus tahu bacem dan telor puyuh bacem.

“Oalah. Apa nggak bosen. Setiap makan disini menunya itu terus. Nasi gudeg, tahu bacem, telor puyuh bacem.” Rihana tertawa kecil, mentertawakan selera Riko yang tak pernah berubah.

Kalau untuk minumannya, Rihana dan Riko, punya selera yang sama, wedang uwuh. Minuman penghangat tubuh di kala udara Jogja dingin.

“Mas. Lihat ini. Selera anak bujang aku, selalu makan nasi gudeg kalau ke Malioboro.” Rihana menunjukkan nasi yang dibungkus daun pisang itu ke Cahyo, lewat video call.

Cahyo hanya senyum-senyum.

“Sayang. Aku susul kamu ya ke Malioboro. Tapi tunggu aku siap rapat agak satu setengah jam ya?!” sebut Cahyo.

“Nggak apa sih Mas kalau masih sibuk. Aku sama Riko masih menikmati gudeg?!” seloroh Rihana dan disambut tawa kecil oleh Cahyo.

“Hmm. Nggak sih. Ya sudah tunggu aku ya pokoknya. Satu setengah jam dari sekarang. Aku susul kamu ke Mamang Angkringan kan ya?!” tebak Cahyo.

“Yup!” jawab Rihana.

“Oke kalau begitu lanjut dulu makannya. Aku lanjut rapat ya sama anak buah,” kata Cahyo seraya mengakhiri percakapan video call nya itu, dengan Rihana.

“Ma. Kenapa Mama nggak minta transfer uang lagi, buat tambahan jajan di Malioboro?!” seloroh Riko. Dia tahu persis kebiasaan Cahyo, yang selalu memanjakan Rihana.

Riko bersyukur punya papa sambung yang baik hati dan tak pernah pelit pada mamanya.

“Alhamdulilah ya Ma. Papa Cahyo itu baik dan bertanggung jawab sama Mama.” puji Riko.

“Kalau nggak baik, sudah Riko tonjok dia Ma.” Riko melepas tawa.

“Ih apaan sih. Ngomongnya yang aneh-aneh aja. Nanti papa Cahyo dengar, nggak enak Mama,” ucap Rihana serius.

“Ya kan papa Cahyo lagi nggak sama kita Ma,” Riko melepas tawa lagi.

“Awas jangan ngomong aneh-aneh ya kalau ada papa Cahyo. Kan dia sudah baik banget sama Mama.” pesan Rihana pada Riko.
“Iyaa…..Mama sayang.” jawab Riko santai.(*)

Exit mobile version