ISTRI PAJANGAN Bagian 64: Rihana dan Cahyo Akhirnya Nikah

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Pagi-pagi sekali, selepas sholat subuh, Rihana tampak segar. Karena dia sudah mandi. Dia hendak bersiap menunggu jemputan dari sang pujaan hati, Cahyo.
“Gilang……Riko……!” Rihana mengetuk pintu kamar kedua anak bujangnya yang masih tertidur pulas.

“Gilang……Riko.” ulang Rihana masih terus mengetuk pintu kamar kedua anaknya itu.

“Hmmm iya Ma,” Jawab si Riko masih bermalas-malasan.

“Gilang….Riko…..ikutan acara mama nggak? Kalau nggak ikutan ya kalian di rumah aja ya berdua. Kan kalian libur sekolah ya hari ini,” tanya Rihana masih berbicara dari balik pintu kamar Riko dan Gilang.

“Ini Gilang juga masih tidur Ma,” sahut Riko yang berusaha bangkit dari tidurnya, untuk membuka pintu kamar.

Tak lama, pintu terbuka.
Rihana mencoba membangunkan Gilang.
“Gilang. Ikutan acara mama nggak?” tanya Rihana.

“Ikut Ma.” jawabnya dengan mata terpejam.

“Ya udah siap-siap. Nanti Om Cahyo sebentar lagi jemput kita.” sebut Rihana yang mencoba membangunkan Gilang.

“Tapi Ma…..masih ngantuk aku Ma,” jawab Gilang sembari menggeliat.

“Eh gimana ceritanya. Mau ikutan tapi masih ngantuk?!” Rihana masih terus mendesak keduanya untuk memberi keputusan ikut atau di rumah saja.

“Hmm. Kalian ini nggak jelas lho. Mama telat kalau nunggu kalian bangun jam 10.00 wib. Acara sama Om Cahyo, jam 09.00 wib pagi. Kalian bangun jam 10.00 wib. Ya udah kalian di rumah saja.” tegas Rihana segera memberi keputusan.

Gilang dan Riko masih tak respon. Akhirnya Rihana memutuskan pergi sendiri. Lagi pula, Cahyo juga lima menit lagi mau sampai di kediaman Rihana.

“Semenit lagi aku sampai, sayang.” kata Cahyo lewat chat.

Debar jantung Rihana semakin tak karuan.
“Ya Allah rasanya ini seperti mimpi,” batin Rihana yang kegirangan sejak subuh tadi.

“Balas lah. Lama banget balasnya.” kata Cahyo lagi tak sabaran karena Rihana tak kunjung membalas chatnya.

“Ya ela. Iyaaaaa iya ditunggu, suamiku?” balas Rihana dengan hati yang berbunga-bunga.
Dalam hitungan dua jam ke depan, Rihana sah menjadi istri Cahyo.

*Otewe jumpa Pak Penghulu.
Rihana menuliskan pesan itu.

Sahabatnya, Sagita langsung meresponnya.
“Ih nggak undang-undang!” celetuk Sagita merespon story Rihana.

“Hahahaha……sabar. Nanti undangannya dikirim sama kurir Shoope!” sebut Rihana. Rihana pun melepas tawa.

Acara pernikahan Rihana dan Cahyo dirancang sesederhana mungkin. Rihana nggak mau digelar secara mewah. Karena baginya bukan prosesi atau acara pernikahannya yang harus digelar mewah. Tapi, janji sehidup semati yang benar-benar nyata bisa terwujud, atas pernikahannya dengan Cahyo.

Pokoknya hari ini, Rihana berkhayal menua sama Cahyo, sampai maut memisahkan.
Tak lama, suara klakson mobil Cahyo sedikit.mengusik ketenangan Gilang dan Riko.

“Tet….tet…..teetttt!”

“Ma…., siapa sih berisik. Ganggu orang lagi tidur, celetuk Riko yang terpaksa bangun, menuju ruang tamu, dan memeriksa siapa tamu yang seenaknya membunyikan klakson mobilnya itu, dengan kencang.

Rihana yang mengetahui ini, langsung menghentikan langkah Riko.
“Riko. Itu Om Cahyo,” sebut Rihana buru-buru mengikuti Riko.
Riko menghela nafas panjang. Lalu, berusaha kembali masuk ke kamar tidurnya lagi, dengan hati yang kesal.

Rihana bergegas meninggalkan rumah, karena Cahyo sudah tiba.

“Riko. Gilang. Mama pergi dulu ya! Nanti selepas Mama acara, kita makan di luar ya sayang,” teriak Rihana sembari berlalu meninggalkan kedua anak bujangnya itu.
Tak ada respon, karena keduanya memang masih mengantuk.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor KUA, debar jantung Rihana mulai tak karuan, karena tak lama lagi, impiannya sudah tercapai. Ya….jadi nyonya Cahyo adalah impian Rihana sejak lama.

Sementara Cahyo, dibalik kemudinya, sesekali dia melirik Rihana.
Dia bisa merasakan betapa bahagia, wanita yang ada di sampingnya ini.

“Bismillah, ini yang terakhir,” kata Cahyo sembari meraih tangan Rihana, lalu menggenggamnya erat. Rihana mengaminkannya.
“Bahagia nggak kamu sayang, hari ini?” tanya Cahyo yang tak kalah berdebar jantungnya, karena bahagia luar biasa pagi ini.

Rihana tak menjawab. Tapi dia malah senyum-senyum.

“Jawab nggak ya!” balas Rihana sedikit menggoda Cahyo.

“Hai nyonya Cahyo jangan nakal ya. Awas nanti kalau jam dua belas malam?!” canda Cahyo.

“Nggak sabaran aku sayang, pengen melepas malam pertama sama kamu!” kata Cahyo gantian menggoda Rihana.

Sekali lagi, Rihana masih senyum-senyum tipis, dan bikin Cahyo semakin tak sabaran ingin menghabiskan malam pertamanya bareng Rihana.

Ada kucing yang tiba-tiba menyeberang. Cahyo terpaksa sedikit mengerem mobilnya.

Buru-buru Cahyo melihat ke belakang.
“Tuh makanya serius kalau nyetir.” Rihana terlihat panik saat kejadian itu.
“Tenang ini ujian sebelum malam pertama.” seloroh Cahyo.

“Ujian apaan. Untung nggak ada mobil di belakang.” Rihana spontan mencubit paha Cahyo.
Cahyo pun mengaduh kesakitan.

“Aduh ganas banget istri aku ini cubitannya!” teriak Cahyo.

“Pasti di ranjang ganas juga ini!” tambah Cahyo terus menggoda Rihana.

“Iya nanti aku makan kamu mas kalau macam-macam!” ancam Rihana dengan nada bercanda.

“Aduh jadi nggak sabaran ini mau malam pertama. Abis dari KUA ya sayang. Aku pengen yang satu itu.” Cahyo terus menggoda Rihana.

“Udah serius nyetirnya!” Rihana mencubit paha Cahyo lagi.

“Ih sakit sayang!” teriak Cahyo lagi.
“Pokoknya setelah dari KUA kita bulan madu ke pantai ya yang ada penginapannya!” pinta Cahyo.

“Hmmm. Di rumah aja Mas bulan madunya.” Rihana senyum-senyum.

Tiba di depan kantor KUA, Rihana semakin deg-degan. Cahyo segera turun dari mobilnya, diikuti Rihana.

Cahyo menggandeng mesra Rihana, mengajaknya masuk ke dalam kantor itu.

“Selamat siang Mas, Mbak?” sapa salah seorang pria, pegawai kantor KUA itu.

“Mau daftar nikah ya?” tanyanya kemudian.

“Nggak Pak.” jawab Cahyo sedikit gugup.

“Lho..jadi ada keperluan apa Pak. Di kantor ini tempat orang mau daftar nikah Pak.” jelas pria itu.

Cahyo jadi salah tingkah bercampur deg-degan.
Rihana cengar-cengir.
“Ya udah yuk balik aja kalau nggak jadi daftar nikah,” protes Rihana sedikit bawel.

“Eh tunggu sayang. Jangan salah paham dulu,” Cahyo buru-buru mengklarifikasinya, menarik tangan Rihana yang dilihatnya hendak beranjak pergi dari kantor KUA itu.
Pria pegawai kantor KUA itu jadi bingung melihat Cahyo dan Rihana.

“Maaf Pak,” kata Cahyo lagi yang berusaha tenang, menjelaskan tujuan kedatangannya.

“Begini Pak, kami kemari, akan menikah Pak, hari ini juga,” sebut Cahyo yang mulai tenang mengatakan kalimat itu.

“Oh begitu. Silakan Pak. Mari saya antar ke ruang Pak Penghulunya. Apa sebelumnya sudah daftar?” tanya pria itu sopan.

“Belum Pak. Kami mau langsung saja hari ini?” jelas Cahyo.

“Oh begitu. Baiklah!” balas pria itu dengan ramahnya.
“Silakan.” katanya lagi, saat sudah berada di ruangan penghulu.

“Assallamuallaikum. Pak.” sapa Cahyo pada penghulu yang terlihat sibuk dengan tumpukan kertas kerja di meja nya itu.
Setelah menjawab salam Cahyo, pria itu menanyakan beberapa hal tentang berkas untuk keperluan nikah.
“Bagaimana Pak. Apa sudah dibawa berkas persyaratannya?
Surat pengantar dari RT/RW lalu ke kelurahan, mendaftar di KUA atau secara online, dan melengkapi dokumen fisik seperti KTP, KK, dan pasfoto.” sebut penghulu itu panjang lebar dan detail.

“Sudah Pak,” sebut Cahyo sumringah saat menyerahkan berkas itu di hadapan penghulu.

“Oke saya cek dulu ya. Setelah lengkap, baru prosesi ijab Qabul akan dilaksanakan. Nikahnya disini kan?!” tanya pria itu ingin memastikan.

“Iya Pak.” jawab Cahyo.
Sekitar lima menit. Berkas yang diserahkan Cahyo, lengkap.Hingga akhirnya proses ijab kabul di Kantor KUA itu berlangsung penuh haru.

Dengan perasaan bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata, akhirnya Rihana resmi menyandang status sebagai nyonya Cahyo.(*)

Exit mobile version