ISTRI PAJANGAN Bagian 49: Ketemuan Bertiga

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Rihana, Cahyo dan Fera. Sepakat membuat janji ketemu di rumah makan Padang langganan Cahyo.

“Pa. Kayak nggak ada cewek cantik lagi ya. Kenapa harus Tante Rihana sih Pa?” ucap Fera kesal karena terlalu lama menunggu kedatangan Rihana.

Cahyo pura-pura cuek dan tak ingin merespon penilaian Fera soal Rihana.

Di mata Cahyo, Rihana adalah perempuan impiannya. Rihana selalu mengerti apa yang diinginkan Cahyo.

Tak lama, terlihat seorang perempuan muda dengan kemeja dan paduan celana jeans panjang warna biru langit, turun dari mobil Pajero Sport putih.

Siapa lagi kalau bukan Rihana.

“Menunggu Tante Rihana, udah kayak nungguin Puteri Solo aja, lama banget. Udah satu jam kita Pa disini. Eh Tuan Puteri baru datang,” celetuk Fera, sewot.

Cahyo senyum-senyum sendiri.

“Stttt. Sabar. Orang sabar disayang Tuhan,” kata Cahyo berbisik pada Fera.

“Hmmm….,” Fera ngeloyor ke toilet.

“Eh mau kemana anak papa?!”
“Toilet!” Fera bergegas menuju ke kamar toilet.

Rihana langsung menuju ke meja nomor 7, tempat Cahyo menunggu kedatangannya.

“Maaf ya Mas telat lama banget. Tadi, Rico bikin ulah. Aku mau pergi, eh dia minta beli nasi Padang lauk rendang.” jelas Rihana pada Cahyo.

“Ya udah nanti bungkusin aja dia dibawa balik,” kata Cahyo yang tampak sumringah saat bertemu Rihana.

“Tadi sudah aku belikan Mas.” jawab Rihana, yang juga terlihat bahagia, saat bertemu Cahyo.

“Pa. Cepet kan ngomongnya. Fera mau ada jadwal kerja kelompok,” ucap Fera tiba-tiba.

“Fera. Bisa sopan sedikit. Papa kan baru juga mau ngobrol sama Tante Rihana.” ucap Cahyo sedikit kesal dengan sikap Fera yang sedikit kasar.

“Penting banget tuan puteri satu ini. Anak sendiri malah diabaikan!” kata Fera sewot.

“Fera. Kamu bisa nggak menghargai orang tua.” ucap Cahyo lagi, menahan emosi.

Rihana coba mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Fera. Tapi Fera dengan gaya angkuhnya, terang-terangan menolak, dan menepis uluran tangan Rihana.

“Fera! Sekarang terserah kamu. Kamu mau terima apa nggak hubungan papa sama Tante Rihana. Yang pasti papa butuh teman hidup dan teman bicara untuk menjalani hari-hari.”

Cahyo akhirnya buka suara sedikit keras. Dia tak mau lagi menahan apa yang ada di benaknya.

BACA JUGA:  Raih Perhatian Lebih! Drama The Atypical Family Berhasil Capai Peringkat Tertinggi

Selama ini, Cahyo masih berpikir untuk menjaga perasaan Fera, dia menjaga jarak dengan Rihana.

Tapi, kali ini, Cahyo nekad mengungkapkan semuanya. Mengungkap keseriusan hubungannya dengan Rihana.

Fera diam. Tak lama, dia bangkit, meninggalkan rumah makan itu.

Rihana coba mencegahnya. Tapi tak berhasil.

“Sudahlah Ri. Fera memang keras kepala. Biarkan saja kalau memang itu mau dia,” ucap Cahyo.

Rihana hanya bisa diam melihat kekacauan antara Cahyo dan Fera. Tapi Rihana yakin, seiring berjalannya waktu, semua akan baik-baik saja.

“Tiga Minggu lagi, waktu yang akan menentukan. Bagas kalah atau menang di pemilihan wakil rakyat nanti. Kalah atau menang, aku sudah bulat memutuskan untuk minta cerai. Aku nggak bisa Mas terus bertahan dengan Bagas. Tiga tahun belakangan ini, dia mengabaikan aku. Dia sibuk dengan perempuan-perempuan di luar sana.” cerita Rihana panjang lebar.

Untuk menenangkan Rihana. Cahyo menggenggam tangannya, erat.

“Kita bisa lalui semua ini bersama Ri. Aku berharap kamu tetap semangat meski semuanya terasa lelah dan berat buat kamu,” ucap Cahyo lirih.

Rihana menganggukkan kepalanya. Hatinya merasa tenang, mendengar ucapan Cahyo.

“Mas tapi gimana dengan Fera?” Rihana tiba-tiba meragukannya.

“Angkat tangan aku Ri kalau soal itu. Dia terima atau nggak aku akan tetap pada keputusan aku. Setelah kamu cerai dari Bagas, aku akan meminang kamu,” ucap Cahyo mantap.

Ada perasaan lega di hati. Karena Cahyo memang benar-benar memperjuangkannya.

Cahyo berharap, apapun yang terjadi, dia akan tetap bersama Rihana.

“Aku lelah Ri, hidup sendiri. Aku butuh kasih sayang juga dari seorang perempuan. Perempuan itu adalah kamu.” kata Cahyo, lirih.

“Ya Allah, permudah jalanku untuk menjadi bagian dari hidup lelaki ini,” Rihana berdoa dalam hati.

Cahyo menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara, pelan-pelan.

“Mas. Ngomong-ngomong. Kamu lapar nggak?!” Rihana mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena, cacing-cacing di perutnya memang sudah menuntut haknya.

“Aku nggak lapar asal sama kamu,” kata Cahyo menggombal.
“Hahahahah..Kamu bisa aja Mas,” celetuk Rihana.

Tak lama, keduanya pun berjalan beriringan menuju etalase rumah makan itu. Memilih lauk.

“Aku rendang daging,” kata Rihana pada pelayan rumah makan yang sudah stay dengan piring kosong di tangan kirinya.

BACA JUGA:  Alien Nyasar ke Madura, Bayu Skak Ramaikan Bioskop lewat Film Komedi Foufo

“Kamu Mas?!”
“Aku sama dengan kamu aja. Rendang,” sebut Cahyo.

“Hmmmm. Selera kok nyontek orang. Bukannya Mas Cahyo suka gulai ikan?” tanya Rihana yang tak pernah lupa dengan makanan kesukaan Cahyo.

“Hahahahah!” Cahyo melepas tawa.
“Pokoknya apa pun yang disukai sama Tuan Putri, hamba juga suka.” Cahyo menyanjung Rihana.

“Hahahahah. Bisa aja dia! Mana boleh nyontek orang kalau soal selera makan.” kilah Rihana.

“Biarin!” celetuk Cahyo.

Tak lama, pelayan rumah makan itu membawa dua piring nasi lauk rendang daging.

“Mau order kerupuk jangeknya sama kuah gulai ya,” kata Rihana request ke pelayan rumah makan itu.

“Ok kak.” jawab pria pelayan rumah makan itu dengan ramah.

“Saya juga,” kata Cahyo yang ikut-ikutan lagi dengan Rihana.

“Ih apaan ini. Nggak kreatif. Dari tadi nyontek aku terus!” kata Rihana lagi.

Cahyo pun hanya senyum-senyum.

Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah selesai menikmati nasi rendangnya.

“Setelah ini, aku mau rapat ke kantor Ri.” ucap Cahyo.

“Maaf ya belum bisa santai lama-lama sama kamu,” ucap Cahyo serius. Rihana menganggukkan kepalanya.
“Aku juga mau ketemuan sama Fitriani.” kata Rihana.

“Dimana ketemuannya?!” tanya Cahyo iseng.

“Disini.”
“Oh ya. Kalau begitu aku cabut dulu ya sebelum ketahuan sama Fitriani si Mak comblang kepo itu. Hahahahah!” Cahyo cengar-cengir.

“Tapi dia berjasa kan ya Mas buat hubungan kita?!” ucap Rihana pelan.

Cahyo menganggukkan kepalanya.
“Oke. Sampai ketemu lagi nanti ya, Miss You Rihana.” ucap Cahyo seraya bergegas meninggalkan rumah makan itu.
Selepas Cahyo bergegas pergi, Rihana pun menghubungi Fitriani.


“Gimana hasil pertemuan kamu sama Mas Cahyo dan anaknya?” Fitriani selalu saja iseng dan ingin tahu tentang kehidupan asmara Rihana.

Rihana menarik nafas dalam-dalam. Rasa kecewa, tergambar jelas di wajahnya.

“Fera tetap menolak hubungan aku dan Mas Cahyo Fit.” jelas Rihana, lemah.

Fitriani pun merasa ikut prihatin.
“Fera tak akan pernah menerima keberadaan aku sampai kapan pun Fit. Tapi, kata Mas Cahyo, apa pun yang terjadi, dia tetap akan memperjuangkan aku.” lanjut cerita Rihana, dibarengi dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.

“Syukurlah Ri.”
“Tapi bagaimana pun juga, kalau Fera masih menolak keberadaan aku, rasanya masih ada yang mengganjal di benak aku, Fit.” keluh Rihana serius.
“Iya aku pun kalau ada di posisi kamu pasti juga seperti itu. Karena memang nggak enak rasanya kalau kehadiran kita ditolak orang lain.” ucap Fitriani.

BACA JUGA:  Marco Ivanos dan Debi Sagita Resmi Menikah

“Sekarang, aku cuma punya doa dan semangat, berharap semuanya akan membaik, seiring berjalannya waktu.” ucap Rihana penuh antusias.

“Itu dia yang aku suka dari seorang perempuan bernama Rihana. Perempuan tangguh yang nggak gampang menyerah.”

“Aku nggak gampang menyerah, karena memang dipaksa sama keadaan, Fit. Kalau aku nyerah, gimana dengan kedua anak bujang aku. Mereka bersandar siapa, kalau bukan bersandar ke aku.” ucap Rihana lagi menggebu-gebu.

“Memang paten banget ya perempuan satu ini,” Fitriani masih terus menyanjung ketangguhan Rihana dalam menghadapi masalahnya.

Ponsel Rihana bergetar. Buru-buru diraihnya benda pintar itu.
Ada pesan dari Fera.
“Jangan harap kamu akan bisa mendapatkan papa aku. Camkan itu Tante Rihana. Seharusnya kamu sadar kamu itu nggak pantas untuk papa aku.” kata Fera mengirimkan kalimat itu ke Rihana.

Seketika mental Rihana serasa down ke jurang yang paling dalam.
Dia menyodorkan ponselnya ke Fitriani.

“Baca Fit. Dari Fera, anak Mas Cahyo.”

Fitriani membaca pesan itu di ponsel Rihana.

“Tenangkan hatimu dulu Ri. Ini hanya sebuah rintangan kecil. Semua karena kuasa Allah. Kita cuma bisa berdoa, memohon semua masalah dibukakan pintu.” kata Fitriani dengan bijak.

Rihana tak kuasa menahan air matanya. Bulir-bulir bening itu pun akhirnya membasahi pipi Rihana.

“Setiap tangis, akan ada tawa. Percaya Ri. Kalau kita yakin, Allah akan bukakan pintu jalan keluar masalah kita.” ucap Fitriani yang berusaha menenangkan Rihana yang sedang kalut.

“Makasih ya Fit. Kamu selalu ada untuk aku.” Rihana memeluk Fitriani penuh persahabatan.

“Kamu kuat kok Ri, menghadapi semuanya. Aku percaya itu.”

“Makasih Fit.” (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *