ISTRI PAJANGAN Bagian 46: Fera Buat Onar

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sesuai permintaan Fera, Rihana berhasil mendapatkan sepatu Nike yang diinginkan Fera.

Sepatu Nike itu diserahkan Rihana, sehari sebelum pesta ulang tahun Fera digelar.

“Fer. Sepatunya Tante letak di kamar kemarin,” kata Rihana lewat chat.

Mendapat kabar itu dari Rihana, bukannya senang. Fera malah menuduh Rihana membelikan sepatu Nike yang KW. Bukan yang asli.

“Kok Tante nggak kabari Fera, kalau mau beli sepatunya. Memang ada jaminan itu sepatunya asli brand Nike?” balas Fera.

Emosi banget Rihana membaca balasan chat dari Fera.

“Benar-benar kurang ajar anak Cahyo ini. Awas aja kamu. Kalau ada kesempatan ngomong empat mata, aku bakal terus terang sama dia. Aku nggak suka lihat sikap dia, seperti memanfaatkan aku.” gerutu Rihana kesal.

Rihana tak ingin berdebat dengan bocah kemarin sore itu. Apalagi, Fera adalah anak Cahyo.

“Kenapa dia harus seperti itu sama aku. Salah aku dimana?!” Rihana penasaran.

Ingin rasanya Rihana mengutarakan semua perlakuan Fera yang kurang menghargai orang tua.

“Apapun yang terjadi, aku akan ngomong sama Cahyo.” kata Rihana, yang semakin hari semakin memendam rasa kesal pada Fera.


Satu jam kemudian, Rihana tak menyangka kalau Fera mendatanginya. Menanyakan soal keaslian sepatu Nike yang diberikan Rihana itu.

“Tante yakin, ini harga Nike nya Rp 1,2 juta? Bukannya di pasar-pasar dan emperan toko, harga sepatu Nike ini cuma lima puluh ribu?!” protes Fera, sembari terkesan memojokkan Rihana.

“Ini ada bukti struk pembeliannya.” sebut Rihana dengan percaya diri.

“Hahahaha. Bisa aja kan bukti kayak begitu, Tante edit-edit struknya. Fera kan nggak bodoh, Tante.” masih kata Fera dengan sombongnya.

Mendengar kalimat-kalimat Fera yang terus memojokkan itu, sebenarnya Rihana emosi juga.

“Tahan Ri….kamu kan lagi jatuh cinta sama papanya Fera. Tahan Ri. Nanti dia ngadu yang aneh-aneh ke Cahyo, kalau kamu ngomong kasar atau emosi ke Fera.” batin Rihana berbisik lirih.

“Kalau Fera nggak suka ya nggak masalah,” ucap Rihana berusaha lembut.

“Tante bisa nya cuma beli yang standartnya seperti itu. Tante merasa dengan harga Rp1,2 juta itu sudah asli, Fera sayang,” ucap Rihana lagi.

“Bukannya Tante dapat uang banyak dari papa aku. Kenapa beli kado buat aku justru yang murah?!” tuding Fera tanpa berpikir dulu.

BACA JUGA:  Drama Lovely Runner hingga Para Pemerannya Sapu Bersih Peringkat Drama Paling Menarik

“Astagfirullah Fera, kapan aku dapat uang banyak dari papa kamu. Silakan cek sendiri dan tanyakan ke papa kamu, Fera. Tante bukan tipe perempuan yang hanya mengeruk keuntungan semata dari laki-laki.” ucap Rihana sabar.

“Bisa aja aku tanya papa. Tapi, aku yakin papa aku pasti nutupin semuanya, dan membela Tante Rihana.” tukas Fera.

Meski dia memprotes soal keaslian sepatu Nike yang dia dapatkan dari Rihana, sepatu itu tetap saja dibawa balik lagi sama Fera.

“Ya udah. Dari sepatu ini, aku baru tahu ternyata Tante Rihana ini perhitungan banget sama aku. Padahal, Tante suka sama papa aku kan?!” Fera lagi-lagi ngomong to the point.

Rihana terdiam. Lalu berusaha tak menanggapi apa yang dikatakan Fera.


Meski diperlakukan tidak sopan oleh Fera, Rihana tetap saja berusaha baik dengan Fera.

“Tante, aku butuh uang Rp 2 juta buat beli keperluan dekor ruang ultah aku.” Fera lagi-lagi memeras Rihana dengan seenaknya. Setelah sepatu Nike, dia minta uang untuk keperluan ulang tahunnya.

“Minta rekeningnya biar aku transfer sekarang,” kata Rihana.

Fera, kegirangan mendapat balasan itu.

“Rasain kamu Rihana. Selama kamu berusaha mendekati papa aku, kamu akan menderita Rihana?!” ucap Fera dengan niat jahatnya dalam hati.

Uang yang diminta Fera, dalam hitungan lima menit saja, sudah diberikan Fera.

“Siapkan untuk keperluan makan-makan kawan aku Tante, paling delapan jutaan.” sebut Fera lagi dengan liciknya.

Membaca pesan itu, Rihana hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan, tanpa ragu.

“Mungkin ini jalan yang telah Engkau tetapkan untuk aku, ya Allah. Banyak kerikil-kerikil tajam, yang menusuk telapak kakiku saat melangkah ke depan.” batin Rihana pilu.

“Nanti aku bilang ke papa kamu ya Fera, kalau kamu lagi butuh uang buat acara ultah. Tante lagi bokek ini Fera, suami Tante belum transfer uang,” sebut Rihana, pura-pura nggak punya uang. Rihana ingin tahu, apa respon Fera ketika Rihana mengaku tak punya uang.

“Tante nggak usah pakai ngadu-ngadu segala ke papa aku. Lagian juga pelit banget sama calon anak tiri,” tukas Fera.

“Bukan ngadu Fera. Aku kan mau bilang ke papa kamu kalau kamu mau minta uang buat acara ultah.” ulang Rihana ingin meyakinkan Fera.

BACA JUGA:  Produksi Film Dosa Mustrik Dipercayakan Pada Hadrah Daeng Ratu

“Nggak usah sok jadi pahlawan deh!” balas Fera masih dengan nada sengit.

“Sabar Ri. Sabar. Itu calon anak tiri. Anak Cahyo.” batin Rihana terus menjerit saat berdebat dengan Fera. Fera punya niat jahat terselubung pada Rihana.

Rihana bisa merasakan itu. Tapi, semua berusaha ditepis Rihana.

“Fer. Udah dulu ya Tante lagi ada kerjaan.” Rihana tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Fera.


Fera terus mencari cara untuk memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya dari Rihana.

Karena, Fera berpikir, papanya royal pada Rihana. Padahal di sisi lain, Rihana tak pernah memanfaatkan Cahyo untuk mendapatkan keuntungan materi.


Berkomunikasi dengan Fera, banyak menguras energi Rihana.
Rihana merasa, saat ini, penghalang terbesar hubungannya dengan Cahyo, bukan Bagas lagi, melainkan kehadiran Fera, putri Cahyo.


“Fit, makan yuk. Lapar aku.” ajak Rihana.

Fitriani paling suka kalau diajak makan. Soalnya, Rihana yang bayar makannya.

Dia pun bergegas menuju ke rumah makan Padang langganan mereka.
“Ri. Aku sudah di rumah makan biasanya,” kata Fitriani memberi info ke Rihana.

“Siap. Lima menit lagi aku sampai, Fit.” Balas Rihana.

Tepat lima menit kemudian, mobil Pajero Sport putih yang dikendarai Rihana itu tiba di rumah makan langganannya.

“Hai apa kabar Fit?” tanya Rihana.
“Sekarang, lain ya, nyonya PLN ini?” seloroh Fitriani.

“Hahahah. Kamu ini ada-ada aja lho!” protes Rihana.

“Eh kenapa kamu kelihatan suntuk begitu?! Ada masalah sama Mas Cahyo?” tanya Fitriani penasaran.

“Nggak ada sih. Cuma yang bikin kesel itu, anak gadis dia. Dia selalu memanfaatkan aku dalam banyak hal.” keluh Rihana sambil menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan ke udara.

“Dia punya anak gadis?!” tanya Fitriani lagi.

Rihana pun panjang lebar menceritakan perilaku Fera, yang selalu menyusahkan Rihana.

“Kapan-kapan aku mau ngomong sama Mas Cahyo soal Fera. Pesimis aku Fit, belakangan ini. Rasanya mau mundur aja. Fera itu, sepertinya ingin menjegal hubungan aku dengan Mas Cahyo,” ucap Rihana serius dan tampak lelah.

“Sabar ya Ri. Pasti ada jalan keluar nya nanti. Bicarakan aja sama Mas Cahyo. Aku yakin dia akan mengerti soal kegundahan hati kamu,” Fitriani menasehati Rihana.

“Bayangin aja Fit. Dia minta beli sepatu Nike yang asli. Katanya harganya sekitar Rp 1.5 juta. Saat aku dapat harga Rp 1.2 juta, dia malah menuduh aku, beli sepatu Nike KW. Kata dia, sepatu yang aku beli itu, banyak dijual di emperan toko. Apa nggak emosi kamu kalau misalnya kamu ada di posisi aku?!” Mata Rihana berkaca-kaca saat mengatakan itu.

BACA JUGA:  Sinopsis Siksa Kubur Karya Joko Anwar, Film Horor Menegangkan yang Akan Tayang di Lebaran 2024 Ini

“Aku capek Fit nyari sepatu itu. Tapi dia nggak menghargai aku.” Rihana pun tak kuasa menahan air matanya.
Gantian Fitriani yang menghela nafas panjang. Dia bisa merasakan betapa Rihana terluka dengan perlakuan calon anak tirinya itu.

“Anak gadis Mas Cahyo itu berapa usianya Ri?”
“Sudah 17 tahun.” sebut Rihana.

“Sabtu ini, dia mau buat pesta di villa aku.”

“Terus kamu ngasih izin?”
“Iya Fit. Aku nggak enak sama Mas Cahyo. Kalau bukan karena anak Mas Cahyo, aku nggak bakal ngasih kebebasan kayak gitu.” ucap Rihana kesal.

“Iya ya.” Fitriani hanya bisa mendengarkan curhat Rihana. Dia tak ingin memberi saran. Karena takut sarannya salah, dan tak sesuai dengan apa yang diinginkan Rihana.

“Jadi, hubungan kamu sama Mas Cahyo gimana sejauh ini? Lancar kan?” tanya Fitriani iseng.

“Alhamdulillah kalau aku sama Mas Cahyo, aman-aman saja.” Rihana sedikit mengukir senyum di sudut bibirnya.

“Semoga kalian sampai ke pelaminan ya,” Fitriani mendoakan sahabatnya itu.

“Amin ya Allah,” sahut Rihana.

Meski demikian, Rihana masih merasa sangsi dengan hubungannya.

“Aku bisa lanjut nggak ya sama Mas Cahyo, kalau Fera terus menjegal aku,” ucap Rihana seolah ingin menyerah.

“Ikuti kata hatimu Ri. Perjuangkan kalau memang kamu yakin dengan kata hatimu.” Fitriani memberi nasehat Rihana.

Rihana terdiam. Mendengar nasehat Fitriani, Rihana berpikir seribu kali. Dia nggak akan menyerah. Karena di lubuk hatinya yang terdalam, cahaya hidupnya hanya ada pada Cahyo.

“Semangat Ri.” ucap Fitriani.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *