ISTRI PAJANGAN Bagian 43: Fera Menginap di Villa Rihana

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib. Rihana kesal karena Fera tak kunjung pulang. Seharusnya dia tahu waktu dan situasi kalau bertamu ke rumah orang.

“Lapar woi,” teriak Dinda pada Fera.

“Iya aku juga lapar ini. Tunggu aku bilang sama pembantu aku di dalam ya.” ucap Fera. Dia keluar dari kolam renang itu, dan beranjak ke dalam menemui Rihana.

“Tante…….!” panggil Fera, yang mencari keberadaan Rihana.
“Tante Rihana,” teriak Fera lagi.

Fera tak mendengar suara Rihana. Justru dia bertemu Gilang dan Riko. Dua anak bujang Rihana.

“Hei kalian siapa!” bentak Gilang.

“Aku anak om Cahyo. Teman Mama kamu!” sebut Fera to the point.

“Mama kamu dimana?!” tanya Fera lagi.
“Ngapain kamu tanya mama aku?!” tanya Riko. Riko dan Gilang geleng-geleng melihat Fera dan Dinda tampil dengan baju yang basah kuyub.

Apalagi Gilang dan Riko baru saja balik dari sekolah, makin bingung dengan kehadiran pria setengah baya.

“Papa!” teriak Fera yang melihat Cahyo datang.

“Siapa lagi pria ini?!” Gilang bingung. Selama ini dia juga nggak diperkenalkan sama Rihana.

Cahyo langsung menghubungi Rihana.
“Ri dimana. Kita lagi ngumpul di depan villa ini.” sebut Cahyo.

“Oh ya. Siapa aja?” tanya Rihana santai.
“Turun lah. Kamu lagi di lantai atas ya?!”
“Oke Mas tunggu aku turun,” ucap Rihana seraya menutup ponselnya.

“Gilang Riko. Salam dulu sama Om Cahyo. Ini teman Mama.” kata Rihana, pada kedua anak lelakinya itu.

Keduanya pun patuh terhadap perintah Rihana.

“Riko ini sudah SMA kelas 1. Sedangkan Gilang masih SMP kelas 3.” jelas Rihana di depan Cahyo.

“Ganteng ya, Riko dan Gilang.” puji Cahyo.
“Iya mamanya aja cantik,” sahut Rihana memuji dirinya sendiri, sambil senyum-senyum sendiri.

BACA JUGA:  Gaya Parenting Wulan Guritno: Kepalanya Dilepas, Buntutnya Dipegang

“Hmm. Iya juga,” jawab Cahyo.

“Ya udah kita pamit yuk.” kata Cahyo pada Rihana.
“Nggak Pa. Aku mau nginap di villa Tante Rihana. Dinda juga mau nginap disini. Kami kan besok libur hari Sabtu, nggak sekolah.” ucap Fera.

Rihana langsung mengernyitkan alisnya, sekaligus jengkel karena Fera mau menginap di villanya.

Fera mulai berani karena dilihatnya Cahyo suka sama Rihana. Baginya, ini kesempatan emas untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dari Rihana. Niat Fera memang jahat. Ingin memanfaatkan Rihana demi mendapatkan keuntungan pribadi, dan juga buat balas dendam, demi mamanya.

Cahyo terdiam.
“Besok aja kesini lagi Fera. Papa kemari kan mau jemput kamu. Ini malah mau menginap. Jangan macem-macem ah!” protes Cahyo.

“Boleh kok sama Tante Rihana.” Fera berbohong. Padahal dia saja belum ngomong soal itu ke Rihana.
Cahyo melepas pandang ke arah Rihana.
Rihana langsung mengiyakan apa yang dibilang Fera.

“Iya….iya boleh kok kalau mau menginap. Bebas.
Anggap aja ini villa kalian juga,” ucap Rihana pura-pura mengiyakan kata Fera, tapi dibarengi dengan hati yang kesal.

Cahyo garuk-garuk kepala dan dia pun pasrah karena Fera bersikeras menginap di villa Rihana.

Padahal Cahyo sendiri sedikit malu dengan tingkah anak gadisnya itu yang masih kekanak-kanakan.

Mendengar Rihana mengizinkan Fera menginap di villanya, Fera langsung kegirangan.

“Ya udah kalau papa mau balik. Balik aja. Besok pagi jemput kami ya Pa?!” pinta Fera.

Cahyo pun akhirnya pamitan ke Rihana.

“Jaga diri baik-baik ya. Nggak usah macem-macem di villa Tante Rihana. Awas aja kalau kamu macem-macem!” kata Cahyo mewanti-wanti anak gadisnya itu.

“Siap. Pa!” jawab Fera mantap.


Malam itu, Fera dan Dinda masih merasakan perutnya yang keroncongan. Ide gila Fera, muncul dan dia pun memesan makanan paling enak di aplikasi GOFOOD.
Saat makanan itu datang, Fera dan Dinda tak mau bayar. Alasannya mereka lupa bawa dompet.

BACA JUGA:  Kim Go Eun dan Noh Sang Hyun Menggoda Penggemar dengan Kisah Cinta Muda yang Bebas

Akhirnya, Rihana yang ambil alih pembayarannya.

“Gila banget anak Cahyo ini. Ngerjain aku, dia!” gumam Rihana kesal.

“Makasih ya Tante. Kami lupa tadi nggak bawa dompet. Ketinggalan di rumah.” ucap Fera yang basa-basi ke Rihana.

“Iya nggak apa!” Rihana kesal dan dia naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya.

“Hahahahahah. Kamu kira mudah mau dapatkan papa aku?!” Fera melepas tawa.

Dinda masih bingung dengan apa yang dikatakan Fera.
“Tadi kata kamu Tante Rihana itu pembantu kamu. Dia suka sama papa kamu ya?” tanya Dinda, bingung.

“Terus kata kamu ini villanya vila kamu. Tapi kenapa pakai izin sama pembantu kamu kalau mau menginap disini?” Dinda makin bingung mencerna kejadian yang dia alami hari ini.

“Intinya, Papa aku baru beli villa, terus dikasih ke Tante Rihana. Gila aja kan. Papa aku rela berkorban buat perempuan itu.” celetuk Fera mengarang cerita.

“Oh jadi Tante Rihana itu simpanan papa kamu?! Ups maaf maaf keceplosan!” ucap Dinda blak-blakan di depan Fera.

“Iya begitulah. Mama aku kan sudah diceraikan sama Papa aku. Semua gara-gara perempuan sialan itu. Rihana. Makanya aku mau balas dendam ke Rihana, demi mama aku.” Fera mengarang cerita fitnah.

(Di sisi lain, sebenarnya villa itu adalah pemberian Bagas, suami Rihana. Bukan dibelikan papa nya Fera).

Meski sedikit janggal ceritanya, Dinda percaya dengan apa yang dikatakan Fera.

“Sudahlah nggak usah bahas itu lagi. Sekarang kita nikmati aja ayam bakar pemberian Tante Rihana. Xixixixi!” Fera cekikikan. Dinda akhirnya juga melahap ayam bakar itu sampai habis.

“Fer. Nanti kita tidurnya gimana? Masa iya kita tidur di kolam renang? Yang bener aja kan?!” Dinda bingung mikirin mau tidur.

BACA JUGA:  Akad Nikah dan Resepsi El Rumi & Syifa Hadju di Raffles Hotel

“Hahahaha. Iya kita tidur di kolam renang aja. Biar bisa ngerasain sensasinya berendam semalaman di kolam renang villa mewah ini,” Fera suka melihat sahabatnya itu panik.
“Fer..Aku pulang aja. Biar aku kabari ayah aku, suruh jemput!’ ucap Dinda yang takut kalau bener-bener tidur di kolam renang.
“Kamu nggak setia kawan banget mau main pulang aja!” protes Fera.

Dinda masih bingung.
“Percayakan sama Fera. Nanti kita akan dapat kamar mewah yang ber-AC.” ucap Fera meyakinkan Dinda.

Dinda masih tak meresponnya.

“Ya udah gini aja. Setelah makan. Kita cari Tante Rihana dan kita minta dia buat siapin kamar,” kata Fera lagi.

Dinda hanya menganggukkan kepalanya.

Tak lama, tanpa harus Fera menemuinya, Rihana muncul. Dia mengatakan kalau kamar tidur buat Fera dan Dinda sudah disediakan di kamar atas.

“Kalau sudah ngantuk dan ingin rehat, kalian bisa langsung ke lantai atas ya. Kamarnya sudah Tante siapkan,” ucap Rihana, dan tak lama dia bergegas meninggalkan keduanya.

“Yess!” pekik Fera.

“Bener kan apa kata aku. Dia pasti akan melayani kita, bagai raja. Karena dia mau mendapatkan papa aku! Kalau dia nggak melayani kita dengan baik, aku tinggal lapor ke papa aku. Aku akan bilang kalau Tante Rihana itu jahat. Pasti papa aku percaya dengan kata-kata aku!” ucap Fera sesumbar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *