Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Tak ada yang bisa dipertahankan lagi.
Itulah kalimat yang selama ini terus bersemayam di benak Rihana.
“Untuk apa Ri, kamu pertahankan?!”
Suara protes Fitriani terdengar begitu kesal.
“Eh tapi aku nggak menganjurkan kamu cerai ya. Cuma aku kesel aja kalau terus-terusan diabaikan sama suami kamu.” kilah Fitriani lagi.
“Ya makanya doakan aku ya Fit. Secepatnya bisa cerai sama Bagas. Aku udah nggak ada rasa lagi sama dia. Sedikitpun. Tak berhasrat untuk memberinya perhatian dalam segala hal. Karena, dia pun bersikap seperti itu ke aku.” ucap Rihana yang juga kesal.
“Anak-anak aku harus ikut sama aku Fit.” suara Rihana terdengar mantap.
“Tapi Bagas sepertinya nggak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia bilang anak-anak harus sama Bagas.” cerita Rihana sembari senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
“Susah sekarang kalau bicara sama orang yang lagi kasmaran.” celetuk Fitriani yang protes tiba-tiba.
“Pasti dari Mas Cahyo.” sebut Fitriani sembari melepas tawa.
“Iya dia ingatin aku, makan malam nanti untuk dandan yang cantik.”
“Beuhhhh..Menyala sahabat aku yang satu ini. Akhirnya dia pedekate sama some one sang pujaan hati.”
“Doa in pokoknya Fit ya.” imbuh Rihana penuh antusias.
“Jam 20.00 wib. Masih lama ya Fit. Ini baru jam 13.00 wib siang.” Rihana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya ke langit-langit kafe Biru tempat mereka biasa melepas penat.
“Fit……makasih ya. Kamu udah banyak bantuin aku dalam proses ketemuan sama Mas Cahyo. Tanpa bantuan kamu, rasanya dunia aku sudah lama kiamat. Jujur Fit. Setelah mengenal Cahyo, dunia aku berubah penuh warna.” tiba-tiba Rihana melow.
“Ya elah. Gitu aja mau nangis,” ucap Fitriani yang berusaha menenangkan Rihana yang matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
Untuk mengalihkan suasana, Fitriani menawarkan ikutan senam zumba.
Kata Fitriani, Zumba bisa buat happy. Tanpa berpikir panjang, Rihana pun bersemangat menyambut tawaran Fitriani.
“Yuk. Kita samaan ya ke zumbanya.” sambut Rihana yang mendadak berubah dengan wajah sumringah.
“Stttt…..biar body kamu makin fit danas Cahyo klepek-klepek lihat kamu!” Fitriani memberi spirit ke Rihana.
“Ya nggak gitu kali. Aku kan mau sehat juga. Tapi, kalau bonusnya bisa buat body aku kayak body gitar spanyol, aku mau dong!” ucap Rihana yang mulai melepas tawa.
“Kapan jadwalnya. Bayar berapa kalau jadi member?!” tanya Rihana penuh antusias.
“Gampang. Hari pertama sampai ketiga, free. Hari ke empat baru bayar seratus lima puluh ribu buat sebulan,” sebut Fitriani.
Pelan-pelan, suasana hati Rihana mulai bergembira. Tujuan hidupnya mulai terarah. Semua karena Cahyo.
Sore ini, Rihana mulai siap-siap. Sebelum ketemu Cahyo, dia menyempatkan diri ke Spa.
Lagi-lagi, ke Spa, demi persiapan pertemuannya dengan Cahyo.
“Fit. Aku di Spa nih..Sini. Siapa tahu kamu juga mau refleksi atau mau luluran. Semua ditanggung negara biayanya. Hahahahaha!” kata Rihana memberi info ke Fitriani.
Fitriani yang aji mumpung, tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia pun bergegas menuju spa yang dimaksud Rihana.
“Bilang aja kamu teman nya Rihana. Karena aku tadi udah pesan sama teraphisnya, ada kawan satu orang mau datang. Nanti kamu diarahkan ke tempat spa perawatan kulit.” sebut Rihana serius.
“Cie…….cie…..perawatannya luar biasa ya, mau ketemuan sama pejabat PLN. Harus ke spa dulu. Buat perawatan kulit?” goda Fitriani.
“Hahahaha..iya dong. Harus begitu.” jawab Rihana semangat.
“Udah sini cepetan aku tunggu.. nggak pakai lama!” desak Rihana.
Dalam hitungan setengah jam, Fitriani sudah sampai di spa yang dimaksud Rihana.
“Selamat datang di Spa Haloho,” sapa salah satu dari teraphis yang menyambut kedatangan Fitriani.
Dia langsung diarahkan ke ruangan dimana Rihana melakukan perawatan.
Sejenak, keduanya rilexs. Melupakan masalah yang ada, fokus buat menyenangkan diri sendiri.
“Fit..Ntar jam delapan, satu setengah jam lagi, temani aku ya..ketemuan sama Cahyo.” ucap Rihana, selesai melakukan perawatan di spa.
“Eh apaan. Mana mungkin harus ditemani..Lucu aja sih masa iya aku harus jagain orang kencan. Aduh…ada ada aja sih nih Neng Rihana,” Fitriani melepas tawa.
Tapi, Rihana pasti deg-degan, saat ketemuan sama Cahyo. Tak sekedar deg-degan..Pasti salah tingkah di depan Cahyo.
“Kumohon Fit..Ya..Temani aku kali ini,” desak Rihana.
“Hei Neng..mana ada sejarahnya orang yang mau ngedate, malah minta antar..lucu kali kalau kayak begitu.” celetuk Fitriani protes.
“Ya kan kali ini aja. Janji nanti aku traktir kamu makanan yang paling enak.” Rihana ngasih iming-iming Fitriani.
“Hmmm…..nggak mau..Tapi, kalau dikasih uang semiliar baru aku mau! Hahahaha!” canda Fitriani sembari melepas tawa.
“Ih apaan sih!” celetuk Rihana.
“Ayolah Fit. Cuma kamu yang bisa aku andalkan!” rayu Rihana lagi, lebih lembut.
“Dia ini aneh banget memang. Coba kamu tanya in siapa…..gitu orang-orang di luar sana, ada nggak sih orang mau ngedate sama gebetannya, malah minta antar!” Fitriani tetap saja menolak permintaan Rihana, dengan seribu alasan.
“Please. Kumohon. Kali ini saja. Bantuin aku. Janji aku akan kasih kamu hadiah terbaik yang aku punya.” Rihana juga tak kalah memelas ke Fitriani.
Fitriani terdiam. Dia masih mikir mau alasan apa lagi ke Rihana, untuk menolak permintaan sahabatnya yang aneh itu.
“Ya sudahlah kalau nggak mau bantu aku, aku batalin aja jumpa sama Cahyo. Jujur, aku pasti bakalan canggung kalau di depan dia, tanpa ada kamu.” Rihana tampak kecewa.
“Eh jangan begitu dong. Katanya mau berjuang dapatkan hati Cahyo. Terus kalau kamu menyerah, artinya menyerah sebelum berperang dong!” ucap Fitriani mencoba mempengaruhi Rihana, agar tak membatalkan rencana pertemuannya dengan Cahyo.
“Nggak Fit. Aku batalin aja. Soalnya, jujur aku pasti canggung di depan dia. Mungkin, kali ini nggak rejeki aku, jumpa Cahyo.” sebut Rihana lagi tampak makin kecewa.
“Ceilahhh. Begitu aja sudah nyerah. Berjuang sedikit dong, Neng Rihana. Aku bisa bantuin cuma dengan doa. Semangat ….semangat!” kata Fitriani berapi-api.
“Semangat sih. Tapi kalau memang timenya lagi lemah, gimana?” protes Rihana lagi, dengan wajah yang ditekuk.
“Ri. Maaf nih sebelumnya. Tapi kamu yakin kan hati kamu untuk Cahyo?” pertanyaan Fitriani yang mudah buat dijawab Rihana.
“Seratus persen yakin.” jawab Rihana mantap.
“Terus kenapa dibatalin janjian ngedate sama Cahyo?” kilah Fitriani setengah mengejek Rihana.
“Ih siapa yang batalin?!” balas Rihana tak mau kalah.
Tiba-tiba Rihana berubah pikiran. Dia akhirnya ingin melanjutkan rencananya, ngedate dengan Cahyo.
“Ya udah. Siap-siaplah kalau memang mau ketemuan sama Cahyo. Sedih tahu, dia. Kalau kamu tiba-tiba batalin janjiannya.” Fitriani berlagak sok tahu soal respon Cahyo andai tiba-tiba Rihana batal ketemuan.
Akhirnya Fitriani pun menutup pembicaraan. Fitriani dan Rihana balik ke rumahnya masing-masing.
“Bismillah semoga aku pede saat ketemuan sama Cahyo.” gumam Rihana, yang masih tak yakin dengan rasa percaya dirinya.
Rihana lama, berdiri di depan kaca. Berputar. Memeriksa bentuk tubuhnya sendiri.
“Ih gendut gini aku ya,” ucap Rihana serius.
“Ih malu, katemu sama Cahyo. Pasti dia bilang aku gendut,” masih kata Rihana yang bicara sendiri.
“Tapi, bukankah tampil apa adanya itu lebih baik,” bisikan itu kini sedikit menenangkan Rihana.
“Aku harus diet nih!” pungkasnya penuh tekad membara.
“Rajin nge-gym!” tukasnya lagi, lebih berapi-api.(*)













