Batam, Posmetrobatam.co: BP Batam mempercepat transformasi Pelabuhan Batu Ampar dengan menerapkan skema direct billing yang memungkinkan pengguna jasa bertransaksi langsung dengan operator terminal. Sistem ini diyakini memangkas biaya logistik, meningkatkan transparansi, sekaligus mempercepat pelayanan kepelabuhanan.
Transformasi tersebut menjadi pembahasan utama dalam Sosialisasi dan Diskusi Transformasi Pelabuhan Batu Ampar yang mempertemukan BP Batam, PT Batam Terminal Petikemas, serta pelaku usaha logistik dan jasa kepelabuhanan.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kota Batam, Yasser Hadeka Daniel, menyebut direct billing sebagai perubahan yang telah lama dinantikan pelaku usaha. Selama ini, perusahaan freight forwarder harus bertransaksi melalui pihak perantara sehingga menambah biaya operasional.
“Dengan direct billing, kami bisa bertransaksi langsung dengan operator terminal sehingga biaya perantara dapat dihilangkan,” kata Yasser, Rabu (1/7).
Ia menegaskan penerapan sistem tersebut tidak menaikkan tarif layanan. Sebaliknya, penyederhanaan rantai transaksi berpotensi menekan biaya logistik hingga sekitar 30 persen.
Menurut Yasser, transformasi Pelabuhan Batu Ampar juga meningkatkan kualitas layanan bongkar muat melalui penggunaan peralatan modern, seperti ship to shore (STS) crane, yang mendukung pelayanan berstandar internasional.
“Ini menjadi kabar baik bagi freight forwarder maupun cargo owner karena biaya logistik lebih efisien dan pelayanan pelabuhan semakin baik,” terangnya.
Melalui sosialisasi itu, anggota ALFI juga memperoleh penjelasan mengenai proses registrasi perusahaan dan mekanisme teknis sebelum direct billing diterapkan secara penuh.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan penerapan direct billing merupakan bagian dari transformasi tata kelola pelabuhan yang mengutamakan transparansi, akuntabilitas, dan penyederhanaan administrasi.
Melalui skema tersebut, seluruh pembayaran layanan terminal dilakukan langsung kepada operator sesuai layanan yang digunakan.
“Transformasi ini menciptakan sistem pelayanan yang lebih sederhana, terbuka, terdokumentasi, serta memberikan kepastian bagi seluruh pengguna jasa,” jelasnya.
Basori menambahkan, keberhasilan implementasi direct billing memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi pelaku usaha logistik.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, mengatakan transformasi tersebut mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja operasional dan penerimaan kepelabuhanan.
Hingga akhir Juni 2025, penerimaan Direktorat Pengelolaan Kepelabuhanan mencapai Rp219,75 miliar atau 55 persen dari target tahunan Rp401,86 miliar. Nilai itu meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp189 miliar.
Dari sisi operasional, kunjungan kapal barang dan penumpang mencapai 54.876 call atau naik 15 persen. Total Gross Tonnage (GT) juga meningkat 18 persen menjadi 34,87 juta GT.
Volume peti kemas yang ditangani pelabuhan di bawah BP Batam mencapai 359.944 TEUs atau tumbuh 15 persen. Aktivitas ekspor-impor mendominasi dengan 273.004 TEUs, naik 18 persen, sedangkan peti kemas domestik meningkat 6 persen menjadi 86.940 TEUs.
Selain itu, arus barang umum mencapai 5,42 juta ton atau naik 12 persen, sementara jumlah penumpang feri domestik dan internasional mencapai 4,64 juta orang, meningkat 8 persen dibandingkan Semester I 2024.
Ke depan, kapasitas Terminal Peti Kemas Batu Ampar juga ditargetkan meningkat hingga 2 juta TEUs untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang dan perdagangan.(hbb)









