ISTRI PAJANGAN Bagian 97: Zulaikha Pura-Pura Pingsan

karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Setelah menunjukkan Zulaikha tempat wudhu, dan memberinya mukena, lalu mengantarkannya ke kamar khusus untuk sholat, Rihana pun meninggalkan Zulaikha sendiri di kamar itu.

Lima belas menit kemudian, Rihana melihat Zulaikha tampak terbaring di atas sajadah. Rihana mendekatinya.

“Kenapa dia tidur?” pikir Rihana sedikit emosi. Maksudnya apa, dia tidur di kamar.

Rihana pun mencoba membangunkan Zulaikha. Tapi betapa terkejutnya Rihana, saat mengetahui Zulaikha tak sadarkan diri, saat itu.

Rihana berlari dengan panik, lalu berusaha membangunkan Cahyo.

“Mas. Mas…..Mas…bangun. Coba lihat Zulaikha kayaknya pingsan.” sebut Rihana panik.

Spontan Cahyo bangun lalu mendatangi Zulaikha yang terlihat memang tak bergerak.

Tanpa berpikir panjang, Cahyo memeriksa nadi tangan Zulaikha. Ironisnya Zulaikha masih tak bergerak.

“Aduh gimana ini Mas. Kalau dia mati disini, kita repot jadi saksi di depan polisi,” ucap Rihana masih kebingungan.

“Tolong ambilkan minyak angin.,” pinta Cahyo.

Bersamaan dengan itu, Zulaikha menyerahkan secarik kertas pada Cahyo.

“Sttt…Mas. Jangan berisik.” ucap Zulaikha pelan. Zulaikha menyelipkan kertas itu ke saku celana belakang Cahyo. Cahyo tak sempat bertanya, kertas apa itu.

Semua sudah dirancang Zulaikha. Dia terpaksa melakukan itu, demi untuk bisa berkomunikasi dengan Cahyo.

Cahyo langsung meninggalkan Zulaikha yang ternyata diketahui pingsannya itu hanya pura-pura.

Rihana heran melihat Cahyo meninggalkan Zulaikha di kamar itu. Padahal lima menit yang lalu dia minta minyak kayu putih.

“Mas ini minyak kayu putihnya,” kata Rihana sembari menyerahkannya ke Cahyo.

“Kamu aja Ri yang oleskan ke hidungnya. Nggak mungkin kan, kalau aku,” Rihana lega. Sebenarnya tadi Rihana cemburu juga kalau Cahyo yang langsung mengoleskan minyak kayu putih itu ke hidung Zulaikha.

Rihana pun mendatangi Zulaikha. Lalu, mengoleskan minyak kayu putih itu ke hidungnya Zulaikha, sesuai arahan Cahyo.

Seketika, Zulaikha sudah siuman.
“Maaf, Mbak. Aku kecapekan sepertinya. Maaf ya Mbak sudah merepotkan.” Zulaikha pun berusaha memperbaiki duduknya. Lalu melepas mukena yang masih menutupi tubuhnya itu.

“Saya pamit dulu ya Mbak,” ucap Zulaikha beranjak pergi meninggalkan Rihana.

Rihana merasakan ada yang aneh dengan Zulaikha. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan ke udara langit-langit kamar yang baru saja dipinjam Zulaikha untuk menumpang sholat.

Rihana pun mendatangi Cahyo, di kamar.

“Udah pulang Mas, perempuan sialan itu. Heran aku, ada-ada saja, pakai numpang sholat. Rumahnya kan cuma lima langkah dari rumah kita.” protes Rihana bersungut-sungut.

BACA JUGA:  Ungkap Fakta soal Kabar Ruben Onsu Kritis di Rumah Sakit

Cahyo terdiam. Karena dia masih memejamkan matanya, di atas ranjang tidur itu.

“Mas. Nggak isya’an?! Sebentar lagi jam sudah mau jam delapan?!” ucap Rihana mengingatkan.

Cahyo pun bangkit dari tidurnya.
“Maaf ya kalau tadi aku nggak bantuin kawan kamu itu,” ucap Rihana.

“Ya nggak apa-apa. Lagi pula aneh aja dia itu. Rumah dekat pun, pakai acara numpang sholat.” kata Cahyo, menyalahkan Zulaikha.

***
Keesokan paginya, Cahyo iseng membuka secarik kertas yang diberikan Zulaikha kemarin.

“Mas. Aku mau ngomong sesuatu. Penting. Ini menyangkut masa depan anak kita?!” tulis Zulaikha singkat.

Cahyo terkejut membaca kalimat itu. Bahkan dia membaca ulang kalimat itu.

“Maksudnya apa coba?!” Cahyo heran.

Cahyo pun terpaksa membuka nomor Zulaikha yang selama ini dia blokir. Karena Cahyo memang sudah bertekad tak ingin memberi akses sekecil apa pun buat Zulaikha.

“Zulaikha. Maksud kamu apa dengan kalimat yang kamu tulis di selembar kertas ini?!”

Zulaikha lega, akhirnya Cahyo merespon surat kecil di secarik kertas itu.

Zulaikha mengirimkan foto seorang bayi mungil perempuan ke nomor Cahyo.

“Tolong aku nggak mau terlibat dengan permainan akal bulusmu?!” balas Cahyo saat merespon foto bayi yang dikirim Zulaikha itu.

“Dia sudah besar sekarang Mas,” balas Zulaikha sembari mengirimkan foto bocah yang sudah berusia 5 tahun.

“Sampai detik ini dia nggak tahu siapa ayah biologisnya. Karena dia hidup dengan ayah sambungnya,” terang Zulaikha.

Cahyo semakin nggak mengerti dengan sandiwara yang disusun Zulaikha.

Seingat Cahyo, dia memang sempat bermalam di kos-kosan Zulaikha, waktu itu, tapi kejadian itu sudah sepuluh tahun yang lalu.

“Nggak mungkin aku menghamilinya!” protes Cahyo dalam hati.

“Permainan setan ini namanya!” Cahyo mulai terbakar emosi.

Rasanya dia nggak mungkin melakukan perbuatan keji itu.

“Waktu itu kamu mabuk Mas, ingat kan?! Kita balik dari club, kehujanan. Terus kamu bilang kepala kamu pusing. Kamu mau tidur di kos aku!” Zulaikha berusaha mengingatkan kenangan lama itu.

Cahyo ingat, malam itu memang dia dalam kondisi mabuk berat. Tapi apa mungkin dia menghamili Zulaikha?!

Tak ingin berpikir terlalu lama, Cahyo segera membakar secarik kertas itu, di atas asbak rokoknya.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 77: Riko Minta Makan Gudeg

Dia nggak ingin Rihana tahu soal masalah ini.

Cahyo berusaha melupakan kejadian pagi ini. Lalu menghapus foto bayi dan juga foto bocah yang berusia empat tahun yang dikirim Zulaikha ke ponselnya itu.

Dada Cahyo serasa sesak. Sebatang rokok yang tadi sempat diletakkan begitu saja di atas asbak itu, dia lanjutkan.

“Ya Allah ujian apa lagi ini. Hamba ingin hidup tenang dengan keluarga hamba yang baru, jangan Engkau uji lagi hidupku,” pinta Cahyo berdoa dalam hati.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 wib, sekretaris pribadinya masuk ke ruangan kerja Cahyo.

Sebut saja Siska. Dia mengingatkan ada jadwal acara yang harus dihadiri Cahyo.

Karena tak konsentrasi, dan perasaannya lagi kalut, Cahyo terpaksa membatalkan kehadirannya di acara itu.

“Tolong Siska. Saya nggak hadir. Saya mau bagian TU saja menggantikan kehadiran saya,” sebut Cahyo serius.

Siswa juga sedikit heran. Pagi ini dilihatnya Cahyo seperti sedang ada masalah.

“Saya izin ada pertemuan lain, jadi bilang sama bagian tata usaha untuk menggantikan saya,” pesan Cahyo ke Siska. Perempuan muda itu hanya menganggukkan kepala.

***
Di sepanjang perjalanan, Cahyo sedikit tak tenang.
“Nggak mungkin bocah itu anak aku.” protes Cahyo, merasa tak terima dengan cerita yang disampaikan Zulaikha, kalau Cahyo adalah ayah biologisnya.

“Kamu licik, Zulaikha!” Cahyo emosi.

“Aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu yang licik!” bisik Cahyo bicara sendiri dibalik kemudi mobilnya itu.

Untuk menenangkan pikiran, dia harus balik ke rumah, istirahat.

Setengah jam kemudian, Cahyo tiba di rumah. Dilihatnya Zulaikha ada di rumah.

Debar jantung Cahyo tak karuan. Dia khawatir kalau Zulaikha menceritakan masa lalunya, dan anak itu, pada Rihana.

“Benar-benar jahanam perempuan ini,” batin Cahyo masih tersulut emosi saat melihat kehadiran Zulaikha.

“Lho tumben Mas sudah balik!?” sapa Zulaikha.

Spontan, Rihana pun cemburu melihat gaya bicara Zulaikha yang sedikit dibuat manja saat bicara sama Cahyo.

Cahyo tak menjawab. Dia langsung ngeloyor masuk ke kamar.

Zulaikha pun pamit ke Rihana.
“Mbak, Sekali lagi makasih ya sudah menolongku kemarin saat aku pingsan. Maaf sudah merepotkan,” ucap Zulaikha, lalu bergegas meninggalkan rumah Rihana.

Dilihatnya di kamar, Cahyo seperti sangat kelelahan. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 09.00 wib.

Rihana duduk di pinggir ranjang. Lalu memijat kaki Cahyo.

BACA JUGA:  Ini Cara Aurelie Moermans Berjuang Hadapi Situasi Sulit

“Tumben Mas balik pagi?!” Rihana heran.

“Lagi nggak enak badan aku!” jawab Cahyo.

“Tunggu aku buatkan teh hangat ya,” kata Rihana.

Dia bergegas menuju dapur membuat teh panas.

Cahyo masih terbayang dengan kalimat yang ditulis Zulaikha, meski kertas itu sudah berusaha dia bakar.

“Jangan uji aku lagi ya Allah!” Cahyo bingung. Tak habis pikir kenapa Zulaikha terus mencari cara untuk mendekatinya.

Tak lama, Rihana membawakan secangkir teh panas buat Cahyo, lengkap dengan sepotong kue bolu yang masih tersisa di kulkas.

“Tadi aku bilang mau ada acara. Tapi sebenarnya aku agak nggak enak badan. Kalau mau terus terang, kan nggak mungkin, heheheheh!” jelas Cahyo.

“Nanti orang kantor bilang kalau kepala PLN yang baru, manja. Kan lucu!” seloroh Rihana.

Cahyo melepas tawa. Lalu diseruputnya sedikit demi sedikit, teh buatan Rihana itu.

“Aku tutup aja rumah makanya ya Mas. Aku mau masakin kamu bubur ayam!” sebut Rihana.

Cahyo langsung menolak.
“Eh nggak usah repot sayang. Aku sakit kepala aja. Butuh istirahat sebentar. Paling satu jam lagi sudah enakan.”

Rihana tetap saja bersikukuh untuk membuatkan bubur ayam kesukaan Cahyo. Karena, kalau nggak enak badan, Cahyo pasti minta dibuatin bubur ayam, campur kacang kedelai.

“Nggak apa-apa Mas. Pokoknya harus dimakan kalau aku buatkan bubur ayam.” Rihana memaksa.

Hingga akhirnya Cahyo pun pasrah.

“Ya deh..Nanti aku makan…itu kan makanan favorit aku,”

Rihana lega karena Cahyo akhirnya bersedia makan bubur ayam buatannya.

Ponselnya berdering di tengah kesibukannya itu.
Rihana cuek. Karena dia tak ingin proses masak bubur ayamnya jadi lama kalau harus menerima telepon dari seseorang.

Si penelepon itu sepertinya tak ingin menyerah. Entah berapa kali, ponsel Rihana berdering.

“Siapa sih. Meneleponnya nggak aturan!” Rihana kesal hingga mematikan ponselnya, dan fokus memasak bubur ayam buat suaminya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *