Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Sudah sepekan, usaha Rihana berjalan sesuai dengan impiannya. Meski terkadang ada saja kejadian-kejadian yang sedikit menguras emosinya. Rihana selalu ingat pesan suaminya, harus sabar kalau mau jadi pengusaha sukses.
Kata Cahyo, “Sabar sayang. Semua hal di dunia ini, pasti ada cobaannya sendiri-sendiri. Kadang didatangkan pembeli yang baik, kadang didatangkan pembeli yang tak baik. Itu ujian buat penjual. Sabar nggak menghadapinya.”
“Iya…….sayang my husband,” jawab Rihana yang mulai mengantuk.
“Sayang. Aku lagi dapat,” kata Rihana yang coba memberi kode pada Cahyo, karena sedang berhalangan.
“Memangnya kalau dipeluk mau ngapain. Kan cuma peluk aja.” goda Cahyo yang juga terlihat mulai mengantuk.
“Ya sudah tidur yang sopan ya.” kata Rihana sembari cengar-cengir melirik Cahyo yang tangannya berusaha mengganggu Rihana.
“Iya iya sopan.” Cahyo pun benar-benar memejamkan matanya.
Rihana melirik jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 01.00 wib. Hari sudah larut malam. Besok pagi-pagi sekali, Rihana harus bangun menyiapkan keperluan bahan-bahan bumbu masakannya. Cahyo, harus ngantor pagi-pagi jam 07.00 wib, berangkat dari rumah, jam 06.00 wib.
Jam 08.00 wib, sebagian masakan Rihana, siap dipajang di etalase rumah makannya.
Biasanya, pukul 10.00 wib, semua baru siap tersaji.
Hari itu, Rihana sedikit heran, karena ada beberapa kontainer jualan diturunkan seorang pria, dari pick up.
Ada sekitar lima kontainer.
“Apaan itu ya?! Kayaknya mau ada pedagang makanan baru, di dekat sekitar area jualannya.
Kontainer-kontainer itu diletakkan tak jauh dari ruko tempat Rihana membuka usaha rumah makan Padangnya.
Setelah semua kontainer itu diturunkan oleh beberapa pria, tak lama kontainer itu dipasang spanduk sebagai penanda / pemberitahuan menu apa yang akan dijual si penjualnya.
Kontainer pertama, ditulisi “Pecel Pincuk Sepuluh Ribuan.”
Kontainer kedua, “Nasi Padang Serba Sepuluh Ribuan.”
Kontainer ketiga, “Minuman Es Teh Serba Lima Ribuan.”
Kontainer keempat, spanduknya bertuliskan jualan cilok bakar serba seribuan.
Kontainer kelima, ditulisi Aneka Mie Pakai Mangkok, Serba Lima Ribuan.”
Membaca tulisan-tulisan spanduk yang dipasang di gerobak itu, Rihana langsung lemes.
Di otaknya kebayang, bakal ramai diserbu pembeli, kalau gerobak-gerobak itu jualan makanan, yang harganya semua di bawah harga nasi Padang jualannya.
“Terus gimana ini jualan aku. Selama ini aku pasang harga nasi Padang Serba 12 ribuan.” gumam Rihana, serasa tak bertenaga sejak melihat kedatangan kontainer-kontainer itu di area tempat usahanya.
“Lagi pula, maksud orang ini apa ya. Buka usaha di dekat tempat jualan aku. Terus pasang tarif makanan semurah mungkin. Mau menghancurkan usaha aku?!” Rihana mau marah. Tapi mau marah sama siapa. Sebab, belum tahu siapa bos-bos pemilik kontainer itu.
Apa yang dilihat Rihana hari ini, rasanya bikin dia syok!
Cahyo yang baru menyadari keberadaan kontainer-kontainer itu karena dia baru saja selesai mandi, juga ikutan syok!
“Masya Allah. Kontainer itu banyak sekali. Punya siapa ya. Gila banget promosi mereka. Pasang harga murah-murah.” ucap Cahyo, yang mengetahui kontainer-kontainer itu.
“Mas nanti kamu telat. Biarin aja kontainer itu. Nggak usah dilihatin,” ucap Rihana lemah.
“Sabar ya sayang. Pasti kamu sedih kan karena ada pesaingnya. Baru juga sepekan kita buka rumah makan, ada aja cobaannya.” Cahyo bisa merasakan kesedihan di raut wajah istrinya itu.
“Tenang Mas, rejeki sudah ada yang atur,” jawab Rihana pura-pura kuat mengatakan itu.
Cahyo tahu, Rihana mengatakan itu terpaksa, demi menutupi kesedihannya.
“Syukur banget aku punya istri yang tangguh seperti ini. Nggak gampang menyerah dengan keadaan.” puji Cahyo sembari bersiap-siap hendak pergi ke kantor.
“Kan kamu yang mengajari aku Mas, harus sabar!” imbuh Rihana.
“Ya Allah terima kasih, istri aku ini memang hebat.” Cahyo mencium kening Rihana lagi untuk menenangkan hati Rihana.
“Ya sudah aku pamit ke kantor dulu ya. Abaikan aja kontainer di depan kita ini. Rejeki sudah ada yang atur.” Cahyo pun bergegas pergi meninggalkan rumah.
Tapi, rasa penasarannya masih begitu melekat di benaknya.
Ia tak habis pikir, dimana otak si pedagang kontainer-kontainer yang baru datang itu.
Cahyo mencium ada gelagat aneh dan niat buruk, dari tujuan si pemilik kontainer-kontainer itu.
“Kalau memang tak ada niat buruk, kenapa harus buka usaha di dekat rumah makan Rihana?! Kenapa harus pasang harga semurah-murahnya?!” Secara tak langsung, Cahyo jadi ikut kepikiran soal keberadaan kontainer itu.
“Ya Allah, beri kesabaran untuk kami. Semoga Rihana tak terlalu cemas akan kelangsungan rumah makannya itu.” Cahyo berdoa dalam hati.
Sepertinya konsentrasi Cahyo terpecah. Dia, nyaris menabrak kucing yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya. Untung saja mobilnya bisa menghindar dan tak ada kendaraan lain di belakang yang dikemudikan Cahyo.
Debar jantung Cahyo tak karuan.
“Alhamdulillah tak kenapa-kenapa, aku dan juga kucing yang menyeberang tiba-tiba itu!” batin Cahyo.
Sementara itu, Rihana benar-benar tak semangat hari ini. Ada rasa penasaran dan seribu tanda tanya soal keberadaan kontainer-kontainer itu.
Ia mencoba iseng menanyakan siapa pemiliknya. Tapi tak ada yang mengetahuinya.
“Maaf Bu. Kami tak tahu. Ketika ada yang order, kami kerjakan, terus kami antar barangnya ke lokasi sesuai permintaan yang order. Kami ini hanya karyawan, Bu.” jelas salah seorang pria, dari mereka-mereka yang menurunkan kontainer-kontainer itu.
“Oh begitu,” Rihana masih penasaran.
Akhirnya Rihana kembali menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda. Bahkan, saking tak semangat nya, Rihana nyaris mau memutuskan hari itu rumah makannya tutup sehari.
“Eh kenapa aku jadi tak semangat. Astagfirullah,” batin Rihana. Ia teringat satu hal, Cahyo memberikan modal yang tak main-main untuk membuka usaha rumah makan nya itu.
“Ya sabar…..sabar……nggak boleh kepancing apa pun yang terjadi di sekitar kita. Harus fokus sama tujuan sendiri. Soal rejeki, sudah ada yang atur,” batin Rihana berusaha sadar.
“Gimana sayang. Tahu nggak siapa pemilik kontainer itu?!” tanya Cahyo lewat chat.
“Nggak tahu aku Mas. Tadi aja aku iseng tanya ke orang-orang yang nurunin kontainernya. Mereka cuma karyawan yang buat kontainer. Soal siapa yang order, mereka nggak tahu. Tahunya, diperintah bos, antar kontainernya sesuai alamat yang tertera di kwitansi.” jelas Rihana panjang lebar.
Mendapat balasan itu, Cahyo menghela nafas panjang. Hari itu, rasanya Cahyo juga tak punya semangat kerja, gara-gara lihat kontainer yang tiba-tiba diletakkan berderet, dan jumlahnya, tak tanggung-tanggung, lima kontainer.
Rasanya Cahyo ingin mengirimkan sumpah serapah buat si pengusaha yang tak punya otak itu.
Cahyo cepat-cepat beristighfar. Mengingat orang marah adalah teman iblis.
“Astaghfirullah ya Allah ampuni hamba. Bukan berniat iri atau cemburu dengan apa yang dilakukan orang lain. Hamba mohon maaf,” Cahyo merasa bersalah.
“Ya sudah sayang. Apa pun godaannya. Kita akan tetap hadapi berdua. Tenang saja. Kalau memang yang pemilik kontainer itu punya niat buruk, menyaingi usaha kamu, Allah yang akan balas.” Cahyo menenangkan Rihana untuk yang kesekian kalinya.
“Sayang. Nanti kalau rumah makannya sudah tutup, aku mau ajak kamu dan anak-anak lihat lokasi. Kita mau bangun rumah.” ucap Cahyo berusaha menyenangkan Rihana.
“Hah. Seriusan Mas?!” Rihana selalu dibuat terpana oleh Cahyo. Cahyo selalu memberikan yang terbaik untuk dia dan anak-anak.
Meski Riko dan Gilang hanya anak sambung Cahyo, tapi perlakuan Cahyo pada keduanya, sangat baik.
“Ya serius. Kita lihat dulu ya lokasinya. Kalau kamu setuju, kita akan mulai pembangunan rumahnya. Biar kita nggak ngontrak lagi. Capek nggak sih ngontrak!” Cahyo srius mengatakan itu by ponsel genggamnya.
Rihana yang seharian itu dibuat tak bersemangat gara-gara kontainer, tiba-tiba diberi suntikan semangat sama Cahyo.
“Ya Allah Mas. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih sama kamu. Karena sudah berusaha membahagiakan aku dan anak-anak.” balas Rihana yang tak kuasa menahan air mata nya.
Air mata itu, bukan air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia.
“Yaaaa! Membahagiakan istri itu kewajiban suami,” balas Cahyo penuh bahagia.
“Desain rumahnya nanti kamu yang tentukan,” kata Cahyo.
Sampai di kalimat itu, Rihana tak membalasnya. Karena fokus melihat kedatangan seorang perempuan yang begitu dia kenal.
“Itu Zulaikha?!” Rihana menghentikan aktifitasnya.
Dia menyaksikan Zulaikha datang bersama tim nya.
“Sepertinya lima orang itu yang akan dipekerjakan untuk menjaga kontainernya,” tebak Rihana.
“Oh jadi kamu, Zulaikha yang mau dalangnya!” Rihana sedikit menahan emosi nya.
“Ingat Rihana. Jangan emosi.” batin Rihana kesal.
Rihana langsung mengambil gambar Zulaikha dari jauh, secara diam-diam.
Lalu, foto Zulaikha itu dikirim ke Cahyo.
Cahyo langsung menelepon Rihana.
“Ya ampun. Ternyata perempuan sialan itu!” Cahyo emosi di ujung ponsel genggamnya itu.
Suasana berubah mendadak jadi panas. Sepanas hati Cahyo, setelah mengetahui ternyata dalangnya adalah Zulaikha.
“Bener-bener gila kamu Zulaikha!” (*)













