Batam Menuju 6 GW: Bisakah Listrik Tetap Stabil di Tengah Transisi Energi?

Sesi foto bersama usai pelatihan jurnalistik di SMA N 20 Batam yang digelar Posmetro dan PLN Batam.

BATAM membutuhkan listrik dalam jumlah yang semakin besar. Namun, ketika kebutuhan listrik didorong oleh pertumbuhan industri dan ekonomi digital, sistem kelistrikan di pulau ini juga dituntut beralih ke energi yang lebih bersih tanpa kehilangan kestabilannya.

Pertanyaannya, mampukah Batam memenuhi lonjakan kebutuhan listrik di tengah transisi energi?

Dalam materi yang disampaikan Manajer Transisi PT PLN Batam, M Affandi bertajuk “Cetak Biru Kelistrikan Masa Depan: Mengatasi Tantangan Transisi Energi di Pulau Batam”, dijelaskan, beban puncak listrik Batam tercatat mencapai 690 megawatt (MW) pada 2024. Kebutuhan tersebut diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 6 gigawatt (GW) pada 2034.

Pertumbuhan industri dan ekonomi digital menjadi salah satu pendorongnya. KEK Nongsa Digital Park, misalnya, diproyeksikan membutuhkan daya hingga 1.075 MVA.
Artinya, Batam tidak hanya membutuhkan lebih banyak listrik. Batam juga membutuhkan sistem yang mampu menjaga pasokan tetap stabil.

BACA JUGA:  Menyalakan 22 Persen Batam-Bintan dari Gas Bumi Kepri: PLTGU Tanjung Uncang, Efisiensi Kelas Nasional

Di saat yang sama, PLN mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT). Masalahnya, pasokan energi terbarukan seperti tenaga surya bergantung pada cuaca.

Ketika intensitas matahari berubah, produksi listrik juga dapat berubah.

Kondisi tersebut membuat sistem kelistrikan membutuhkan teknologi yang dapat menjaga keseimbangan antara jumlah listrik yang tersedia dan kebutuhan listrik. PLN menyiapkan Battery Energy Storage System (BESS) dengan komitmen kapasitas hingga 725 MW. Teknologi ini dapat menyimpan energi dan menggunakannya kembali ketika dibutuhkan. BESS juga dapat membantu merespons perubahan pasokan listrik dengan cepat.

Selain BESS, PLN juga menyiapkan teknologi grid-forming untuk membantu menjaga kestabilan sistem saat terjadi perubahan atau gangguan. Rencana interkoneksi Sumatera–Batam melalui kabel bawah laut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kelistrikan.

BACA JUGA:  PLN Batam Tingkatkan Keandalan Listrik untuk Mendukung Pertumbuhan Kota

Dengan berbagai teknologi tersebut, transisi energi Batam tidak hanya bergantung pada penambahan pembangkit EBT. Jaringan listrik dan teknologi pendukung juga perlu dikembangkan agar mampu menghadapi perubahan pasokan listrik.

Pada akhirnya, Batam menghadapi dua kebutuhan sekaligus: menyediakan lebih banyak listrik untuk pertumbuhan wilayah dan meningkatkan penggunaan energi yang lebih bersih. Keduanya harus berjalan tanpa mengorbankan kestabilan listrik.(*)

(Hafivha Mawarda, Siswi Kelas: Fase-E Guwiratna, SMA N 20 Batam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *