ISTRI PAJANGAN Bagian 83: Tamu Tak Diundang

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Cahyo membayar uang sewa ruko yang diinginkan Rihana. Maka, sejak itu, Cahyo, menyerahkan sepenuhnya apa yang menjadi keinginan Rihana.

“Mas. Boleh nggak aku buka usaha rumah makan Padang.” kata Rihana penuh antusias.

“Serius? Terus yang bantu siapa? Harus banyak pembantunya kalau buka rumah makan Padang,” Cahyo tampak khawatir akan rencana Rihana.

“Tenang Mas. Nanti, aku buka kesempatan orang-orang yang pandai masak masakan Padang, aku minta antar dagangannya ke tempat aku. Nanti kalau habis, baru aku bayar,” sebut Rihana meyakinkan Cahyo.

“Bisa memangnya seperti itu?” Cahyo masih pasang wajah kebingungan.

“Hmmm. Siapa dulu, Rihana apa yang nggak bisa? Mau bisnis model apa aja aku bisa rancang Mas,” ucap Rihana lagi dengan mantap.

Hingga akhirnya Cahyo percaya seratus persen, Rihana bisa memulai bisnis yang dia inginkan.

“Dengan bismillah kita mulai hidup baru, di tempat ini,” Cahyo memberi semangat.

Rihana janji pada Cahyo, akan menjalankan usaha yang diberikan Cahyo, dengan sebaik mungkin.


“Mas. Aku butuh pesan etalase buat pajang lauk-lauknya.”

Cahyo langsung meresponnya dengan semangat.
“Oh ya..Bagus. Pesan aja. Nanti uang nya Mas transfer ya!” Cahyo lagi-lagi memberikan dukungan serius.

“Semangat ya sayang. Aku yakin kamu pasti sukses menjalankan bisnis nya,” Cahyo mengecup mesra kening Rihana.

“Makasih ya Mas atas semua dukungan kamu buat aku,” Rihana memeluk erat Cahyo.


Keesokan harinya, Rihana mulai membersihkan beberapa bagian ruko yang menurutnya tak berkenan di hati.

Beberapa orang pekerja bangunan, dia minta untuk mengecat bagian-bagian dinding yang kusam. Menambahkan aksesoris pendukung, untuk mempercantik suasana bangunan rumah makannya.

“Mas. Rumah makan kita ini bagusnya kita beri nama apa ya?” Rihana minta pendapat Cahyo.

“RM. Cahyo aja gimana?!” celetuk Rihana.

“Hmmmm. Jelek banget nama rumah makannya. Bagusnya Rumah Makan Bintang,” sebut Cahyo memberi saran.

BACA JUGA:  Segera Tayang di Indonesia, 'Exhuma' Film Terlaris di Korea Selatan Awal Tahun Ini

“Wah bagus ….bagus….Oke. Rumah Makan Bintang,” Rihana langsung setuju.

“Kalau begitu, nanti aku langsung pesan stiker bertuliskan Rumah Makan Bintang. Terus sama neon box nya ya Mas,” imbuh Rihana.

“Siap. Tinggal bilang aja. Mas akan bayar semua.”

“Makasih sayang,” ucap Rihana sekali lagi, entah yang keberapa kali.

“Ri. Aku mulai ngantor Senin depan ya. Aku nggak bantu kamu ya,” Cahyo tak enak hati, mengatakan itu.

“Ma…..Riko butuh motor Ma kalau ke sekolah. Kalau mama sudah jualan. Pasti mama sibuk dan nggak sempat antar Riko ke sekolah. Papa ke kantor. Terus nasib aku gimana ma?” Riko gelisah.

“Tenang Riko, papa belikan motor Mio ya buat kamu. Nggak apa-apakan? Bagus juga kok motor Mio, meski harganya sedikit murah dibandingkan motor lain,” Cahyo memberi lampu hijau pada Riko.

“Serius Pa. Mau mau Pa. Motor apa aja, Riko semangat Pa. Riko janji akan sekolah yang rajin.” sebut Riko berjanji di depan Cahyo.

Cahyo menepuk pundak Riko.
“Papa bangga sama kamu, Riko,”

Riko tersenyum bahagia. Karena dia merasa diperhatikan Cahyo.

“Mas. Jangan terlalu dimanjain si Riko. Nanti kalau punya motor, awas aja kalau dipakai kelayapan,” Protes Rihana.

“Nggak Ma..Riko janji nggak akan kelayapan.” ucap Riko bersemangat.


Rihana semakin mantap, mempersiapkan tempat usahanya. Hari ketiga, semua persiapan sudah hampir selesai.

“Tinggal menunggu etalase buat pajang makanannya,” gumam Rihana.

“Mbak permisi. Saya mau antar stiker pesanan Mbak. ini sudah ready,” Seseorang mengirimkan pesan itu ke Rihana.

Rihana minta pesanannya diantar ke alamat rukonya.

“Mas/ Mbak. Bisa nggak diantarkan ke alamat saya. Soalnya saya lagi sibuk mempersiapkan tempat usaha saya ini,” pinta Rihana.

“Oh oke Mbak. Tunggu kami lima belas menitan ya akan saya antar ke alamat Mbak Rihana.”

BACA JUGA:  Ini Kata Netizen Soal Selegram Zoe Levana Masuk Jalur Bus Way

“Okey!” balas Rihana.

“Ma..Berarti kalau mama buka rumah makan, Riko makan gratis ya Ma?” Riko cengar-cengir.

“Bayar!” sahut Rihana sedikit keras.

“Ih pelit banget mama!” celetuk Riko.
“Iya tanya papa kamu. Papa kamu aja nanti kalau makan, bayar,” tegas Rihana.

“Jadi, ma kapan pembukaan rumah makannya?!” Tanya Riko lagi.
Rihana mengatakan, rumah makannya itu akan dibuka secara resmi, dua hari lagi.

“Kalau Riko mau undang kawan-kawan Riko, datang ke acara pembukaan rumah makan mama, boleh kok. Kasih tahu mama ya Riko mau ajak kawannya, berapa orang.” sebut Rihana.

“Oh ya siap Ma!”
Riko mulai mendata, siapa-siapa saja yang akan dia undang ke acara pembukaan rumah makan orang tuanya itu.

“Yakin, kamu sayang, dua hari lagi mau dibuka?!” Cahyo sedikit heran.

“Tapi, etalase makanannya belum jadi kan? Cahyo ragu.

“Tenang Mas. Di saat peresmian rumah makannya, semua akan ready!” Rihana meyakinkan Cahyo penuh semangat.

“Oke…..semoga sukses ya sayang.” balas Cahyo.

“Orang-orang kantor Mas, undang aja Mas ya di hari H nanti. Biar mereka tahu. Kan lumayan kalau mereka tahu. Pasti makan siangnya di rumah makan kita,” Rihana terus bersemangat.

“Oke siap. Bu Bos Rumah Makan Bintang!”

Rihana mengukir senyum terindah di bibirnya.


Tepat di hari pembukaan rumah makannya, beberapa orang yang diundang Rihana, berdatangan. Teman kantor Cahyo dan juga teman sekolah Riko.

Beberapa papan bunga ucapan selamat, berderet di depan rumah makan Rihana, yang baru diresmikan itu.

“Ya Allah terimakasih atas semua anugerah-Mu ini,” kata Rihana dalam hati.

“Makasih ya sayang,” untuk kesekian kalinya Rihana mengucapkan terimakasih itu pada Cahyo.

“Sukses ya buat usahamu,” balas Cahyo.

Tiba-tiba, di tengah kebahagiaan itu, seorang tamu tak diundang, hadir disana.

Siapa lagi kalau bukan Zulaikha. Seingat Rihana, dia tidak mengundangnya.

Entah kenapa, tiba-tiba Rihana berburuk sangka pada Cahyo. Dia menuduh, Cahyo yang mengundang Zulaikha.

BACA JUGA:  Kang Dong Won Jadi Seorang Pembunuh Bayaran di Film Terbaru

“Kalau nggak ada tamu undangan ini, aku akan usir perempuan sialan itu,” pikir Rihana dalam hati, dengan rasa kesal.

“Kenapa sih dia itu selalu saja mengganggu hidup aku. Pasti dia diundang Mas Cahyo,” Rihana berburuk sangka pada Cahyo.

Tak terasa, waktu terus berlalu. Perlahan, beberapa tamu undangan mulai berangsur-angsur pamit undur diri.

Apalagi waktu menunjukkan pukul 17.45 wib. Waktu adzan Maghrib sebentar lagi akan dikumandangkan.

Rumah makan yang baru diresmikan keberadaannya itu, sudah sepi.

Rihana tak sabaran ingin membahas soal kedatangan Zulaikha.

“Mas..Boleh nggak aku tanya sesuatu?” Rihana sedikit menahan emosinya.

“Soal Zulaikha bukan?” Cahyo justru tahu apa yang hendak ditanyakan Rihana.

“Sumpah demi Allah aku nggak tahu soal kedatangan dia. Kenapa bisa tahu. Aku nggak ada mengundang dia.” tegas Cahyo serius.

“Tapi kenapa dia datang ya. Siapa dong yang undang dia ke acara kita?” Rihana terkesan masih menuduh Cahyo yang mengundangnya.

Cahyo terdiam. Dia nggak ingin berdebat lebih jauh soal Zulaikha.
“Sudah..Nggak usah dibahas lagi soal perempuan sialan itu,” kata Cahyo ingin mengalihkan pembahasan.

“Nggak penting itu sayang. Sekarang, kita pikirkan rumah makan ini saja. Pokoknya aku mau mulai sekarang jangan bahas hal-hal yang nggak penting ya sayang. Mending kita pikirkan menu makanan yang akan dijual,” ucap Cahyo lagi berusaha tenang, mengatakan itu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *