BATAM tumbuh bersama listrik. Pabrik, pusat data, dan rumah tangga membutuhkan energi yang tak boleh padam. Ketika penduduk mencapai 1,46 juta jiwa dan investasi digital terus berdatangan, PLN Batam menghadapi tantangan menambah daya sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Di Batam, listrik bukan sekadar urusan lampu yang menyala di rumah. Ia menghidupkan mesin pabrik, menjaga perdagangan tetap bergerak, dan menopang pusat data yang menyimpan informasi dari berbagai penjuru dunia. Kebutuhan itu terus membesar. Jumlah penduduk Batam telah mencapai 1,46 juta jiwa. Sementara itu, kota ini sedang menarik investasi pusat data berskala besar.
Menurut Badan Pengusahaan (BP) Batam, sedikitnya 20 proyek data center dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun telah berkembang di kawasan perdagangan bebas tersebut. Di balik angka investasi itu ada persoalan yang tak kalah penting: dari mana listrik untuk menghidupkan industri digital itu berasal?
PT PLN Batam menyiapkan sejumlah langkah. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan kebutuhan listrik memasuki fase yang lebih cepat dalam satu dekade mendatang.
Pada saat yang sama, investor global mulai menuntut pasokan energi yang lebih bersih. Batam harus menambah daya tanpa mengabaikan kebutuhan warga dan lingkungan.
Industri Digital Menunggu Daya
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djamy Francis mengatakan, Batam menjadi salah satu tujuan investasi pusat data di Indonesia. Letaknya yang dekat dengan Singapura, kawasan industri, jaringan kabel internasional, dan kemudahan investasi menjadi sejumlah alasan investor memilih kota ini.
“Hingga saat ini terdapat 20 proyek data center dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun yang berkembang di Batam,” kata Fary seperti dilansir Batam Pos.
Jumlah tersebut, menurut dia, belum mencakup proyek yang masih dalam tahap persiapan dan belum diumumkan kepada publik.
Sejumlah perusahaan global dan nasional telah mengembangkan fasilitas di Batam. Di antaranya EGSB/Range IDC, Princeton Digital Group (PDG), DayOne (eks GDS), Data Center First, PT GDS IDC Services, dan NeutraDC Nxera Batam.
Pusat data bukan industri yang hemat listrik. Ruangan server harus bekerja tanpa henti, sementara sistem pendingin menjaga suhu peralatan tetap stabil. Berdasarkan proyek yang telah diumumkan, total kapasitas pusat data yang diketahui di Batam telah melampaui 500 megawatt (MW).
DayOne Kabil Tech Park, misalnya, telah memperoleh perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) sebesar 450 MW dari PLN Batam. PDG mengembangkan fasilitas hingga 96 MW, BW Digital 120 MW, dan NeutraDC Nxera Batam 51 MW. Golden Digital Gateway berkembang menuju kapasitas 20 MW.
Angka-angka itu menggambarkan besarnya kebutuhan energi industri digital. Namun, kapasitas fasilitas data center tidak selalu sama dengan konsumsi listrik aktual.
Penggunaan daya bergantung pada tahap pembangunan, jumlah server yang beroperasi, dan kebutuhan pendinginan.
Selain listrik, pusat data membutuhkan air. Kebutuhannya berbeda-beda, bergantung pada luas bangunan dan teknologi pendingin yang digunakan.
Fary mengatakan BP Batam telah mengkaji daya dukung kawasan sebelum memberikan persetujuan investasi. Kajian mencakup ketersediaan listrik, air baku, air bersih, jaringan telekomunikasi, kesesuaian tata ruang, dan kesiapan kawasan industri.
“Hasil kajian menjadi dasar evaluasi setiap investasi sehingga pengembangan data center tetap memperhatikan keberlanjutan kawasan,” ujarnya.
Setiap investasi juga harus melalui evaluasi teknis kebutuhan utilitas sebelum memasuki tahap konstruksi. Dengan begitu, pengembangan industri digital tidak semata-mata mengejar nilai investasi, tetapi juga memperhitungkan kemampuan infrastruktur.
Arah pengembangan tersebut telah masuk dalam Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun. Batam diarahkan menjadi kawasan industri berbasis teknologi tinggi, termasuk data center, semikonduktor, kecerdasan buatan, komputasi awan, dan ekonomi digital.
Beban Listrik Melaju
Kebutuhan listrik Batam diperkirakan tumbuh lebih cepat pada tahun-tahun mendatang. M. Mawahib Affandi, Manager Transmisi PLN Batam, memaparkan hal itu saat pelatihan jurnalistik di SMA Negeri 20 Batam.
Menurut Affandi, pertumbuhan kebutuhan energi pada periode 2015–2024 berada di kisaran 6,4 persen per tahun. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 10,69 persen per tahun pada 2025–2034. Beban listrik diperkirakan melampaui 6 gigawatt (GW) pada 2034.
“Angka ini terus bergerak menuju era hyper-growth dengan perkiraan tahun 2025–2034 pertumbuhan energi menjadi sebesar 10,69 persen per tahun,” ungkap Affandi.
Hyper-growth menggambarkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan pola sebelumnya. Bagi sistem kelistrikan, kondisi ini berarti pembangkit, jaringan transmisi, dan gardu induk harus disiapkan sebelum permintaan mencapai puncaknya.
Lonjakan kebutuhan itu antara lain berasal dari pengembangan kawasan industri digital di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park dan KEK MRO Hang Nadim.
Kedua kawasan tersebut diproyeksikan membutuhkan daya hingga 1.075 megavolt ampere (MVA). Ekspansi manufaktur di KEK Kabil juga diperkirakan menambah kebutuhan pasokan sebesar 85 MVA.
Angka megavolt ampere atau MVA menunjukkan kapasitas daya listrik dalam sistem arus bolak-balik. Sementara itu, megawatt atau MW lebih lazim digunakan untuk menyatakan daya aktif yang benar-benar digunakan peralatan. Keduanya berkaitan, tetapi tidak selalu sama.
Bagi PLN Batam, tantangannya bukan hanya menambah pembangkit. Listrik harus disalurkan melalui jaringan yang mampu menampung beban besar dan tetap menjaga keandalan pasokan bagi rumah tangga serta industri yang telah beroperasi.
Energi Bersih Menjadi Tuntutan
Pertumbuhan pusat data menghadirkan persoalan lain. Banyak investor global mulai memperhitungkan sumber energi yang digunakan dalam operasional mereka. Listrik dari bahan bakar fosil tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan yang dipertimbangkan.
PLN Batam menargetkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) meningkat dari 0,11 persen pada 2024 menjadi 29,4 persen pada 2034.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di Waduk Tembesi dengan kapasitas 168 megawatt peak (MWp) dan Waduk Duriangkang sebesar 492 MWp. MWp merupakan satuan kapasitas puncak panel surya dalam kondisi pengujian tertentu, bukan jumlah listrik yang dihasilkan setiap saat.
Pembangkit surya memiliki karakter berbeda dengan pembangkit konvensional. Produksinya bergantung pada sinar matahari. Karena itu, sistem kelistrikan membutuhkan pengaturan dan penyimpanan energi agar pasokan tetap stabil ketika produksi surya menurun.
PLN Batam juga menyiapkan rencana impor energi bersih dari Sumatera melalui kabel bawah laut. Kapasitas yang diproyeksikan mencapai 700–1.200 MW, dengan target tahun 2031.
Rencana itu akan diperkuat dengan pengadaan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 725 MW. Baterai tersebut dirancang menggunakan teknologi Virtual Inertia.
Teknologi ini membantu sistem kelistrikan merespons perubahan frekuensi secara cepat. Affandi menyebut responsnya dapat berlangsung kurang dari 200 milidetik untuk membantu mencegah pemadaman mendadak.
Namun, penyimpanan energi bukan satu-satunya penentu keandalan. Kinerja jaringan transmisi, pembangkit cadangan, sistem proteksi, dan pengaturan beban tetap diperlukan untuk menjaga listrik tidak padam.
Menjaga Listrik Tetap Menyala
Bagi Batam, pertumbuhan ekonomi dan transisi energi berjalan bersamaan. Industri membutuhkan listrik yang cukup dan andal. Warga membutuhkan pasokan yang terjangkau. Investor menginginkan energi yang semakin bersih.
PLN Batam menyatakan optimistis dapat memenuhi kebutuhan energi tersebut, termasuk mengejar target peningkatan EBT. Tantangannya adalah memastikan rencana pembangkit, jaringan, dan penyimpanan energi berjalan sesuai jadwal. Sebab, kota industri tidak hanya dibangun oleh gedung dan mesin. Ia juga bergantung pada energi yang menghidupkan semuanya. (*)
(Penulis Faris Ilham Ramadhan, kelas 10 (Fase E-Wiyarta) SMA N 20 Batam)









