Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Pagi itu, Cahyo menerima pesan singkat elektronik dari kantor pusat PLN yang di Jakarta.
Dalam surat itu, Cahyo dinyatakan harus pindah tugas ke Jogja.
Tanpa berpikir panjang, Cahyo langsung menghubungi Rihana.
Mendengar Cahyo bakal dimutasi ke Jogja, Rihana hanya pasrah. Tapi di sisi lain, dalam hati, Rihana sedih.
“Selamat bertugas di tempat yang baru ya Mas?!” kata Rihana mengirim pesan itu dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Dia nggak bisa membayangkan bagaimana hidupnya setelah berpisah dengan Cahyo.
Bagaimanapun, Cahyo saat ini masih mengisi relung hatinya yang terdalam.
“Jadi, kamu nggak sedih ya kita mau berpisah?!” balas Cahyo.
“Aku ke rumah kamu ya, sebelum kita berangkat. Soalnya aku dikasih waktu tiga hari, untuk bersiap menuju ke Jogja.” kata Cahyo dengan rasa yang juga tak kalah hancur perasaannya, kalau sampai meninggalkan Rihana.
Karena, dia adalah belahan hatinya.
“Hah. Cepet banget Mas.” Rihana semakin tak terkontrol perasaan sedihnya ketika mendengar kata tiga hari, Cahyo diberi kesempatan siap-siap menuju ke Jogja.
Itu artinya, di pikiran Rihana, setelah tiga hari, berarti dia harus rela nggak bertemu Cahyo lagi.
“Iya, sesuai surat pimpinan, kita harus tiba di kantor yang baru, secepatnya. Makanya dikasih waktu hanya 3 hari, persiapannya.
Tiba-tiba juga, air mata Rihana meleleh.
“Ya Allah, baru saja punya teman berbagi dalam suka dan duka, tiba-tiba harus kehilangan Mas Cahyo. Entah kapan lagi aku dan dia dipertemukan kembali. Selamat bertugas di tempat yang baru aja ya Mas,” suara tangis Rihana terdengar dari ponsel Cahyo.
“Ih jangan nangis sayang. Aku akan ada selalu untuk kamu.” ucap Cahyo pelan.
“Ya udah, aku tutup dulu ya ponselnya. Aku on the way ke rumah kamu. Sudah ya…..aku nggak mau lihat calon istriku sedih,” ucap Cahyo lagi, berusaha menenangkan Rihana.
Dalam hitungan setengah jam, Cahyo sudah ada di kediaman Rihana.
Melihat kehadiran Cahyo, Rihana langsung menghambur memeluk tubuh pria yang dia puja-puja itu, sambil menangis sesenggukan.
Cahyo pun membalas erat pelukan Rihana, seolah tak ingin melepaskan tubuh perempuan yang dia cintai itu.
“Ri. Sore ini, disaksikan burung-burung gereja yang hinggap di ranting-ranting pohon depan rumah kamu, aku melamar kamu Ri. Besok kita ke KUA,” ucap Cahyo tanpa ragu.
Rihana terkesima. Rihana ingin mendengar kalimat Cahyo tadi, untuk yang kedua kalinya.
“Serius Mas?” Rihana sedikit tak percaya.
“Ini sayang, cincin nya sudah aku siapkan untuk calon istriku yang cantik ini,” Cahyo mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celana panjangnya itu.
Hati Rihana berdebar tak karuan. Dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.
Sekali lagi, Rihana memeluk Cahyo lebih erat lagi.
“Eh tunggu-tunggu. Jangan kuat-kuat peluknya, bisa nggak nafas aku, kuat banget sih pelukannya,” ucap Cahyo yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Rihana yang super kuat itu.
Rihana tersenyum, dan berusaha mengusap jejak air matanya yang sedari jatuh membasahi pipinya.
“Eh tapi….aku mau tanya nih..Mau nggak nih….dijadikan istri aku?” tanya Cahyo iseng.
Tanpa dijawab Rihana, Rihana malah mendaratkan ciuman di bibir Cahyo.
“Eh busyet…… mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba dapat rejeki nomplok dapat ciuman hot dari calon istri aku?!” Cahyo melepas tawa.
Tanpa disangka-sangka Cahyo, Rihana mendaratkan ciuman maut lagi ke bibir Cahyo.
Tanpa berpikir panjang, Cahyo menarik tangan Rihana. Lalu, memeluknya erat. Mencumbu Rihana tanpa ampun.
Cahyo menggendong paksa Rihana. Lalu membuka pintu kamar Rihana, terus menguncinya dari dalam.
“Nakal kamu ya…….,” Cahyo menghempaskan tubuh Rihana penuh gairah.
“Jangan dulu sayang. Sebentar lagi Riko balik sekolah.” kali ini, Rihana menolak dengan halus.
Sebenarnya ini kesempatan langka buat Cahyo dan Rihana. Tapi bagaimana pun, Rihana bukan perempuan single. Ada dua pria dalam hidupnya, yaitu dua anak lelakinya.
Mendengar itu, Cahyo pun mengurungkan niatnya, menyimpan hasratnya dalam-dalam.
“Ya sudahlah. Gagal lagi……gagal lagi……!” celetuk Cahyo sedikit kecewa.
Tapi, Rihana harus jujur, karena Riko memang tak lama lagi balik dari sekolahnya.
Cahyo pun mengajak Rihana balik ke ruang tamu.
“Besok aku jemput ya. Jam 09.00 wib kita ke KUA.” sebut Cahyo mantap.
“Nanti, kalau kita sudah sah, kita boyong aja anak-anak ke Jogja. Gimana?!” sebut Cahyo.
“Iya aku mau nya begitu. Aku masih nggak rela menyerahkan anak-anak ke mantan suami aku.” cerita Rihana to the point.
“Iya nanti bicarakan baik-baik aja sama Riko dan Gilang.” saran Cahyo.
“Tapi Mas…..,” Rihana ragu.
“Biaya nya nanti besar, kalau mindahin anak-anak.” jelas Rihana ragu.
“Kalau soal itu, udah nggak usah dipikirin,” kata Cahyo sembari menyalakan sebatang rokoknya.
“Makasih ya Mas, atas bantuan kamu,” ucap Rihana lega.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 wib. Dilihatnya, Riko, dan Gilang belum tidur. Mereka masih asik main HP masing-masing, di ruang tengah. Padahal, TV di depan mereka menyala. Entah apa maksudnya, fokus main HP tapi tv tetap dinyalakan.
Rihana mematikan tv-nya.
Spontan, Riko dan Gilang langsung protes, tapi posisi masih fokus main HP.
“Mah….kok dimatikan!” protes Riko.
“Gantian ini. Mama yang tanya. Maksudnya apa coba. Main hp tapi tv-nya dibiarin nganggur?!” Rihana menunggu respon mereka.
“Ya biar ramai aja Ma, ada suara dari TV,” sebut Riko.
“Kalian mau dengar nggak. Mama ada sesuatu yang mau diomongin.” kata Rihana, mencoba mengalihkan perhatian mereka dari ponsel yang ada di tangan keduanya.
Tak direspon.
“Hai..Kalian dengar nggak, kata Mama?!” Rihana kesal.
“Ya udah kalau begitu mama pindah sendiri ke Jogja!” Rihana to the point.
“Apa Ma?!” Riko dan Gilang terperanjat dengan kata-kata Rihana.
“Maksudnya gimana sih Ma. Mama mau cari kerja ke Jogja?!” Gilang mulai meletakkan ponselnya karena penasaran sekaligus kaget mendengar kata-kata Rihana.
“Kalian siap-siap ikut Mama ya ke Jogja. Itu pilihan pertama. Pilihan kedua, atau mau Mama antar ke rumah Papa kamu!” sebut Rihana to the point.
“Ikut mama ke Jogja!”
Gilang dan Riko spontan bilang kalau mau ikut Rihana pindah ke Jogja.
“Serius?!” tanya Rihana ingin memastikan jawaban keduanya.
“Serius Ma.” Gilang dan Riko kompak lagi, menjawab dengan jawaban yang sama.
“Terus sekolah Gilang gimana?! Gilang tiba-tiba ragu.
“Gampang nanti sekolah kalian berdua diurus sama Om Cahyo.” sebut Rihana serius.
“Yess!” Seru Riko. Rihana merasa lega, karena dua anak bujangnya itu ternyata lebih memilih ikut dengannya ke Jogja, ketimbang harus tinggal bersama papa nya.
Rihana pun tak sabaran memberitahu ke Cahyo, kalau kedua anaknya setuju diboyong ke Jogja.
“Mas..Riko dan Gilang setuju diajak pindah ke Jogja,” kata Rihana mengirim pesan itu ke Cahyo.
“Syukurlah. Kamu pasti lega kan…mendengar kesediaan mereka diajak pindah ke Jogja?!” balas Cahyo.
“Iya Mas andai mereka lebih memilih tinggal bareng papa nya, aku sangat nelangsa pastinya. Karena, gimana pun, aku ingin melihat anak aku selalu baik-baik saja. Makanya aku bersyukur mereka mau aku ajak tinggal di Jogja.” kata Rihana sembari menghela nafas lega.
“Ya udah sekarang kita istirahat yuk. Besok, jangan lupa, siap-siap pagi aku jemput ya. Kita ke KUA. Sebelum berangkat ke Jogja, kamu harus jadi istri aku,” kata Cahyo serius.
“Hahahaha. Hihihihi.” Rihana melepas tawa.
“Ih ketawanya kayak Mbak Kunti. Serem ah?! Udah mau jam 12 malam, denger suara kamu ketawa kayak ketawa Mbak Kunti.” sebut Cahyo.
“Oke…wassallamuallaikum!” sebut Cahyo seraya menutup ponselnya.
Padahal, Rihana ingin ngobrol lebih lama dengan Cahyo.
Tapi, di sisi lain Rihana merasa bangga. Merasa jadi wanita paling beruntung malam ini, karena besok paginya dilamar sang pujaan hati.(*)













