ISTRI PAJANGAN Bagian 50: Fera Disekap di Gudang

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Fera bingung saat menyadari dirinya berada di gudang barang dengan kondisi duduk di kursi, tangan dan kakinya diikat.
Begitu juga mulutnya dilakban.

Dia mengingat-ingat kembali, di pergantian malam tahun baru, dia berkumpul dengan om-om. Om Gio, terakhir mengobrol dengan Fera.

Bahkan pria tampan yang seusia papanya itu, menawari Fera, untuk jadi istri mudanya.

“Gila. Pasti ini ulah pria tua bangka itu. Gimana caranya aku melepaskan diri? Tas dan ponsel aku juga tak tahu sama siapa keberadaannya.

Sekarang, Fera hanya bisa pasrah menerima keadaannya saat ini. Mau teriak, mulut dilakban. Mau lari, kemana juga tak tahu. Tangan dan kakinya diikat tali kabel.


Tak seperti biasa. Pagi-pagi, Cahyo selalu disibukkan dengan panggilan telepon Fera yang merengek minta dipenuhi keinginannya. Entah itu beli barang kesukaannya atau mengajak makan siang kalau Cahyo sempat.

Tapi, pagi ini, Fera tak ada kabar.
“Ah paling bocah tengil itu sibuk dengan kegiatan sekolahnya.” pikir Cahyo tanpa curiga.

Baru saja dia hendak melangkahkan kakinya keluar menuju ke mobil, ponselnya bergetar.

Dilihatnya di layar ponselnya Fera yang menelepon.
“Hmmm. Apa Fer. Papa mau berangkat ke kantor nih!” ucap Cahyo santai.

“Pa……tolongin Fera. Fera dalam bahaya.” teriak Fera dari balik ponselnya.

Seketika, Cahyo panik. Dia berniat ingin bicara lebih lanjut pada Fera. Tapi ponsel Fera keburu dimatikan lebih dahulu.

“Selamatkan Fera Pa!” kata Fera. Anak gadisnya itu mengirim pesan ke ponsel Cahyo.

“Fera di Jalan Mangono No 203. Papa harus bawa uang tebusannya sebesar Rp4 miliar.” tulis Fera lagi.
Mata Cahyo terbelalak.

“Jangan ada campur tangan polisi. Kalau sampai Papa lapor polisi, Fera celaka Pa.”

Cahyo merasa, kalimat yang dikirimin Fera di chat itu bukan kalimat asli dari Fera.

BACA JUGA:  Mengenal Crowd Brigade, Petugas Keamanan untuk Konser Musik Cadas

Cahyo mencoba menghubungi nomor Fera berkali-kali tapi di luar jangkauan. Sengaja orang yang memegang hp Fera, mematikan data selulernya.

“Sial!”

“Siapa dalang dibalik semua ini?!” Cahyo kesal, sembari mengepalkan kedua tangannya meninju tiang listrik yang ada di dekatnya.

Dengan perasaan was-was bercampur emosi, Cahyo berusaha menuju ke lokasi yang dituliskan Fera lewat chat tadi.

Dihidupnya google map, untuk mempermudah pencarian lokasi yang dituliskan Fera.

Sepuluh menit kemudian, Cahyo sampai di lokasi yang dimaksud. Dilihatnya bangunan bernomor 203 itu adalah bangunan gudang raksasa.

“Ya Allah. Fera, siapa yang melakukan ini ke kamu, Nak?!” Cahyo panik. Mencari pintu bangunan gudang raksasa itu. Ada banyak pintu bangunan gudang itu.

Tapi, sepertinya pintu-pintu begitu kokoh, dan menurut Cahyo nggak mungkin bisa diterjang begitu saja untuk masuk ke dalam gudang itu.

Di tengah kepanikannya, Rihana meneleponnya.

“Ri. Sebentar ya. Fera dalam bahaya. Dia disekap di gudang,” ucap Cahyo seraya menutup ponselnya.

Rihana merasa harus menolong Fera, meski kehadiran Rihana sendiri, tak diinginkan Fera.
Semua dia lakukan demi Cahyo.

Rihana mencoba menelepon balik Cahyo. Menanyakan dimana posisi Cahyo.

“Oh oke Mas, aku ke sana sekarang juga,” kata Rihana setelah Cahyo memberitahu dimana alamat keberadaan Fera disekap.

Rihana ikut panik ketika sampai di lokasi.
“Ini kan punya Bagas. Gila! Jadi, semua ini ulah Bagas?” Rihana langsung paham, ternyata Fera jadi sasaran dendam Bagas kepada Cahyo.

“Mas. Aku tahu siapa dalang dibalik semua ini. Bagas Mas. Dia dendam sama kamu, karena aku berhubungan sama kamu.” Rihana blak-blakan, jujur ke Cahyo.

“Ya Allah Ri. Anak aku salah apa sampai dia menyekap Fera.” protes Cahyo merasa perlakuan Bagas pada Fera, sungguh biadab.

“Kamu suruh Bagas datang ke hadapan aku. Kita satu lawan satu. Jangan jadikan anak aku sebagai sasaran emosi dia. Ini nggak adil Ri,” Cahyo tak terima semua perlakuan Bagas ke Fera.

BACA JUGA:  Profil Park Bo Ram Kontestan ‘Super Star K2’ dan Pengisi Soundtrack Drama Korea Terkenal Meninggal di Usia Muda

“Bayangkan Ri. Anak aku nggak salah apa-apa Ri. Dia masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Dia masih sekolah kelas 1 SMA. Masa depannya masih panjang.” tambah Cahyo lagi, penuh emosi yang memuncak.

Sesuai permintaan Cahyo, Rihana pun mencoba memohon pada Bagas, untuk segera melepaskan Fera.

“Ada konsekwensinya Ri, kalau kamu minta Fera dilepaskan. Kamu harus jauhi Cahyo!” kata Bagas lewat sambungan telepon genggam Rihana.

“Ok ok. Kalau memang itu mau mu. Aku bisa lepaskan Cahyo,” ucap Rihana mantap.

Cahyo, yang mendengar ini, langsung emosi. Dia merebut paksa ponsel Rihana dan berusaha bicara dengan Bagas.

“Kamu ngomong kayak gitu tandanya kamu kalah. Lagi pula sejak kapan kamu peduli sama Rihana. Bukannya kamu sudah nggak peduli lagi sama dia.” ucap Cahyo serius.

“Hei. Kamu siapa! Kamu nggak berhak mengatur kehidupan Rihana!” bentak Bagas.

“Kalau kamu laki-laki sejati, hadapi aku sekarang juga, jangan beraninya hanya bicara di telepon. Satu lagi, kalau kamu punya hati, lepaskan anak aku?!” desak Cahyo tegas.

Bagas malah melepas tawa.
Dia tak mau begitu saja menuruti apa yang dikatakan Cahyo.

Bagas mau melihat Cahyo benar-benar meninggalkan Rihana.

Di sela-sela percakapan Bagas dan Cahyo, Cahyo kembali mendengar teriakan Fera yang minta pertolongan.

“Sepertinya papa kamu, lebih berpihak ke Tante Rihana. Tante Rihana itu masih istri sah aku, Fera! Tapi Papa kamu, datang mengganggu hubungan kami!” sebut Bagas. Padahal, fakta yang sebenarnya, selama ini Bagas sudah tak peduli lagi akan kehadiran Rihana.

Mendengar itu, Fera semakin menaruh dendam pada Rihana. Fera merasa, kekacauan yang dialaminya, akibat ulah Rihana.

BACA JUGA:  Boygrup THE BOYZ Dikonfirmasi Akan Comeback Bulan Depan!

“Lihat aja pembalasan aku, Tante Rihana!” gumam Fera penuh dendam.

“Mas dimana kumohon temui aku di luar. Di depan gudang?” pinta Rihana memelas pada Bagas.

“Kamu sama selingkuhan kamu kan?” tukas Bagas sengit.

“Oke. Aku muncul. Dia berani nggak hadapi aku?!” tantang Bagas.

“Kumohon Mas sudahi semuanya. Kasian Fera Mas, dia nggak salah apa-apa!” bela Rihana, dan memohon sekali lagi pada Bagas.

“Serahkan uang tebusannya baru aku lepaskan calon anak tirimu ini!” bentak Bagas dengan emosi yang meledak.

Cahyo langsung menyanggupi permintaan Bagas.
Melihat ini, Rihana protes. Dia orang yang paling tak setuju dengan cara Cahyo yang memenuhi desakan Bagas, soal uang tebusan itu.

“Kenapa Mas penuhi permintaannya. Dia itu sama sekali tak punya hati Mas.” protes Rihana yang bersedih melihat Cahyo tampak lemah, karena memikirkan nasib Fera, anak gadisnya itu.

“Mas maafin aku ya. Semua karena ulah aku,” ucap Rihana penuh penyesalan.

“Andai aku tak mengenalmu, mungkin semua ini nggak akan terjadi Mas,” keluh Rihana.

“Sudahlah. Sebaiknya semua kita akhiri,” ucap Cahyo, dan buat Rihana, pernyataan itu seperti kiamat.

“Nggak mau Mas aku nggak mau semuanya berakhir.” Rihana gantian panik mendengar pernyataan Cahyo.

“Bagaimana dengan anak aku, Ri. Kalau kita bertahan, taruhannya nyawa anak aku.” Cahyo tampak menyerah. Dia mengambil keputusan itu sudah dia pikirkan dengan sungguh-sungguh.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *