Suku Sasak Tampilkan Presean di Acara 17 Agustus Kampung Banjar Bintan

Bintan, Posmetrobatam.co: “Jangan nonton presean, tradisi pertarungan suku Sasak, NTB kalau takut.” Demikian komentar salah seorang pria paruh baya, yang memberanikan diri berdiri di antara kerumunan penonton.

Sorak-sorai dan teriakan penonton yang bersahutan di arena pertunjukan menjadi penyemangat dua petarung yang sedang berlaga di tengah lapangan.

Minggu (23/8), PK NTB Tanjungpinang dan PK NTB Bintan, tampil bareng di acara peringatan HUT RI ke-81 tahun 2026, yang digelar di Kampung Banjar Lama Desa Gunung Kijang Kecamatan Gunung Kijang.

Saat gending gamelan, tabuhan gendang, dan pukulan gong, dimainkan, dua lelaki bertelanjang dada, berikat kepala, dengan kain/dodot (ikat pinggang) yang melingkar di pinggang, dua petarung (perpaduan) bersiap-siap di tengah arena. Keduanya sudah memegang alat masing-masing. Penjalin (rotan sepanjang kurang lebih 1 meter/ tongkat rotan yang dipakai sebagai alat serang musuh), dan juga ende ( Perisai tebal dari kulit kerbau untuk menangkis pukulan).

Begitu juga dengan pekembar/wasit. Sebelum pepadu berlaga, keduanya diperkenalkan satu sama lainnya. Ketika pekembar sudah memberi aba-aba sampai hitungan ke-tiga, pepadu sudah bisa melakukan serangan /memukul lawan dengan penjalinnya.

BACA JUGA:  2.621 KK Warga Lubuk Baja, Bengkong dan Batu Ampar Batam Terima Bantuan Beras 10 Kg

Jika pepadu tak pandai menangkis serangan, sudah bisa dipastikan tubuhnya bakal kena sabetan rotan sampai memerah.

Ada aturan main, tubuh pihak lawan yang boleh diserang tak lain adalah bagian pinggang ke atas.

Setiap pepadu, diberi kesempatan berlaga hingga tiga ronde. Biasanya, disini ada penilaian menang/ kalah. Namun, berhubung laga pepadu kali ini hanya pertunjukan hiburan, maka tidak ada penilaian menang atau kalah.

Meski demikian, pekembar (wasit tetap mengawasi dua aksi pepadu itu, agar tetap mematuhi aturan yang berlaku. Salah seorang dari pepadu, tidak boleh terus-terusan menyerang lawannya, ketika kekuatan lawan terlihat mulai melemah. Pekembar buru-buru membunyikan peluitnya, tanda pertarungan harus dihentikan.

Tak hanya berhenti di satu ronde. Pertarungan dilanjutkan hingga ronde ketiga. Selanjutnya, ganti pepadu lain.

BACA JUGA:  Bintan Serius Wujudkan Wajib Belajar Prasekolah Melalui Advokasi dan Pendampingan

Sementara itu, seorang perempuan setengah baya, justru berjoget di tengah arena, saat pepadu berlaga.

Perempuan itu bertugas menampung uang saweran dari penonton. Penonton dipersilakan memberi uang sawer buat hadiah pepadu.

Maman, perwakilan dari PKNTB Kota Tanjungpinang, bersama Alif Ketua PKNTB Bintan menyebutkan, asal-usul presean ini, di abad 13 adalah ritual memanggil hujan, saat terjadi musim kemarau.

Tak hanya itu, presean juga digunakan untuk latihan perang bagi prajurit kerajaan pada masa lampau.

Sekarang, seiring perkembangan zaman, presean adalah seni adu ketangkasan khas suku Sasak Nusa Tenggara Barat.

“Alhamdulillah, presean ini, kita sering tampil dan diundang di acara-acara seremonial, di pemerintahan dan juga acara-acara di masyarakat. Contohnya, tampil di acara-acara pernikahan, atau perayaan kesenian tradisional,” sebut Maman.

Sementara itu, Bule (pepadu) presean, sudah lima tahun lamanya menggeluti kesenian presean ini. Tubuhnya/ punggungnya yang kerap kena sabetan rotan, bukan menjadi masalah yang serius.

BACA JUGA:  Kiprah Anak Melayu di Timnas Bikin Bangga, saatnya Lingga Perjuangkan Fasilitas Olahraga dari Kemenpora

Bekas sabetan rotan, menandai sebagai pepadu yang tangguh.

“Kalau tampil di presean ini, awalnya deg-degan. Apalagi berhadapan dengan pepadu yang tubuhnya tinggi besar. Awalnya, bisa buat nyali kita ciut. Tapi, setelah berlaga, dan bisa membaca kemampuan lawan, nyali ciut itu sudah nggak ada lagi. Jadinya tampil percaya diri dengan kemampuan kita yang ada,” cerita Bule serius.

Terakhir, bagi bule, tampil di presean ini, sebuah kebanggaan tersendiri.(aiq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *