Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Demi kelangsungan hubungan Cahyo dan Rihana, Fera dipanggil. Dia diintrogasi Cahyo soal kelakuannya yang tak sopan pada Rihana.
“Fer, Papa mau makan siang nih. Fera sudah balik dari sekolah belum?! Papa jemput ya!” Cahyo mencoba menghubungi Fera, lewat sambungan telepon genggamnya.
“Udah sih Pa. Ya udah jemput Fera di tempat biasa ya Pa. Biar nggak ketahuan Mama.” ucap Fera seraya menutup ponselnya.
Cahyo yang baru saja balik dari kantor, langsung meluncur ke halte sekolah Fera.
Di halte depan sekolah itu, adalah tempat favorite Cahyo menjemput anak gadisnya kalau sedang buat janji.
“Pa. Makan KFC dong.”
“Hmmm. Papa kamu ini bukan anak-anak lagi. Makan lainnya kenapa?!” protes Cahyo.
“Pa. Fera kan masih anak-anak!” sahut Fera tak mau diam.
“Eh jadi ya pesta ulang tahun kamu digelar di rumah Tante Rihana?!” tanya Cahyo mengawali perbincangannya dengan Fera.
“Jadi Pa. Kenapa emang nya?”
“Kamu sudah bilang sama Tante Rihana kalau kamu mau buat acara di villa dia?!”
“Udah Pa. Tenang aja.”
“Eh papa mau tanya nih. Katanya kamu minta duit sama Tante Rihana ya, buat keperluan acara pesta kamu?” tanya Cahyo to the point.
“Tante Rihana bilang ke papa ya kalau Fera yang minta duit?! Padahal, aku bukan minta Pa. Tapi Tante Rihana sendiri yang katanya mau ngasih uang, buat kado Fera.” jelas Fera mengarang cerita. Padahal faktanya Fera yang minta uang tambahan buat acara pesta ultah dia.
Cahyo menghela nafas. Dia sendiri bingung. Mau percaya kata-kata Fera atau cerita dari Fitriani.
Cahyo masih tak menjawab pertanyaan Fera.
Fera pun langsung emosi. Dia berniat akan mempertanyakan hal itu ke Rihana.
“Kenapa sih Pa. Tante Rihana seperti itu. Seharusnya kalau dia ikhlas mau ngasih Fera, harusnya kan dia nggak cerita ke papa. Dia mau pamer ya ke papa kalau dia baik. Ah tak kusangka Pa. Tante Rihana ternyata jahat banget dia!” protes Fera.
“Sudah cukup nggak usah dibahas lagi. Kamu, lebih baik cari tempat lain. Nggak usah buat pesta di tempat Tante Rihana. Papa malu kalau kayak begini. Kesannya kamu memanfaatkan Tante Rihana.” ucap Cahyo pelan.
“Tapi Pa. Fera sudah terlanjur bilang ke kawan-kawan, kalau Fera mau ngerayain ultah Fera yang ke-17, di villa,” Fera mulai terlihat panik.
Bersamaan dengan itu, Fera tak sabaran ingin cepat-cepat ketemu Rihana, mempertanyakan kekacauan ini.
“Gara-gara Rihana nih pesta aku bisa batal digelar. Awas aja kamu Rihana. Bakal aku balas semuanya!” batin Fera penuh emosi.
“Sementara waktu, kita sekarang cari makan aja. Nggak usah bahas lainnya,” ucap Cahyo mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Pa tapi Fera tiba-tiba kenyang. Pa. Anterin Fera ke rumah Tante Rihana Pa. Ada barang Fera ketinggalan di villa Tante Rihana.” kata Fera beralasan.
“Makan dulu sebentar Fer. Papa kamu ini lapar banget. Cacing-cacing di perut papa sudah pada menagih haknya makan siang. Apalagi ini sudah mau jam 4 sore. Jadi, ini bukan makan siang namanya. Tapi makan sore?!” celetuk Cahyo santai.
Cahyo tahu, sepertinya Fera menaruh kesal pada Rihana. Tapi sudahlah.
“Papa sendiri aja yang makan ya.” Fera menolak rencana awal ajakan Cahyo untuk makan.
Mobil Cahyo berhenti di depan rumah Padang langganan biasanya. Sama halnya seperti Rihana, rumah makan Padang itu, jadi tempat favorit.
“Jadi kita batal makan siang nih?! Papa lapar Fer,” ulang Cahyo minta kepastian dari Fera.
“Papa aja yang maem. Aku lagi nggak selera makan Pa.” sebut Fera beralasan.
Cahyo sendiri sebenarnya lebih menuruti permintaan Fera yang minta diantar ke villa Rihana.
“Ya sudah kalau begitu. Kita balik kanan aja, papa antar kamu ke villa Tante Rihana,” ucap Cahyo dengan nada malas-malasan.
“Nggak apa nganter Fera aja biar bisa ketemu Rihana,” gumam Cahyo dalam hati.
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Rihana, Fera lebih banyak diam.
Tiba di villa Rihana, Fera langsung nyelonong masuk ke kamar, tanpa permisi.
Memang, Fera diberi kebebasan dari Rihana, buat keluar masuk villa.
Itu semua, karena Cahyo. Kalau bukan anak Cahyo, Rihana tak akan memberikan kebebasan keluar masuk villa dia.
Cahyo terperangah melihat perubahan yang terjadi pada Fera. Sepertinya apa yang dibilang sama Fitriani ke Cahyo, bener banget. Fera kurang sopan santun sama orang tua.
“Fer nggak pakai lama ya. Nanti satu jam lagi papa mau balik ke kantor, ada rapat penting sama jajaran direksi PLN Pusat.” sebut Cahyo.
Fera tak menjawab. Dia tetap saja nyelonong ke dalam kamar tempat dia pernah menginap bareng Dinda kawan Fera.
Hanya dalam hitungan lima menit, Fera sudah kembali ke bawah.
“Ri. Dimana kamu? Kamu nggak berada di villa ya. Ini aku sama Fera di villa kamu, dia mau ambil barang yang ketinggalan.” ucap Cahyo memberi tahu.
“Iya Mas ini aku di luar sama kawan.” sebut Rihana.
“Oh oke oke. Aku sama Fera izin masuk villa kamu ya!” Cahyo minta izin.
“Iya Mas nggak apa. Silakan aja? Bebas kok mau masuk ke villa aku. Fera juga sudah aku kasih info, dia bebas kapan aja mau datang, silakan. Dia kan sudah aku anggap anak aku sendiri,” kata Rihana panjang lebar di balik sambungan telepon selulernya itu.
“Makasih ya Ri. Aku pulang dulu. Lain waktu kita sambung lagi.” kata Cahyo mengakhiri percakapannya dengan Rihana.
“Papa antar kamu langsung ke rumah ya,” kata Cahyo.
Fera hanya menganggukkan kepala.
Keesokan harinya, Fera nekad naik gojek ke villa Rihana.
Rihana yang baru bangun tidur, matanya terbelalak.
Dilihatnya dari cctv, Fera datang pagi-pagi.
Padahal waktu masih menunjukkan pukul 08.00 wib.
Fera terlihat teriak-teriak memanggil Rihana di depan cctv.
Karena tak kunjung aku respon akhirnya dia menuju ke lantai dua, kamar aku.
“Digedor nya pintu kamar aku hingga berkali-kali.
Seperti orang kesetanan. Fera terus menggedor pintu kamar aku. Setres dia itu kali ya?!” ucap Rihana kesal.
Terpaksa, setelah mengganti baju tidurnya dengan baju biasa, Rihana berusaha membuka pintu kamarnya, untuk menemui Fera.
“Ada apa Fera pagi-pagi marah-marah ke rumah Tante?!” tanya Rihana berusaha santai.
“Tante jujur aja ya. Kenapa sih Tante pakai cerita ke papa kalau Fera minta uang ke Tante. Tante itu sudah menjatuhkan harga diri aku di depan papa aku.” kata merah dengan penuh emosi.
“Fer. Maksud kamu apa ya. Aku belum pernah ketemuan sama papa kamu, belakangan ini. Kapan aku cerita? Sumpah aku nggak punya waktu untuk hal-hal sepele seperti itu.” tepis Rihana, dengan tuduhan yang diarahkan untuknya itu.
“Kamu nggak usah pura-pura, Tante Rihana. Papa aku cerita semuanya. Maksud kamu apa Tante. Ngasih uang tak seberapa aja, Tante woro-woro ke papa aku. Itu namanya nggak ikhlas.” ucap Fera dengan emosi yang meluap.
“Nggak aku sangka ya. Tante Rihana ini ternyata suka pamer kalau ngasih sesuatu ke orang.” celetuk Fera.
“Astagfirullah Fera. Kamu ngomong apa. Tante nggak paham. Tante nggak pernah cerita ke papa kamu Fera.” ulang Rihana. Rihana nggak tahu harus mengulang berapa kali, untuk menjelaskan ke Fera, agar dia tak terus menuduhnya yang bukan-bukan.
“Mulai sekarang, kamu nggak usah coba-coba dekati papa aku lagi ya. Awas aja kalau kamu masih berusaha menggoda papa aku. Aku akan balas Tante,” ancam Fera penuh emosi.
Rihana terdiam merespon perkataan Fera. Tak lama, Fera pun beranjak pergi dari villa Rihana.
Rihana menghela nafas panjang. Coba menghubungi Fitriani.
“Fit. Anak Mas Cahyo baru saja pergi dari rumah aku. Tadi dia pagi-pagi sudah di rumah aku. Dia marah Fit. Terus dia ngancam aku, dan bilang jangan dekati Cahyo lagi. Bingung aku Fit.” keluh Rihana.
“Hah seriusan?!”
Fitriani jadi merasa bersalah. Karena sumber cerita, awalnya memang dari Fitriani. Dia menceritakan semua yang dialami Rihana, ke Cahyo.
“Fit. Gimana menurut kamu.” Rihana minta pendapat Fitriani.
“Ri. Bagusnya bicarakan empat mata sama Cahyo.” kata Fitriani memberi saran.
“Sampai aku bingung Fit, kok Fera marah sama aku, dan langsung nuduh aku sudah cerita ke Mas Cahyo. Padahal aku aja belakangan ini sibuk. Nggak pernah ketemuan sama Mas Cahyo.” Rihana gelisah. Hatinya was-was.
“Bagaimana kalau Mas Cahyo meninggalkan aku?”
“Duniaku bisa sepi tanpa dia. Lagi pula, siapa ya dalang dibalik semua kekacauan ini?”
Perasaan Rihana campur aduk nggak karuan. Tak terbayang andai dia benar-benar tak bisa lagi berhubungan dengan Cahyo.
Sementara itu, Fitriani merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Rihana. Tapi sejauh ini, dia belum berani terus terang ke Rihana, kalau sebenarnya dalang dibalik kekacauan ini adalah Fitriani sendiri.(*)













