CBRE: Konektivitas dan Kualitas Dorong Kinerja Properti Jakarta Q2 2026, TOD Jadi Katalis Pertumbuhan

63

Posmetrobatam.co: Pasar properti Jakarta terus menunjukkan kinerja positif pada kuartal kedua tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatnya kepercayaan penyewa (occupier), serta tingginya permintaan terhadap aset properti berkualitas dengan konektivitas baik menjadi pendorong utama. Laporan pasar terbaru CBRE Indonesia menyoroti menguatnya fundamental di sektor perkantoran, industri/logistik, dan ritel. Sementara itu, pengembangan berorientasi transit (Transit-Oriented Development/TOD) muncul sebagai katalis penting untuk pertumbuhan nilai properti di masa depan.

Dalam pembukaan acara Media Briefing CBRE Indonesia, Anton Sitorus, Head of Research & Consulting, menyampaikan bahwa kinerja pasar saat ini didukung oleh permintaan riil, bukan aktivitas spekulatif.

“Sekarang penyewa semakin selektif. Mereka memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan long-term value. Di berbagai sektor, penyewa dan tenant tetap aktif. Kami juga melihat minat yang semakin besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi yang kuat, terutama di sekitar hub transportasi,” kata Anton pada sesi media briefing di Gedung World Trade Center Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026).

Sektor Perkantoran Tetap Kuat
Judy Sinurat & Albert Dwiyanto, Co-Heads of Office Services, melaporkan berlanjutnya momentum penyewaan di kawasan CBD maupun Non-CBD. Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih mencapai sekitar 16.800 meter persegi pada kuartal kedua, dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 76,3%. Permintaan didorong oleh tren flight-to-quality, di mana penyewa mencari gedung Premium Grade dan Grade A dengan spesifikasi modern, fitur keberlanjutan, dan fasilitas lebih baik. Terbatasnya pasokan baru turut mendorong peningkatan kondisi pasar dan prospek pertumbuhan tarif sewa.

BACA JUGA:  1 Pekerja Migran Indonesia Tewas Ditembak Aparat Malaysia, 4 Luka-luka, KemenP2MI Buka Suara

Albert menambahkan bahwa pertimbangan lokasi kantor kini bergeser. “CBD masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh alamat atau lokasinya. CBD tersebut akan ditentukan oleh seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang. Dalam kondisi pasar saat ini, konektivitas bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis dalam jangka panjang.”

Sementara itu, pasar perkantoran Non-CBD Jakarta mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter persegi, sehingga tingkat okupansi naik menjadi 73,3%. Permintaan masih terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi dan lokasi dengan aksesibilitas yang terus berkembang. Relokasi penyewa dan strategi optimalisasi ruang kerja juga terus mendukung aktivitas pasar.

BACA JUGA:  Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Polda Metro Jaya Tetapkan 8 Tersangka Dibagi Dua Klaster

Industri, Logistik, dan Ritel Tumbuh Positif
Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services, menyebut sektor industri dan logistik tetap menjadi yang berkinerja paling baik. Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektare pada kuartal kedua, mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,2%. Operator data center terus menjadi pendorong permintaan lahan, khususnya di Cikarang. Persaingan mendapatkan lokasi dengan infrastruktur utilitas kuat telah berkontribusi pada peningkatan nilai lahan.

Di sektor logistik, tingkat okupansi mencapai 97,4%. Permintaan kuat datang dari pelaku e-commerce, manufaktur, cold-chain, dan penyedia jasa logistik 3PL. Pasokan baru yang masih terbatas membantu menjaga fundamental pasar tetap sehat serta mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor logistik utama.

Di sektor ritel, tingkat okupansi mal Jakarta meningkat menjadi 86,4%, didukung penyerapan bersih yang melampaui 20.000 meter persegi. Mal kelas premium mencatat kinerja terbaik dengan okupansi di atas 95%. Ritel internasional, konsep kuliner premium, lifestyle brands, dan operator hiburan menjadi kontributor utama permintaan.

BACA JUGA:  BCA Buka Batch 2 Pendaftaran Beasiswa PPTI

TOD Jadi Katalis Masa Depan
Anton Sitorus mencatat bahwa TOD semakin membentuk pasar properti Jakarta. “Fase berikutnya dari pertumbuhan properti Jakarta akan sangat terkait dengan konektivitas. Seiring kota ini memperluas jaringan transportasi massalnya, TOD tidak lagi sekadar infrastruktur transportasi, tetapi berkembang menjadi platform pengembangan perkotaan multifungsi dan penciptaan nilai jangka panjang,” ujarnya.

Proyek besar seperti MRT Fase 2A dan Stasiun Dukuh Atas yang baru diluncurkan diharapkan memperkuat aksesibilitas sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan perkantoran, hunian, ritel, dan kawasan multifungsi. Peningkatan mobilitas kini semakin memengaruhi keputusan lokasi penyewa maupun strategi investasi.

Menutup sesi, Anton menegaskan pasar properti Jakarta tetap kuat meski menghadapi tantangan ekonomi global. “Kinerja pasar mencerminkan fundamental yang meningkat serta perubahan prioritas penyewa. Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama penciptaan nilai. Meskipun pertumbuhan mungkin berlangsung terukur, fondasi untuk ekspansi jangka panjang yang berkelanjutan terus menguat di seluruh sektor properti Jakarta,” tutupnya.
(Fri)