ISTRI PAJANGAN Bagian 41: Niat Jahat Fera

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Entah kenapa, Fera, anak Cahyo, punya niat jahat ke Rihana.
Sebenarnya dia nggak rela kalau papanya punya perempuan lain pengganti ibunya.

“Pa. Kalau ke rumah Tante Rihana, Fera ikutan dong. Pengen renang sepuasnya di villa Tante Rihana.” kata Fera dengan manja.

“Renang sepuasnya? Sejak kapan Fera suka renang?” Cahyo heran.

“Ih papa. Pokoknya ikutan kalau ke rumah Tante Rihana. Awas kalau nggak dijak!” kata anak semata wayang Cahyo itu.

“Perlu Fera tahu ya. Papa kalau ke rumah Tante Rihana, paling cuma jemput sampai di halaman villa dia aja. Papa malahan nggak tahu kalau di villa itu ada kolam renangnya.” kata Cahyo beralasan.

“Lagian, Fera nggak malu? Kan kita juga baru kenal sama Tante Rihana. Papa aja, baru sekali ke villa dia.” jelas Cahyo.

Cahyo nggak mau, kalau Fera menyangka Cahyo sering main ke Villa Rihana.

“Ah yang bener Pa, baru sekali? Masa iya. Fera nggak percaya.” Fera mencurigai Cahyo dengan tuduhannya itu.

“Pa. Tapi papa jago ya, nyari pengganti mama yang tajir. Tante Rihana kan cantik, dan tajir.” puji Fera.

Cahyo cuma senyum-senyum mendapat pujian itu.
“Sttt..Tunggu. Tante Rihana video call..Fera mau ngomong nggak nanti?”

Fera menganggukkan kepala.

“Yes. Permainan segera dimulai.” batin Fera.

Cahyo menghindar ke tempat agak jauh dari Fera. Tapi, meski begitu, Fera diam-diam membuntuti Cahyo.

Dia ingin mendengar percakapan antara papanya itu dan Rihana.

“Ri. Kata Fera, kamu cantik dan baik.” puji Cahyo lewat panggilan video call itu.

“Hmmm..Makasih ya.”Rihana tersanjung.
“Tadi, dia ngotot bilang ke aku, kalau aku mau ke villa kamu, katanya dia mau ikutan. Pa..ajak aku ke villa Tante Rihana. Mau renang sepuasnya. Dia bilang katanya di villa Tante Rihana ada kolam renang bagus.” cerita Cahyo panjang lebar.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 50: Fera Disekap di Gudang

Spontan, Rihana langsung melepas tawa.

“Oh Fera suka renang ya. Ya nggak apa Mas, ajak aja Mas, kalau dia mau ke villa,” kata Rihana.

“Mas. Apa makanan kesukaan Fera?! Biar aku buatin,” tanya Rihana iseng.

“Dia suka makan roti rasa kopi. Apa itu ya merk nya aku lupa. Pokoknya ada rasa-rasa kopinya.” sebut Cahyo.

“Oh setahu aku, roti boy.”
“Mungkin juga.”
“Tapi biasanya beli di dekat bandara kan ya roti itu?!” tanya Cahyo lagi.

“Hmmm..iya sih.” sahut Rihana.
“Oke. Kalau dia mau datang ke villa, kabari aja. Nanti aku buatkan roti rasa kopinya!” kata Rihana meyakinkan Cahyo.

“Oke siap.”
Keduanya pun mengakhiri percakapannya.

Sementara itu, Fera, berhasil mendapatkan informasi pembicaraan antara Cahyo dan Rihana.

“Lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan roti buatan kamu, Tante Rihana. Xixixixi.” batin Fera, dipenuhi dengan bisikan iblisnya itu.

“Kamu kira gampang ya Tante Rihana, buat dapatin papa aku?!”


Keesokan paginya, Cahyo menelepon Fera. Mengabarkan kalau dia mau ke tempat Rihana.

Fera, langsung melapor ke mamanya. Herlin. Mantan istri Cahyo. Herlin dan Cahyo sudah lima tahun lamanya mereka bercerai.

Hak asuh anak, jatuh pada Herlin. Jadi, Fera, tinggal bersama Herlin.
Di sisi lain, Herlin masih belum bisa move on meski telah diceraikan Cahyo.

Perceraian itu disebabkan orang ketiga. Cahyo sempat naksir pegawai di kantornya, dan kabarnya mereka sudah berhubungan layaknya suami istri.

Herlin merasa jijik mendengar itu, hingga mengambil keputusan untuk bercerai saja dari Cahyo.


“Ma aku mau diajak ke villa Rihana. Perempuan sialan itu. Tenang aja nanti aku kabari ya Ma apa yang aku lakukan di villa itu. Biar Rihana itu dibenci sama Papa.” ucap Fera pada Herlin.

BACA JUGA:  Angkat Isu Kekerasan Anak, Film Horor-Crime-Action 'Memburu Pemangsa' Tayang 24 September

“Sudahlah Fer… nggak usah cari masalah.” Herlin pura-pura bersikap kalem. Padahal, di sisi lain, seiring dengan berjalannya waktu, Herlin masih menginginkan Cahyo kembali ke kehidupannya saat ini.

“Bukannya Mama masih cinta sama Papa?!” tukas Fera.

Herlin terdiam. Bahkan demi menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, Herlin berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kalau punya villa, berarti perempuan itu kaya ya Fer?!” tanya Herlin penasaran.

“Mungkin. Siapa tahu di villa itu Rihana cuma numpang. Aku nggak yakin Ma kalau villa itu punya dia. Atau…..jangan-jangan dia pembantu. Pas Fera ke villa itu, mungkin saja majikannya sedang keluar kota.” ucap Fera panjang lebar.

“Sudah sudah….sana sarapan soto dulu sebelum pergi sama papa kamu.” ucap Herlin.

“Masak soto ya Ma?” Fera langsung bersemangat. Karena soto adalah makanan kesukaan Fera, selain roti rasa kopi.

Dia pun bergegas ke ruang makan, melahap apa yang dihidangkan Herlin.

Herlin sendiri merasa iri dengan apa yang baru saja diceritakan Fera. Dulu, selingkuhan Cahyo, orang kaya juga, direktur Bank.

Sekarang, perempuan Cahyo itu malah punya Villa.

“Ternyata di akhir zaman ini, yang matre bukan hanya kaum hawa. Tapi, justru kaum adam, lebih matre.” Pikir Herlin.

“Lihat saja nanti kalau harta warisan orang tua aku sudah dibagi. Pasti Cahyo bakal silau melihat harta aku!” batin Herlin, menyombongkan dirinya.

“Ah sudahlah. Kenapa aku malah memikirkan soal Cahyo. Dia itu cuma kenangan.” Herlin menarik nafas panjang. Dia merasa kesal dengan nasibnya sendiri. Kenapa dia dulu gegabah mengambil keputusan cerai dari Cahyo.

Padahal, perempuan yang dulu jadi selingkuhan Cahyo itu nggak dinikahi Cahyo juga.

Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tak berguna lagi. Tapi, selama dia masih bernafas, dia berharap suatu hari nanti dia bakal bersama Cahyo lagi.

BACA JUGA:  Lee Jae Wook Resmi Pacaran dengan Karina Aespa

“Entah kapan ya Allah khayalan aku itu jadi kenyataan,” batin Herlin.

Setengah jam kemudian.
Lagi-lagi, Fera punya ulah. Dia mengirimkan foto villa Rihana.
“Nih Ma aku lagi di Villa Rihana. Tunggu kabar aku selanjutnya ya Ma.” kata Fera lewat chat.

Sementara itu, Cahyo, sibuk di dapur, buat roti rasa kopi, bareng Rihana.

“Feraaaa. Roti kopinya sudah jadi nih?! Tapi bohong!” teriak Cahyo. Cahyo lupa kalau jarak kolam renang dan dapur sangat jauh. Pasti Fera tak akan mendengar teriakan Cahyo.

Ini kesempatan Cahyo, lebih dekat dengan Rihana. Berhubung Fera sedang asyik berenang, Cahyo pun berusaha mencari kesempatan untuk menyentuh Rihana.

Rihana hanya diam, saat tangan kekar itu melingkar di pinggangnya. Cahyo memeluk Rihana dari belakang. Lalu, pelan-pelan dia berkunjung ke puncak gunung yang sedikit terlihat menantang itu.

“Mas. Nanti ada Fera,” Rihana mulai gelisah dengan sentuhan Cahyo.

Sementara Cahyo, tak peduli itu. Hasratnya ingin mesra lebih jauh dengan Rihana.

“Sayang. Jangan disini.” Rihana pun meletakkan peralatan kue yang ada di tangannya. Tepung yang sudah diadoni itu juga ditinggalkan. Rihana mengajak ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur.

Hasrat Cahyo semakin memuncak, ketika Rihana balas mencumbu Cahyo dengan gairahnya.

“Kamu masih seperti gadis ya. Body goal mu buat pria terpesona. Aku sudah lama Ri, nggak melakukannya.” bisik Cahyo, dan Rihana pun tak kalah liarnya mengimbangi hasrat Cahyo.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *