Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Sore itu, masih jam 16.00 wib. Rihana baru saja selesai mandi.
Dia bersiap hendak pergi ke acara reuni Akbar, angkatan putih abu-abu.
“Mau kemana kamu?!” tanya Bagas dengan ekspresi curiga.
“Emang aku penting ya, mau kemana kan biasanya kamu cuek!” tandas Rihana.
Tiba-tiba emosi Bagas meledak. Merasa tak terima ketika Rihana bicara sedikit kasar.
“Eh kamu macem pelacur aja jawabnya. Kasar banget !” bentak Bagas, sembari berlalu dari hadapan Rihana.
Rihana tahu, bersamaan dengan itu, kunci mobilnya disita Bagas.
“Kenapa sih kamu hari ini. Kembalikan kunci mobil aku?!” teriak Rihana.
Bagas pergi dengan mobil Pajero Sportnya, membawa serta kunci mobil Rihana.
Tak kehabisan akal. Dia minta jemput kawannya, Rosanda.
Tapi, lagi-lagi Bagas punya ulah. Rupanya dari jauh Bagas memata-matai Rihana. Bahkan, dia juga mencegat Rosanda, biar nggak masuk ke rumahnya.
“Kalau kamu masuk rumah aku dan jemput istri aku. Lihat saja akibatnya!” ancam Bagas pada Rosanda.
Jelas saja ancaman Bagas membuat Rosanda lebih memilih tak mendekat ke rumah Bagas.
Rihana kesal. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. Nomor ponsel Rosanda tak aktif. Rihana panik.
Tapi akhirnya dia ambil keputusan naik grab saja, lebih mudah.
“Suami eror. Tumben-tumbennya dia kepo sama aku. Biasanya dia cuek.” gerutu Rihana pada Fitriani.
“Aku juga heran entah kenapa, tiba-tiba Bagas melarang aku pergi ke acara reunian ini. Alasannya, dia nggak suka kalau aku pergi ke acara reunian. Ih pokoknya hari ini dia bikin aku emosi. Kunci mobil aku disita. Parah suami aku itu.” keluh Rihana masih menahan kesal di hatinya.
“Iya ya. Tumben dia kepo kamu mau kemana. Bukankah biasanya dia cuek ya?!” celetuk Fitriani.
“Entah. Masa bodoh ah. Sekarang yang penting aku sampai di lokasi dan aku mau ketemu sama kamu!” celetuk Rihana menghibur diri. Padahal hatinya masih kesal karena Bagas menyita kunci mobilnya.
“Eh kita kumpul yuk sama teman-teman di dalam. Mereka sudah pada datang, tahu?” ajak Gita,
Rihana dan Fitriani mengikuti langkah Gita masuk ke ruangan Barbara, Swiss Bell Hotel. Meeting Room dengan paket lengkap.
Usai acara reuni, setiap peserta reuni, berhak bermalam selama tiga hari di hotel ini. Karena membayar iuran reuninya lumayan besar. Per orang rela bayar Rp5 juta demi mendapatkan fasilitas mewah di acara reunian itu. Termasuk Rihana.
“Beib nanti aku main ke kamar kamu ya!” ucap Fitriani serius.
“Iya bebas. Mau tidur di kamar aku juga bebas!” celetuk Rihana penuh bahagia.
“Hari ini, aku benar-benar menikmati hidup. Jauh dari Bagas. Itu satu hal yang paling aku inginkan.” gumam Rihana tanpa beban.
Di acara reunian itu, Rihana bertemu terpana melihat kehadiran kakak kelas yang pernah dia kagumi diam-diam. Cahyo Ningrat.
Anak keluarga konglomerat, tapi penampilannya kalem dan sederhana.
Lagi-lagi, kali ini Rihana juga hanya bisa memandang dia, dari jauh.
“Woi sadar. Itu suami orang.” celetuk Fitriani yang tahu kalau Rihana terpana memandang ketampanan Cahyo Ningrat.
Rihana sama sekali tak menyangka. Ternyata reuni kali ini, adalah reuni akbar. Alumni 3 angkatan, dihadirkan panitia di ballroom hotel ini.
“Ih lihat aja kan nggak apa-apa. Lagian dia juga kan nggak ada didampingi istrinya,” protes Rihana pelan.
“Dia itu dulu jago matematika. Dia kan kakak kelas aku.” bisik Rihana.
“Oh jadi cinta diam-diam ya, sama dia? Cinta bertepuk sebelah tangan?!” Fitriani terus mengejek Rihana.
“Ih apaan sih!” balas Rihana dengan wajah memerah, karena ekspresi wajahnya terbaca Fitriani kalau Rihana menyukai pria itu.
“Selamat datang kepada Bapak Cahyo Ningrat, Direktur PLN kita yang tampan,” suara MC di atas panggung itu membuat Rihana semakin penasaran dengan kehadiran Cahyo.
“Beuhh. Gebetannya sang direktur PLN!” celetuk Fitriani.
“Ih bisa diam nggak sih,” celetuk Rihana yang berusaha menyembunyikan rasa sukanya pada sang Direktur PLN itu.
“Dulu dia idola. Tapi dia juga penakut sama cewek. Hahahaha!” kata Rihana lagi penuh antusias menceritakan tentang rekam jejak sang Direktur saat di bangku putih abu-abu.
“Tapi, istri dia mana ya?!” tanya Fitriani yang juga mulai kepo tentang Cahyo Ningrat, sang direktur PLN itu.
“Istrinya nggak ikut!” jawab Rihana sok tahu.
“Iya mungkin. Tapi, siapa tahu dia itu duda!” imbuh Fitriani, dan komentar Fitriani itu justru buat Rihana bersemangat.
“Xixixix!” Rihana cekikikan kecil.
“Ya sudah. Kalau duda, kita buru aja dia!” lanjut Fitriani.
“Emang hewan, diburu!” Rihana protes lagi. Seolah nggak terima kalau sang pujaan hatinya itu dijelek-jelekkan.
“Cieโฆ..marah, kalau ayang beib nya dijelek-jelekkan.”
“Diam dulu. Dia mau lewat depan kita kayaknya,” kata Rihana pelan, berusaha menghentikan Fitriani yang ngoceh terus dari tadi.
Tanpa diduga, Cahyo Ningrat mendekat, dan buat Rihana salah tingkah.
“Mbak Rihana ya?!” tanya Cahyo sembari menjabat tangan Rihana.
Deg-degan juga Rihana menyambut jabat tangan Cahyo. Apalagi, sampai Cahyo menanyakan kebenaran namanya.
“I โฆiyaโฆ.Pak,” sebut Rihana sedikit gugup.
“Yang kemarin menang hadiah motor di kantor PLN kan?” sebut Cahyo.
“IโฆiyaโฆPak,” jawab Rihana masih canggung di depan Cahyo.
“Padahal kan motornya sudah aku jual dan hasilnya dibagi tiga,” batin Rihana.
“Ok saya ke toilet dulu ya,” kata Cahyo, pamitan mau ke toilet.
“Beuhโฆโฆ.sang direktur ternyata mengenali seorang Rihana!” Fitriani terus-terusan buat Rihana ke-GR an.
Dilihatnya, wajah Rihana sumringah, setelah kejadian itu.
Tak lama, Cahyo Ningrat keluar dari toilet. Tapi kali ini dia tak menghampiri Rihana.
“Berbunga-bunga hati kamu pasti ya. Ketemu idola di acara reuni ini,” kata Fitriani yang juga ikutan bahagia.
“Apaan sih!” celetuk Rihana masih terlihat malu-malu.
Datang panitia, Hery. Dia mengajak Rihana dan Fitriani gabung ke dengan peserta reuni lainnya.
“Yuk, teman-teman, duduk di bangku yang telah disediakan. Acara sebentar lagi akan kita mulai.” ajak Hery.
Rihana dan Fitriani masih asik berdiri di lobby hotel.
Padahal, sebelumnya juga sudah diajak Gita, yang juga sebagai panitia reuni.
Rihana celingukan mencari sosok Cahyo. Tapi berhubung banyak peserta yang hadir, Rihana sedikit mengurangi rasa penasarannya itu.
Sebenarnya dia berharap, duduk di dekat Cahyo. Tapi itu nggak mungkin. “Ya sudahlah. Nanti pasti ketemu lagi,” pikir Rihana. Dia dan Fitriani pun memilih bangku yang paling belakang karena belum terisi. Sedangkan yang bangku depan, full.
“Ri. Ri. Lihat. Orang yang duduk di barisan paling depan. Jaket hijau tua,” kata Fitriani, menunjuk ke arah dimana Cahyo duduk di deretan depan.
“Itu kan sang direktur tadi?!” Fitriani malah duluan menemukan keberadaan Cahyo, diantara ribuan peserta reuni yang hadir hari itu.
Rihana diam pura-pura cuek. Padahal aslinya dia sangat berharap posisi duduknya ada di dekat Cahyo.(*)









