Batam, Posmetrobatam.co: Sebanyak 263 dari total 298 kasus baru positif HIV di Batam, yang ditemukan sejak 6 bulan lalu dari Januari hingga Juni 2026 telah memulai pengobatan antiretroviral (ARV).
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, penanganan dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan HIV.
“Hingga Juni 2026 kami menemukan 298 kasus HIV dan 48 kasus AIDS. Dari jumlah kasus HIV yang ditemukan, sebanyak 263 orang sudah memulai pengobatan ARV,” kata Didi kepada wartawan, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan secara kumulatif sejak 2017 hingga Mei 2026, Batam mencatat 6.314 kasus positif HIV dan 1.476 kasus AIDS.
Selain itu, sebanyak 3.933 orang masih menjalani terapi antiretroviral (ART), 692 pasien tercatat tidak datang sesuai jadwal pengobatan, sedangkan 952 pasien dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di luar Kota Batam.
“Upaya penanggulangan HIV kami lakukan skrining yang difokuskan pada kelompok populasi yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus tersebut,” katanya.
Ia mencontohkan seperti pekerja seks, pengguna narkotika suntik, waria, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), pasien tuberkulosis (TB), ibu hamil, warga binaan pemasyarakatan (WBP), pasien infeksi menular seksual (IMS), pekerja migran, hingga anak jalanan.
“Pada tahun ini sasaran skrining HIV di kelompok berisiko mencapai 16.839 orang. Pemeriksaan dini menjadi salah satu strategi utama agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan segera diobati,” ujarnya.
Untuk mendukung layanan tersebut, Dinkes Batam mencatat sebanyak 39 fasilitas kesehatan telah memberikan layanan konseling dan tes HIV, sedangkan 32 fasilitas kesehatan telah melayani pengobatan ARV.
“Di Puskesmas kami ada layanan tes HIV, serta pengobatan. Lalu juga ada di rumah sakit daerah seperti RSUD Embung Fatimah dan RS Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, ada juga di beberapa rumah sakit swasta seperti RS Awal Bros,” katanya.
Didi mengakui penanggulangan HIV di Batam masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya kesadaran kelompok berisiko untuk melakukan pemeriksaan, tingginya mobilitas penduduk di wilayah perbatasan, hingga masih kuatnya stigma terhadap orang dengan HIV.
“Masih ada masyarakat yang takut melakukan tes karena khawatir mendapatkan stigma atau diskriminasi. Padahal pemeriksaan dan pengobatan HIV tersedia secara gratis, dan semakin cepat diketahui maka peluang hidup sehat juga semakin baik,” katanya.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kepatuhan sebagian pasien dalam menjalani terapi ARV secara rutin.
Menurutnya, penghentian pengobatan dapat meningkatkan risiko resistensi obat sehingga terapi menjadi lebih sulit.
“Kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak menunda pengobatan dan tetap disiplin mengonsumsi ARV sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kepatuhan menjalani terapi menjadi kunci keberhasilan pengendalian HIV,” ujar Didi.(ant)









