Karya: baiq desi rindrawati
wartawan senior posmetro batam
Sejak dekat dengan Cahyo, Rihana merasa dunianya lebih berwarna. Bahkan, dia ingin bersama, sehidup semati dengan Cahyo.
Maka dari itu, Rihana terus mencari cara bagaimana dia bisa berpisah dari Bagas.
Sore itu, Rihana sengaja berdandan sedikit berbeda dari biasanya. Memakai kaos oblong putih, pres body, dengan paduan celana jeans jebrai biru langit.
Fatimah yang menyaksikan itu langsung berkomentar negatif.
“Pasti mau ketemu selingkuhannya.” tuding Fatimah, mertua jutek yang selalu bersikap sinis pada Rihana.
Rihana yang mendengar itu, langsung nyolot.
“Itu bukan urusan ibu,” kata Rihana berlalu begitu saja meninggalkan Fatimah.
Tudingan Fatimah memang benar. Rihana sudah buat janji dengan. Cahyo, di rumah makan tempat biasa mereka bertemu.
Setengah jam kemudian, Rihana sampai, diikuti dengan Cahyo.
“Kok bisa bareng?” sapa Bagas dengan senyum bahagia.
Debar jantung Rihana mulai tak karuan karena bahagia bisa bertemu Cahyo, hari ini.
Keduanya pun melangkah bersama, mencari tempat duduk ternyaman, biar bisa ngobrol lebih lama.
Di pojokan.
Cahyo mempersilakan Rihana, duduk.
“Silakan, Nyonya Cahyo,” goda Cahyo, dan seketika pipi Rihana memerah. Rihana dibuat salah tingkah, kali ini.
Seorang pelayan rumah makan, mendekati mereka. Menyodorkan buku daftar menu makanan.
“Selamat sore Pak, Bu,” sapa pemuda itu pada Cahyo dan Rihana.
“Sore,” Rihana dan Cahyo menjawab serempak.
“Kompak ya dari tadi kita kayak sudah diatur gitu, kompaknya,” ucap Cahyo menggoda Rihana lagi.
Rihana hanya senyum-senyum.
Cahyo menyodorkan buku menu makanan itu ke hadapan Rihana.
“Pilihin ya menunya,” kata Cahyo manja.
“Rawon aja, mau nggak?” tanya Rihana sedikit canggung.
“Siap. Apapun pilihan nyonya, saya suka,” ucap Cahyo lagi, bahagia.
“Ya sudah Mas, rawon dua. Minumnya juice alpukat,” sebut Rihana pada pelayan laki-laki muda itu.
Dia pun bergegas ke belakang membuat pesanan keduanya.
“Kamu cantik hari ini, fresh banget penampilan kamu. Aku suka,” Cahyo memuji Rihana lirih.
Mendengar itu, Rihana kembali salah tingkah lagi.
Tanpa diduga-duga, Cahyo meraih tangan Rihana.
“Rindu banget aku Ri, berhari-hari pengen ngobrol langsung sama kamu. Alhamdulillah hari ini doaku dikabulkan sama Allah.” ucap Cahyo terus terang.
“Ya Allah, baru kali ini aku merasakan cinta yang sebenarnya,” batin Rihana.
“Cepetan dong, urus perceraian kamu, aku sudah nggak tahan pengen jadi suami kamu,” kata Cahyo lagi, to the point.
Perkataan Cahyo semakin buat Rihana deg-degan. Bagi Rihana, ini serasa mimpi semuanya. Tapi, ia mencubit pipinya, ternyata ini bukan mimpi.
“Ya kumohon Ri, aku sudah lama mendambakan cinta seorang wanita seperti kamu,” ucap Cahyo lagi buat Rihana tersanjung.
“Ya Allah, beri aku jalan keluar masalahku, biarkan aku secepatnya bisa bercerai dari Bagas,” gumam Rihana.
“Maaf ya kalau aku memaksa kamu. Soalnya, aku dengar dari seseorang, kamu sudah diabaikan sama suami kamu. Bagas kan ya namanya?” kata Cahyo langsung ke inti persoalannya.
Rihana hanya menganggukkan kepala, dengan debar jantung yang masih tak karuan.
“Ya Allah. Terimakasih kebahagiaan ini,” ucap Rihana lirih di depan Cahyo.
“Aku janji akan buat kamu bahagia, Ri. Percayalah Ri sama aku.” kata Cahyo meyakinkan Rihana.
“Percaya, Mas,” jawab Rihana penuh bahagia.
“Mas aku boleh tanya sesuatu?!” tanya Rihana.
Spontan, Cahyo terlihat mulai fokus mendengarkan apa yang ingin ditanyakan Rihana.
“Boleh banget dong, sayang.” jawab Cahyo, mesra.
“Tapi, sebelum aku lanjutkan, aku ingin satu hal dari kamu mas!” pinta Rihana, buat Cahyo mendadak penasaran.
“Apa itu?!” Cahyo masih dengan posisi menggenggam kedua tangan lembut Rihana.
“Kamu belum cerita, kenapa kamu ingin memperistri aku!” sebut Rihana.
“Oh itu masalahnya, kenapa kamu masih meragukan ketulusan cinta aku sama kamu?!”
“Ragu sih nggak ya Mas. Cuma aku pengen tahu aja kenapa secepat ini, kamu ingin menjadikan aku sebagai pendampingmu. Aku nggak sedang bermimpi kan Mas?!” ucap Rihana pelan.
“Aku sudah lama menduda Ri. Istri aku nikah lagi sama laki-laki lain. Tapi aku nggak peduli, itu semua masa lalu aku. Makanya aku ingin secepatnya memulai hidup baru, menyongsong masa depan bareng kamu,” ucap Cahyo panjang lebar.
Jawaban Cahyo, buat Rihana lega. Di dalam hati, dia bertekad mulai detik ini, dia akan menjadikan Cahyo, satu-satunya rumah, tempat dia pulang.
“Sejak pertama aku mengenal Mas Cahyo, aku cuma bisa memendam rasa, andai aku dipersatukan, itu adalah anugerah terindah buat hidup aku.” Rihana juga mulai jujur ke Cahyo, kalau dia juga sebenarnya mencintai Cahyo sejak lama.
“Terus kenapa baru sekarang diungkapin?” Pertanyaan Cahyo membuat Rihana tak bisa berkutik.
“Entah. Nggak tahu aku Mas. Kenapa baru sekarang,” jawab Rihana sembari mengukir senyum tipis di sudut bibirnya.
“Kalau aku juga boleh jujur, sejak lama aku dapat cerita dari Fitriani. Dia teman baik aku waktu di bangku SMA. Dia cerita, Rihana udah lama diabaikan suaminya. Terus dia juga cerita kalau kamu juga naksir aku,” cerita Cahyo dengan bangganya.
“Ih apaan sih Fitriani. Kebongkar deh rahasia aku,” protes Rihana, yang berusaha melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi dalam genggaman tangan Cahyo yang kekar.
“Sekarang, aku tunggu jawaban kamu, Ri. Jujur aku ingin segera meminang kamu,” lagi-lagi Cahyo buat Rihana salah tingkah.
Rasanya, Rihana seperti mimpi di siang bolong.
“Beneran ya Mas. Kamu nggak bohong kan?!” Rihana pura-pura nggak percaya sama Cahyo. Tapi dalam hatinya dia percaya banget dengan semua yang diucapkan Cahyo.
“Biar kamu percaya seratus persen sama aku, nih pegang kartu ini!” kata Cahyo sembari mengeluarkan kartu ATM dan menyodorkannya ke Rihana.
“Maksudnya, apa ini Mas. Apa hubungannya sama kartu ATM?” Rihana bingung.
“Sebagai tanda jadian kita, kamu boleh pakai uang yang ada di ATM itu, sepuasnya,” jelas Cahyo.
“Lho ….aku nggak minta Mas,” protes Rihana.
“Iya memang. Kamu nggak minta, tapi aku yang kasih.” jelas Cahyo merasa benar dengan kalimatnya itu.
“Hmmm..nggak biasa aku Mas, dimanja kayak begini,” jelas Rihana sembari menggeser posisi atm itu lebih dekat ke hadapan Cahyo.
“Kamu akan terbiasa dengan panggilan nyonya Cahyo, dan kamu akan terbiasa dengan ATM ini,” Cahyo memaksa Rihana menerima pemberiannya itu.
“Nggak banyak sih. Tapi aku jamin kamu bakal suka shoping dengan ATM ini. Aku mau nanti calon istri aku ini, terbiasa dengan ATM ini,” tegas Cahyo lagi.
“Nggak usah Mas, aku bukan tipe perempuan matre.” Rihana masih bersikeras menolak pemberian ATM itu dari Cahyo.
“Mentang-mentang nggak banyak, ditolak, ya,” giliran Cahyo yang protes.
“Ya nggak gitu, Mas. Beneran aku nggak biasa dimanja kayak begini,” Rihana masih kekeuh dengan prinsipnya, tak ingin menerima pemberian dari Cahyo, sebelum ada ikatan resmi antara keduanya.
“Kalau pemberian aku ditolak, berarti kamu sama aja menolak cinta aku,” tuding Cahyo to the point.
Akhirnya Rihana pun tak bisa berkata-kata, selain menerima atm itu.
“Ya udah kamu titip ATM ini di dompet aku kan Mas?!” kata Rihana menyimpulkannya.
“Terserah. Pokoknya ambil ya, sebagai bukti aku ingin menjadikan kamu istri aku.” ucap Cahyo penuh bahagia.(*)













