Batam, Posmetrobatam.co: Suara aba-aba pelatih memompa semangat atlet. Tendangan-tendangan melesat cepat. Kuda-kuda dipancang kokoh. Setiap gerakan diulang berkali-kali. Bukan untuk sekadar menghafal teknik. Melainkan membangun keyakinan.
Di Batam, harapan itu sedang tumbuh.
Puluhan atlet Taekwondo Kharisma Bangsa bersiap menguji kemampuan pada Changmookwan Taekwondo Singapore Championship 2026. Kejuaraan internasional yang digelar secara daring itu menjadi panggung bagi para atlet muda untuk menunjukkan hasil dari ribuan jam latihan.
Layar kamera akan menggantikan arena pertandingan. Rekaman video menjadi saksi setiap tendangan, setiap hentakan kaki, dan setiap napas yang ditahan. Namun bagi mereka, semangat bertanding tetap sama. Tidak ada yang berubah. Yang berubah hanya medianya.
Head Coach Taekwondo Kharisma Bangsa Batam, Soewito Trikusuman, mengatakan seluruh atlet tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Pengambilan video dilakukan di beberapa dojang di Batam, yakni MB2, DC Mall, Pollux Mall, dan One Batam Mall.
“Meski dilaksanakan secara online, semangat anak-anak tidak berkurang sedikit pun. Mereka tetap berlatih serius dan menikmati setiap prosesnya,” ujarnya.
Para atlet akan tampil pada tiga nomor pertandingan, yakni Poomsae, Speed Kicking, dan Kyukpa atau Breaking. Hasil penilaian dijadwalkan berlangsung pada 5 hingga 9 September 2026.
Di balik kejuaraan ini, tersimpan sejarah panjang. Changmookwan bukan sekadar nama kompetisi. Ini merupakan salah satu dari lima sekolah asli pendiri Taekwondo dunia yang berdiri di Korea Selatan pada tahun 1946. Nama Changmookwan berarti “Sekolah Kekuatan Abadi.”
Sebuah filosofi yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari otot semata. Tapi tumbuh dari disiplin. Dibentuk oleh rasa hormat. Dan dipertahankan oleh semangat yang tak pernah menyerah.
“Itulah nilai yang kami tanamkan kepada atlet-atlet kami. Changmookwan bukan sekadar nama kejuaraan. Ia adalah warisan nilai. Disiplin yang teguh, rasa hormat yang tulus, dan semangat yang tidak pernah padam,” tutur Soewito.
Baginya, setiap atlet yang berdiri di depan kamera sesungguhnya sedang memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada mengejar medali. Mereka membawa nama Indonesia. Mereka membawa nama keluarga. Mereka membawa nama klub yang selama ini menjadi rumah untuk bertumbuh.
“Saat kita melangkah di ajang ini, kita tidak hanya membawa nama diri atau klub. Kita membawa nama Indonesia dan menghormati perjuangan para pendiri beladiri,” katanya.
Pesan itu terus diulang kepada seluruh atlet.
Bukan agar mereka hanya mengejar kemenangan. Melainkan agar mereka memahami makna sebuah perjuangan.
“Berjuanglah dengan hati yang bersih. Bertandinglah dengan jiwa yang terhormat. Kemenangan terindah adalah saat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ucap Soewito.
Kontingen Taekwondo Kharisma Bangsa Batam menurunkan 27 atlet pada kejuaraan ini. Sebanyak 14 atlet tampil di kategori Speed Kick Putra, 9 atlet pada Speed Kick Putri, 3 atlet di nomor Poomsae Putri, serta masing-masing 1 atlet pada nomor Kyukpa Putra dan Kyukpa Putri.
Dari kategori Speed Kicking Putra: Ray Virendra Wanas, M Bintang Andrestian Abung, Kenzo Ryuga Sanofa, Kenneth Elbert Phang, Renzo Mikael Zachrie, Ibraheem Al Faruq, Elvano Atharrazka Ukail, Gerald Benlucas Pellokila, Muhammad Fatih Alghifari Fauzi, Afnan Uwais Al Qarni, Owen Efendi, Aldrich Bachtiar Liem, Raisannabil Al Bahzi Ibnu Darojat, Leo Namora Warren.
Atlet dari Speed Kick Putri: Jessica Elvaretta Sandra, Lynnea Rawnie Muliawan, Meriana, Karla Alexandra Callan, Greta Aurelia Callan, Btari Rasendria Nareswari Candranegara, Amira Nayla, Delvi Yani, Nessa Kalista Br Simatupang
Atlet Poomsae Putri: Jessica Elvaretta Sandra, Meriana, Delvi Yani. Untuk Kyukpa Putra Kategori Jumping Side Kick diikuti oleh Owen Efendi. Sedangkan Lynnea Rawnie Muliawan tampil di kategori Tendangan Depan Lompat Tinggi.
Mayoritas dari mereka masih berusia anak-anak hingga remaja. Usia yang masih belia. Namun keberanian mereka telah melampaui angka pada akta kelahiran.
Di balik setiap tendangan cepat yang terekam kamera, ada orang tua yang setia mengantar latihan. Ada pelatih yang sabar membetulkan gerakan. Ada keringat yang jatuh diam-diam di atas matras. Semuanya menyatu dalam satu harapan.
Semoga ketika hasil diumumkan pada September nanti, bukan hanya medali yang pulang ke Batam. Melainkan juga kebanggaan. Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah berdiri di podium. Melainkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih bermartabat daripada hari kemarin.(chi)













