Batam, Posmetrobatam.co: Sorot matanya selalu tenang. Dengan senyum tipis, ia melangkah pasti. Ya, Maitsa Ananda (17), seolah telah ‘berdamai’ dengan kerasnya teknik-teknik jujitsu, jauh sebelum memasuki arena pertandingan.
Di atas matras, gadis yang akrab disapa Memey itu bukan sekadar bertanding. Ia sedang berbicara dengan kerja keras. Dengan disiplin. Dengan ribuan pengulangan teknik yang tak pernah terlihat oleh penonton.
Hanya berselang dua bulan, dua medali emas jujitsu berhasil ia kalungkan di leher. Pada penghujung Mei 2026, Memey berdiri anggun di podium tertinggi Jakarta Jiujitsu Open 2026. Gelar juara nasional itu menjadi penanda bahwa kemampuannya mampu bersaing dengan atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah.
Namun kemenangan di ibu kota tak membuat langkahnya berhenti. Memey tetap memilih kembali bertanding di kota tempat ia lahir dan dibesarkan: Batam. Bukan karena memilih lawan yang lebih mudah. Justru karena ia ingin membuktikan bahwa seorang juara harus mampu menjaga konsistensi di level daerah.
Keinginan itu terjawab di Spider Challenge 2026: Kejuaraan Jiujitsu Antar Dojo se-Provinsi Kepulauan Riau, yang digelar di Mall Botania 2 (MB2), Sabtu (1/8) lalu. Memey kembali naik podium tertinggi. Medali emas kategori U18 -48 kilogram Jiujitsu Putri menjadi bukti bahwa prestasi bukan soal keberuntungan. Prestasi adalah hasil dari latihan yang dilakukan ketika banyak orang memilih beristirahat.
Lahir di Batam, 19 Desember 2008, Memey merupakan putri kedua dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan oleh pasangan Masdedi dan Paula Monalisa, dua sosok pendidik yang sehari-hari berprofesi sebagai guru.
Nilai-nilai disiplin dan kesabaran tumbuh sejak kecil di lingkungan keluarganya.
Kini, siswi kelas XII SMKN 2 Batam itu berlatih di Dojo Kenacha Martial Arts Academy, Mall Botania 2 Batam. Di tempat itulah sabuk ungu yang melingkar di pinggangnya bukan sekadar penanda tingkat kemampuan, tetapi juga simbol perjalanan panjang yang ditempuh dengan ketekunan.
Prestasinya terus bertambah dari tahun ke tahun; Juara 1 Jakarta Jiu-jitsu Open 2026, Juara 1 Spider Challenge 2026, Juara 3 Pekan Olahraga Kota Batam 2025, dua medali perunggu (juara III) Spider Challenge 2025, Juara 3 Jiu-jitsu Open PBJI Batam Championship 2024, Juara 2 Spider Tanjung Pinang Challenge 2024.
Daftar itu belum selesai. Memey ternyata tak hanya piawai dalam olahraga ground fighting. Ia juga aktif menekuni Savate, cabang beladiri yang mengandalkan kecepatan tendangan dan pukulan. Pada 20 Juni lalu, ia sukses meraih medali perak pada Kejuaraan Provinsi Savate Kepulauan Riau.
Kemampuan bertarungnya tumbuh seimbang. Di satu sisi ia menguasai teknik bantingan, dan penguncian lawan dalam jujitsu. Di sisi lain ia mengasah ketepatan pukulan serta tendangan untuk kategori pertandingan lainnya. Perpaduan yang membuat kemampuannya semakin lengkap.
Memey menyebut, bagi remaja putri, jujitsu bukan hanya tentang memenangkan pertandingan.
“Olahraga ini mengajarkan keberanian menghadapi tekanan,” ujar remaja manis yang kini dipercaya sebagai asisten pelatih untuk kelompok Anak, Remaja dan Wanita ini. Berbagai manfaat lain yang bisa diraih, kata Memey: melatih kepercayaan diri, membentuk disiplin, menguatkan fisik, sekaligus mental.
Remaja putri belajar mengenali kemampuan dirinya, menjaga ketenangan saat menghadapi situasi sulit, serta memiliki bekal dasar untuk melindungi diri.
“Lebih dari itu, jujitsu juga membangun karakter,” ujarnya. Mengajarkan rasa hormat kepada siapa pun. Menanamkan kesabaran. Membiasakan kerja keras tanpa banyak mengeluh.
Semua nilai itu tumbuh perlahan di dalam diri Memey. Meski sibuk menjalani latihan dan mengikuti berbagai kejuaraan, ia tidak melupakan dunia di luar olahraga. Sejak duduk di kelas X SMK, ia menekuni jujitsu tanpa meninggalkan hobinya bermain biola.
Di sela latihan, alunan nada menjadi cara lain baginya menikmati hidup. Musik memberinya ketenangan. Jujitsu memberinya keberanian. Dua dunia yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Di luar itu, Memey memiliki kesukaan yang sederhana. Ia menyukai es krim.
Ia juga mencintai pantai yang masih dipenuhi pepohonan hijau. Alam baginya bukan sekadar tempat berlibur, melainkan ruang untuk mengembalikan energi setelah berhari-hari ditempa latihan.
Warna favoritnya hijau dan oranye. Hijau melambangkan harapan, kesejukan, serta pertumbuhan. Seperti dirinya yang terus berkembang sedikit demi sedikit setiap kali berlatih.
Sementara oranye menggambarkan semangat, keberanian, optimisme, dan energi yang tak pernah padam. Warna yang seolah mencerminkan cara Memey memasuki arena pertandingan.
Prestasi di luar olahraga pun pernah ia ukir. Ia pernah meraih Juara Mula 2 Scout Day Reportase, membuktikan bahwa semangat belajar tak hanya tumbuh di atas matras.
Meski telah mengoleksi berbagai medali, Memey belum merasa puas. Ia punya target, sebelum menamatkan pendidikannya di bangku SMK, ia masih membidik sejumlah kejuaraan lain. Masih ada podium yang ingin ia naiki. Masih ada mimpi yang ingin ia sentuh.
Baginya, setiap medali hanyalah titik koma. Bukan titik akhir. Filosofi hidupnya sederhana. “Belajarlah menikmati proses, bukan hanya menantikan hasil akhirnya,” katanya.
Kalimat itu selalu mengingatkannya bahwa kemenangan terbesar bukanlah medali emas. Melainkan kemampuan untuk terus bangkit setiap kali latihan terasa berat.
Karena ia percaya pada satu kalimat yang selalu menguatkan langkahnya. “Capek boleh, but don’t quit; lagi di-upgrade mentalnya sama semesta,” ujarnya tersenyum.
Dan selama keyakinan itu tetap menyala, perjalanan Memey masih akan terus berlanjut menuju podium-podium berikutnya.(chi)













