ISTRI PAJANGAN Bagian 26: Mulai Pedekate dengan Cahyo

Karya: baiq desi rindrawati

wartawan senior posmetro batam

Rihana tak menyangka sama sekali, pertemuannya dengan Cahyo untuk yang kesekian kalinya di rumah makan langganannya, pelan-pelan membawa semangat baru buat hidupnya.

“Eh Mbak Rihana ketemu lagi kita,” sapa Cahyo buat Rihana jadi salah tingkah.

“Kalau boleh, saya gabung di meja ini ya,” katanya minta izin.
“Ya Allah. Mimpi apa aku semalam. Ketemuan sama orang yang selama ini aku dambakan kehadirannya.” gumam Rihana.
“Boleh kan,” kata Cahyo yang melihat Rihana salah tingkah.
“Iya silahkan. Dengan senang hati,” jawab Rihana terlalu jujur.
“Aduh keceplosan aku. kenapa harus ngomong kayak gitu sih RI,” gumamku dalam hati
Debar jantung Rihana tak karuan. Serba salah tingkah mau ngapain-ngapain di depan Cahyo.

“Mbak. Kapan ada waktu, saya pengen ngundang Mbak buat makan malam,” kata Cahyo yang terdengar to the point.

“Eh….boleh boleh Pak,” jawab Rihana sedikit canggung.

“Kenalan secara resmi dulu deh. Saya Cahyo.” ucapnya sembari mengulurkan tangannya, yang ingin berjabat tangan dengan aku.
“Rihana!” balas Rihana saat menyambut jabat tangan Cahyo.

“Boleh kan saya jadi teman kamu? Atau saya terlalu tua ya buat jadi teman Mbak Rihana?” ucap Cahyo lagi yang buat jantung Rihana semakin tak karuan.

“Boleh. Boleh Pak,” jawab Rihana lagi yang sedari tadi bicara hanya sepatah dua patah kata, di depan Cahyo.
“Janji?” ia mengulurkan jari kelingkingnya dan aku pun tanpa berpikir panjang, mengaitkan jari kelingking aku ke jari kelingkingnya.

“Saya tahu Mbak Rihana ke rumah makan ini, nyaris tiap hari kan?”
Semua yang dikatakan Cahyo serba tiba-tiba. Rihana merasa Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.
“Kok tahu sih Pak?” Rihana bingung dan wajahnya tiba-tiba memerah karena menahan malu.
“Nyari in saya kan?!” tanyanya lagi seolah menodongku dengan sebilah belati tajam.
“Iya…..rumah makan ini milik Tante saya.” sebut Cahyo.
“Aduh ketahuan deh aku.” gerutu Rihana.

BACA JUGA:  Monster Pabrik Rambut: Horor Dunia Kerja dari Edwin, Saat Pabrik Jadi Mesin Pemangsa Nyawa

“Ya sudah. Saya undang Mbak Rihana besok malam di Cafe Manabu, jam 20.00 wib.” katanya lalu pamitan hendak bergegas ke kantor karena ada urusan rapat.

“Oh siap. Pak!” balas Rihana.
“Eh satu lagi. Panggil saya Mas Cahyo. Karena mulai detik ini kita sahabatan bukan?” katanya bergegas meninggalkan Rihana.

“Mimpi apa aku tadi malam? ya ampun Mas Cahyo kenapa kamu buat aku jadi salah tingkah hari ini?” Rihana masih kegirangan karena pertemuannya dengan Cahyo.


Orang pertama yang dia hubungi, adalah Fitriani. Sahabat dalam suka dan duka.
“Fit..Tahu nggak kabar terbaru yang aku dapat hari ini tentang Cahyo?”

Rihana antusias mengatakan itu.
“Ketemuan sama Cahyo kan di rumah makan biasa. Bener kan?!” tebak Fitriani.
Rihana melepas tawa.

“Bener itu.” jawab Rihana. Tapi disisi lain Rihana masih tarik ulur dan ragu untuk mengatakan ke Fitriani.
“Terus apa yang lebih dahsyat?!” desak Fitriani penasaran.
Hingga akhirnya Fitriani minta bertemu empat mata, karena dengan demikian keduanya lebih leluasa bercerita.

“Ya sudah aku ketemu kamu. Kita cerita-cerita lebih leluasa bukan kalau bertatap mata?” ucap Fitriani meyakinkan Rihana.
Rihana pun menyetujui permintaan Fitriani, dan setengah jam kemudian Rihana bertemu dengan Fitriani, di rumah makan langganan mereka.

“Selamat ya….kamu akhirnya selalu dipertemukan dengan Cahyo, si ganteng itu.” celetuk Fitriani yang membuka percakapan. Padahal posisi Fitriani belum juga duduk.
Rihana yang mendengar kalimat itu langsung tertawa lepas.
“Eh nggak boleh sembarangan cara ketawanya. Sebentar lagi jadi pejabat PLN. Mana boleh sembarangan ketawa.” kata Fitriani yang sok serius.
Rihana malah mengaminkan kalimat Fitriani.

“Makasih ya didoain,” kata Rihana sumringah.
“Jadi gimana. Apa yang lebih dahsyat dari sebuah pertemuan dua insan yang sedang dimabuk kepayang?!” goda Fitriani lagi.
“Ih apaan sih?! Baru juga kenalan tadi.” sebut Rihana.
“Maksudnya?” Fitriani bingung.
“Ya tadi dia secara resmi kenalan sama aku.” cerita Rihana sambil memperagakan cara Cahyo berkenalan.
“Hahahahaha..seriusan kayak begitu?” Fitriani masih tak percaya. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam, dia bersyukur, karena sahabatnya itu akhirnya berhasil menemukan sandaran hatinya.

BACA JUGA:  Karena Diputuskan Sepihak Oleh Shandy Purnamasari, Maharani Kemala Undur Diri dari MS GLOW

“Kamu seriusan Ri mau lanjut sama dia?” tanya Fitriani seolah ingin tahu kepastian dari Rihana soal Cahyo.

“Iya. Dia impian aku banget. Kamu tahu kan…..berapa banyak di luar sana saingan aku untuk mendapatkan Cahyo.”

“Hahahaha emang banyak ya yang ngincer Cahyo?”
“Iya itu kan tebakan aku saja. Hari gini, pria seperti Cahyo, nggak mungkin nggak ada yang ngincar. Makanya aku bersyukur Allah mempertemukan aku dengan. Cahyo, saat ini.
“Andai nih Ri. Kalau Cahyo tiba-tiba nembak kamu, dia mau memperistri kamu, gimana. Tolak apa terima.” Fitriani masih iseng menguji hati Rihana. Apakah dia benar-benar serius atau nggak sama Cahyo.

Fitriani bersyukur, selama ini usaha dia mendekatkan Cahyo dengan Rihana, nggak sia-sia.

Fitriani dulu memang teman sekolah SMA dengan Cahyo.
“Cahyo itu dulu murid pendiam. Mana berani main cewek.” kata Fitriani yang cerita bagus-bagus soal Cahyo.

Mendengar itu, Rihana makin yakin kalau dia dan Cahyo bisa bersatu.
“Makasih ya Fit. Kamu banyak memberi aku semangat dan juga dukungan banyak hal, hingga akhirnya aku dan Cahyo bisa bertemu,” ucap Rihana penuh haru.

Kata Rihana, dia mau bersama Cahyo, untuk cinta yang terakhir kalinya.

“Ya semoga suatu hari kalian dipertemukan dalam ikatan cinta yang abadi. itu aja doa aku,” Fitriani ikut terharu. Matanya hampir berkaca-kaca, karena melihat sahabatnya itu bahagia.

“Jangan lupain.aku ya Ri kalau kamu nanti berhasil jadi nyonya Cahyo.” canda Fitriani.
“Ih ngomong apaan sih?!” Rihana pun terlihat berkaca-kaca karena terharu.
“Kita akan sahabatan sampai jadi nenek-nenek tahu!” seloroh Rihana mencoba meyakinkan Fitriani.

BACA JUGA:  Tiga Lokasi Photobox Bareng Idol K-pop Ini Jadi Incarangan Fans di Jakarata

“Alhamdulillah kalau emang itu niat kamu Ri. Aku takutnya kamu udah lupa aja sama aku, karena dapat suami tajir, pejabat, ganteng!” Fitriani masih terus membuat lelucon.

“His apaan sih. Kalau aku jadi nyonya Cahyo, kamu akan tetap menjadi sahabat aku. Ingat dan catat baik-baik,” tegas Rihana.

Tiba-tiba ponsel Rihana berdering.
“Oh my God. Cahyo mau video call sama aku. Gimana ini?” Rihana panik.
“Ya elah. Orang mau video call, dia malah panik. Harusnya senang dong!” celetuk Fitriani.
“Tapi,.aku lagi kucel dan berantakan ini?!” Rihana masih panik. Terima atau nggak, vide call Cahyo.
“Ih biarin aja dah Fit..aku nggak pede mau terima video call dari dia. Belum dandan.” alasan Rihana.

“Oalah. Mau video call aja pakai dandan segala. Aku yakin dia itu bisa terima kamu apa adanya. Nggak perlu pakai dandan!” Fitriani malah terkekeh.

“Hahahahah. Aduh tuan putri satu ini. mau kamu kayak apa, dia itu pasti nggak peduli. bagi dia..kamu itu sekarang bidadarinya!?” Fitriani terus mengejeknya.

“Amin.” sahut Rihana lagi penuh antusias.
Tapi, karena masih panik, dan tak percaya diri, akhirnya Rihana membiarkan panggilan video call itu berlalu begitu saja.

“Nanti dah biarkan saja sekarang. Nanti kalau posisi aku sudah.stay, cantik, baru aku terima video call Cahyo.” jelas Rihana.
“Capek deh?!” celetuk Fitriani.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *