ISTRI PAJANGAN Bagian 25: Bagas Masuk Rumah Sakit

karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Rihana tak ingin tergoda dengan bujuk rayu dan permintaan maaf dari Bagas.

Karena, Rihana merasa, hubungannya dengan Bagas telah berakhir.

Jadi, apa pun yang dilakukan Bagas, Rihana tak peduli.
Bahkan, ketika Bagas sakit sekali pun, Rihana berusaha tak mau peduli lagi.

“Dasar istri tak tahu diri. Tak punya otak. Suami sakit, malah mau kelayapan!” bentak Fatimah, saat melihat Rihana hendak melangkah pergi berangsur dari rumah tak nyaman itu.

Rihana tak peduli dengan kata-kata Fatimah. Hal ini membuat Fatimah emosi.

“Tuli kamu ya!” teriaknya lagi, dan Rihana terus melangkah pergi meninggalkan rumah itu.

Datang Broto, suaminya justru membela Rihana.
“Sudahlah, Rihana tetap dengan sikapnya. Dia berhak melakukan itu ke Bagas. Karena Bagas juga tak peduli dengan keberadaan Rihana selama ini.” ucap Broto tenang.
“Oh jadi kamu bela menantu yang tak berguna itu ya?!” Fatimah semakin emosi melihat Broto yang terus-terusan
membela Rihana.

“Aku nggak membela Rihana. Tapi kamu juga tahu sendiri bukan, Bagas juga memperlakukan Rihana dengan seenaknya. Terang-terangan bawa perempuan ke rumah. Tak dikasih nafkah batin atau pun materi. Coba kamu ada di posisi Rihana. Apa yang akan kamu lakukan?!” Broto masih saja menyebut kalau sikap Bagas anak lelakinya itu, paling bersalah kepada Rihana.

“Awas aja kalau dia berani balik ke rumah, aku maki-maki dia nanti!” ancam Fatimah dengan bengis.

“Sudahlah Bu. Rihana itu menantu yang baik. Dia itu nggak pernah macem-macem. Penurut!” Broto masih terus membela Rihana, menantu kesayangannya itu.

***
Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib. Rihana baru sampai di depan rumah. Seperti biasa. Balik ke rumah, mandi. Terus rebahan di kamar.

Tapi, sepertinya kali ini Rihana tak melakukan itu. Masuk ke kamar. Dia kemasi baju-bajunya ke dalam koper.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 54: Cahyo Balik ke Rumah

“Ma. Mau kemana?!” Gilang anak lelakinya itu muncul.

Rihana heran. Biasa, Gilang pulang sekolah, main futsal. Tapi kali ini Gilang justru menemani Bagas yang sedang sakit.

“Eh Gilang. Tumben hari ini nggak ada jadwal main futsal. Main sana. Ngapain di rumah terus. Nemani papa kamu lagi sakit? Papa kamu emang peduli, waktu kamu sakit kemarin? Nggak kan?!” Rihana mengatakan itu dengan santainya, di depan Bagas.

Bagas terdiam. Gilang justru ambil jalan tengah.
“Nggak apa Ma. Sudah kewajiban Gilang berbakti sama orang tua.” ucap Gilang penuh makna.
“Apa? Berbakti sama orang tua? Orang tua kamu aja nggak peduli dengan keberadaan kamu?!” Rihana kesal mengatakan itu.

“Sudahlah kalau kalian nggak mau aku disini, aku aja yang pergi. Gampang?!” ucap Bagas pelan. Kondisinya sedang lemah.
Sudah dua hari ini dia terbaring di rumah tanpa perhatian Rihana.
Gilang menahan langkah Gilang.
“Pa. Jangan pergi. Gilang tahu, papa nggak suka Gilang. Tapi Gilang tulus Pa. Mau menemani Papa yang lagi sakit.” kata Gilang lagi, yang terlihat berusaha menenangkan Bagas.

Tanpa diduga-duga. Rihana menarik tangan Gilang.

“Gilang. Kamu sadar nggak sih. Kamu itu sebenarnya nggak diinginkan sama Papa kamu. Bagi dia, kamu nggak penting. Bagi dia, partai dan sekretaris di kantornya yang paling utama. Kamu? Mama? Riko, nggak penting di hidup papa kamu!” Rihana mulai terbakar emosi.

“Jaga mulut kamu! Dasar menantu tak berguna!” tiba-tiba Fatimah muncul, hadir diantara Rihana, Gilang dan Bagas.
Disusul dengan Broto.
“Sudahlah Bu. Nggak usah ikut campur urusan Bagas dan Rihana.” ucap Broto, yang mencoba mencegah Fatimah ikut campur lebih jauh soal rumah tangga Rihana dan Bagas.

“Bagas. Bagusnya kamu mulai besok tinggal di villa Matahari saja. Jangan disini lagi. Ajak anak-anak kamu dan istri kamu tinggal disana. Nggak bagus kalau kamu bertahan tinggal di sini!” ucap Broto.

BACA JUGA:  Hubungannya dengan Asisten Prabowo Ternyata Cuma Rekayasa, Nikita Mirzani Merasa Diperalat

Fatimah langsung protes mendengar kalimat Broto.
“Kamu itu Pak. Sama aja sama Rihana. Tak pernah belain aku?! Maksud kamu apa Pak?! Kamu suruh Bagas menjauh dari aku?” protes Fatimah tanpa titik koma.

“Gilang. Masuk kamu ke kamar!” perintah Rihana. Tanpa berkata-kata lagi, Gilang melangkah pergi menuju ke kamarnya.

“Sebagai seorang ibu, pantaskah kamu menghasut anak kamu, supaya dia benci sama Papa nya. Dimana otak kamu?” maki Fatimah penuh emosi.

Bagas merasa bersalah. Apa yang dikatakan Broto bapaknya, benar. Dia memang tak pernah adil dengan Rihana. Sekarang, Bagas merasa sakit sendirian. Rihana memang tak peduli.

***
Rihana tak kuasa menahan tangisnya. Saat mengetahui Bagas tak sadarkan diri, terbaring lemah di ruang UGD.

“Cepet sembuh ya Mas,” kata Rihana dalam hati.

“Ma. Papa sakit apa?” Gilang juga terlihat panik saat mengetahui Bagas tak sadarkan diri di ruang UGD.

“Nggak tahu, sayang. Papa kamu katanya tadi tiba-tiba pingsan.” sebut Rihana yang mencoba tenang.
Entah dorongan apa yang membuat Rihana menangis. Bagaimana pun juga meski Bagas telah banyak mengecewakannya, Rihana masih punya hati.

“Ma..terus siapa perempuan yang berdiri disana?!” tanya Gilang yang merasa tak suka melihat kehadiran Sofia, sekretaris baru Bagas, yang ikut mengantar Bagas dan menemaninya di UGD.
“Oh itu sekretaris Papa yang baru!” jelas Rihana.

“Ngapain dia lama-lama disini?!” tanya Gilang lagi tak suka.
“Kan tadi dia ngantar papa ke UGD. Papa pingsan katanya.” jelas Rihana lagi berusaha membuat Gilang bisa menerima kehadiran Sofia.

“Hei Rihana. Kamu kemana saja. Suami pingsan masuk rumah sakit. Malah enak-enakan kelayapan.” celetuk Fatimah yang baru melihat kehadiran Rihana bareng Gilang.

Rihana juga tahunya mendadak, kalau Bagas masuk rumah.

BACA JUGA:  Hubungan Nikita Mirzani dan Sekpri Prabowo Mulai Terang-terangan

Rihana tak ingin cari ribut. Dia diam saja, tak ingin merespon ocehan Fatimah.

“Gilang. Mama kamu kemana aja..Papa kamu masuk rumah sakit, dia malah keluyuran sama teman-temannya. Istri macam apa dia?!” bentak Fatimah di depan Rihana.

“Ibu. Rihana sudah cukup sabar mendapat perlakuan tak layak dari ibu. kenapa ibu selalu memojokkan Rihana. Cukup Bu!” Rihana gantian yang bicara.

“Oh bagus ya..Kamu sekarang mulai melawan aku!” balas Fatimah kesal, karena dia merasa ditentang sama menantunya itu.

Gilang terdiam melihat kejadian ini.
“Lihat Sofia. Dia lebih perhatian ke Bagas, ketimbang kamu.” kata Fatimah, dengan sinisnya.

“Kamu becus nggak sebenarnya jadi istri!” Fatimah terus nyerocos tak henti.

Rihana langsung protes lagi.
“Ibu. Saya sudah bersabar ya diinjak-injak harga diriku selama ini. Ibu bisa diam nggak. Ini rumah sakit.” gantian Rihana, yang sekarang menguasai keadaan.

“Sudah …..sudah! Kalian ini asik ribut saja. nggak di rumah. Nggak di rumah sakit. Ribut seperti tom and Jerry!” celetuk Broto yang berusaha menengahi keduanya.

Rihana dan Fatimah pun terdiam.

“Ma…..mama kasian nggak lihat papa terbaring kayak begitu?!” tanya Gilang, iseng.

“Ya kasian sayang. Mama kan istrinya.” jawab Rihana pelan.
“Tapi Ma..papa selama ini jahat ya sama Mama..Nggak peduli sama mama.” keluh Gilang.

“Sudah biasa sayang. Yuk mari berdoa sama-sama buat kesembuhan papa kamu,” ajak Rihana pada anak bujangnya itu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *