Kepri Tumbuh 7,04 Persen, Tertinggi di Sumatera di Tengah Ketidakpastian Global

82

Batam, Posmetrobatam.co: Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P. menyatakan perekonomian Kepri tetap tumbuh kuat di tengah ketidakpastian global. Pada triwulan I 2026, ekonomi Kepri tumbuh 7,04 persen (year on year/yoy), melampaui pertumbuhan nasional yang mencapai 5,61 persen dan menjadi yang tertinggi di Sumatera.

Rony menjelaskan pertumbuhan ekonomi Kepri masih ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Dari sisi pengeluaran, investasi, ekspor neto, serta konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan.

“Memasuki triwulan II 2026, ekonomi Kepri diprakirakan tetap tumbuh kuat meski sedikit melambat akibat normalisasi aktivitas pertambangan setelah kinerja tinggi pada tahun sebelumnya,” kata Rony, Kamis (25/6/2026).

BACA JUGA:  Merpati, Kucing hingga Bawang dari Kepri Ditahan Karantina Jambi

Ia menambahkan, stabilitas sistem keuangan Kepri juga tetap terjaga. Hingga April 2026, kredit perbankan tumbuh 23,86 persen menjadi Rp105,42 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 15,54 persen menjadi Rp107,08 triliun. Risiko kredit juga tetap terkendali dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,14 persen.

Di sektor UMKM, penyaluran kredit tumbuh 8,37 persen dengan NPL sebesar 2,62 persen. Menurut Rony, kondisi tersebut menunjukkan sektor UMKM masih menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.

Terkait inflasi, BI mencatat inflasi tahunan Kepri pada Mei 2026 sebesar 3,92 persen. Untuk menjaga stabilitas harga, BI Kepri terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui berbagai program, seperti Gerakan Menanam Cabai Kepri (GEMARI), edukasi belanja bijak, hingga penguatan ketahanan pangan daerah.

BACA JUGA:  Pulau Penyengat, Jembatan Lintas Generasi Menuju Pariwisata Berkelanjutan 

Rony menegaskan, BI Kepri akan terus mendorong lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan sektor pariwisata dan UMKM. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas produk unggulan daerah, perluasan akses pasar, digitalisasi usaha, serta penguatan pembiayaan.

“Pengembangan UMKM harus menjangkau wilayah kepulauan dan hinterland agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif,” katanya.

BI Kepri juga menyiapkan sejumlah program penguatan ekonomi digital, di antaranya QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2026, Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL), serta Pekan QRIS Nasional (PQN). Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan QRIS sekaligus mendukung promosi UMKM, kuliner, dan destinasi wisata Kepri.

Secara keseluruhan, BI Kepri memproyeksikan ekonomi Kepri tumbuh pada kisaran 6,0–6,8 persen sepanjang 2026, dengan inflasi tetap terjaga dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.

BACA JUGA:  Bintan Timur Gelar Minggu Kasih Bersama Masyarakat Kota Kijang

“Melalui sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan masyarakat, BI Kepri berkomitmen menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif,” tutup Rony. (hbb)