Pulau Penyengat, Jembatan Lintas Generasi Menuju Pariwisata Berkelanjutan 

86

Tanjungpinang, posmetrobatam.co: Pulau Penyengat terus menunjukkan perannya sebagai destinasi strategis berbasis sejarah, budaya, dan religi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di Provinsi Kepulauan Riau.

Sebagai miniatur kejayaan peradaban Melayu-Islam, Pulau Penyengat memiliki nilai historis tinggi, termasuk sebagai pusat lahirnya tata bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia melalui karya tokoh besar Raja Ali Haji. Selain itu, kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata halal unggulan.

Sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029, pembangunan sektor pariwisata diarahkan pada konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan melalui pendekatan pariwisata regeneratif.

Konsep ini menekankan pentingnya keberlanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Presiden RI Prabowo Subianto juga menginstruksikan implementasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) serta Gerakan Wisata Bersih (GWB) sebagai upaya menjaga kebersihan dan kenyamanan destinasi wisata di seluruh daerah.

BACA JUGA:  Empat RS di Batam Layani Pasien Gangguan Jiwa, 46 ODGJ Masuk RSJKO Kepri

Dalam mendukung instruksi tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan Gubernur H. Ansar Ahmad terus melakukan revitalisasi kawasan Pulau Penyengat secara masif. Berbagai pembangunan telah dilakukan, mulai dari penataan jalan kawasan, perbaikan drainase, pemasangan lampu penerangan, penataan objek wisata, penyediaan fasilitas umum seperti toilet, hingga pengelolaan sampah.

Tak hanya itu, pengembangan sektor pariwisata juga melibatkan masyarakat melalui penguatan UMKM, pengelolaan homestay, serta berbagai atraksi wisata berbasis budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki kekuatan besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata.

la menambahkan bahwa pendekatan pariwisata regeneratif menjadi kunci dalam pengembangan Pulau Penyengat.

Konsep pariwisata regeneratif ini menekankan bahwa pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” jelasnya.

BACA JUGA:  Inflasi di Kepri Stabil, Tapi Angkanya Tinggi Dibanding Wilayah Lain

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Selama periode Januari hingga Maret 2026, kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat tercatat mencapai sekitar 6.200 orang, baik wisatawan mancanegara maupun domestik, khususnya dari Malaysia, Singapura, Eropa, serta wilayah Nusantara, terutama pada momentum libur nasional dan Hari Raya Idulfitri.

Menurut Hasan, meningkatnya jumlah kunjungan ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta berbagai layanan wisata lainnya,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM dan pengelola homestay agar mampu memberikan layanan yang berkualitas kepada wisatawan.

Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dalam menciptakan daya tarik wisata yang berkelanjutan.

BACA JUGA:  Kadisnaker Kepri: UMP 2026 Masih Tunggu Terbitnya PP Pengupahan

Wisatawan akan tertarik dan kembali berkunjung apabila destinasi wisata tersebut bersih, nyaman, dan ramah. Karena itu, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga Pulau Penyengat,” tambah Hasan.

Ke depan, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pembangunan di Pulau Penyengat, termasuk rencana pembangunan monumen bahasa, peningkatan akses penerangan jalan, serta revitalisasi lanjutan Balai Adat sebagai destinasi wisata baru.

Hasan menyebutkan bahwa pembangunan monumen bahasa dan museum akan menjadi daya tarik baru sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Pembangunan monumen bahasa ini akan menjadi ikon baru yang tidak hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga memberikan multiplier effect terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Dengan kekayaan sejarah, budaya, dan nilai religius yang dimiliki, Pulau Penyengat diharapkan mampu menjadi jembatan lintas generasi dalam memperkenalkan kejayaan peradaban Melayu-Islam sekaligus menjadi pusat edukasi budaya dan sejarah bagi generasi masa kini dan mendatang. (*/Pemprovkepri/jlu)