Tim BRIN Kunjungi Kebun Raya Batam
Batam, Posmetrobatam.co: Di tengah cuaca ekstrem dan terik matahari yang menyengat Kota Batam dalam beberapa bulan terakhir, sebuah harapan baru berembus di kawasan Batam Botanical Garden, Nongsa. Kehadiran tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Rabu (29/4) menjadi suntikan semangat bagi pengelola untuk menyulap lahan seluas 85 hektare tersebut menjadi pusat konservasi kelas dunia.
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, DR. R. Hendrian, M.Sc., didampingi Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi, DR.Asep Riswoko. Kehadiran mereka bukan sekadar tinjauan biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kerja sama yang telah terjalin dengan Pemerintah Kota (Pemko) Batam sejak 2017 silam (dulu namanya LIPI).

Fokus Unik: Konservasi Mangrove yang Langka di Dunia
Rabu (29/4) malam, dalam diskusi hangat di kawasan Batam Centre, Hendrian mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi spesifik yang dimiliki Kebun Raya Batam. Menurutnya, kebun raya yang memfokuskan diri pada koleksi mangrove sangatlah langka di kancah global.
“Sejauh pengamatan kami, tidak banyak kebun raya di dunia yang fokus pada flora mangrove; salah satunya ada di Thailand. Di Indonesia sendiri, baru Kebun Raya Surabaya yang memiliki fokus serupa. Batam memiliki peluang besar untuk menjadi yang kedua sekaligus pusat edukasi mangrove yang strategis,” ujar Hendrian optimis.
Secara ekologis Hendrian menjelaskan, mangrove memiliki karakter taksonomi yang unik dan peran krusial dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan kawasan mangrove seluas 30 hektare yang sudah ada di lokasi, BRIN mendorong agar Kebun Raya Batam secara bertahap memunculkan konsep pengembangan laboratorium ekologi yang modern.
Sinergi Strategis Bersama Wali Kota Batam
Langkah besar ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, DR.H. Amsakar Ahmad. Sinergi ini dinilai sangat krusial karena melibatkan dua peran jabatan sekaligus.
Hendrian memaparkan, bahwa kerja sama dengan Pemko Batam akan difokuskan pada pengembangan perkebunrayaan, sementara dengan BP Batam akan lebih banyak menyentuh ranah riset, inovasi, serta pengembangan Science Techno Park (STP).
Dukungan penuh dari pimpinan daerah menjadi kunci utama. Dengan komitmen kuat dari pemerintah setempat, Kebun Raya Batam diproyeksikan menjadi “oase” atau paru-paru kota di tengah pesatnya pembangunan industri dan pemukiman dalam 10 tahun ke depan.
“Kawasan ini akan menjadi penyeimbang agar Batam tetap memiliki wilayah hijau yang luas dan asri, ” ujar Hendrian.
Menaklukkan Tantangan Alam dengan Sains
Mengembangkan kebun raya di tanah Batam memang bukan perkara mudah. Hendrian mengakui, adanya tantangan alam yang nyata, mulai dari kondisi tanah merah yang liat—mudah tergerus saat hujan dan sangat keras saat kemarau—hingga ketergantungan pada air tadah hujan (catchment area).
“Kondisi ekstrem ini justru melahirkan kekhasan. Hanya tanaman tertentu yang mampu bertahan hidup (survive), dan itulah yang akan menjadi karakter unik Kebun Raya Batam dibandingkan daerah lain,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, BRIN akan mengirimkan tim peneliti untuk melakukan kajian mendalam, mulai dari identifikasi keanekaragaman jenis, pengamanan spesies untuk konservasi, hingga kajian ekologi untuk melihat dinamika kawasan mangrove dari tahun ke tahun.
Melalui kesepakatan yang lebih solid antara BRIN, Pemko Batam, dan BP Batam, Kebun Raya Batam kini bersiap bertransformasi. Bukan sekadar pusat konservasi dan eko wisata, namun menjadi benteng pertahanan ekosistem pesisir dan pusat ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.(***)









