Pulau Tulang Karimun Terisolasi Saat Surut, Warga Titi Beton 100 Meter Menuju Laut

81

Posmetrobatam.co: Pulau Tulang, merupakan salah satu pulau yang memiliki pesona alam yang cukup menakjubkan. Tak jarang menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Karimun. Namun sayang. Sebagai wilayah yang terpisah oleh lautan dari pulau Karimun besar yang menjadi pusat pemerintahan. Pulau tulang justru harus ketinggalan dari akses fasilitas umum. Salah satu pelabuhan.

Sebagai daerah kepulauan, ketersediaan pelabuhan menjadi sangat penting. Pulau Tulang yang saat ini masukan dalam kecamatan Selat Gelam. Bukan tak memiliki pelabuhan. Namun pelabuhan yang ada saat ini belum terasa optimal bagi masyarakat sekitar. Salah satunya kendala ketika air laut dalam keadaan surut.

Akses akan terputus. Pasalnya kapal tak dapat merapat ke pelabuhan karena panjang pelabuhan tak mencapai titik terjauh air laut surut.

BACA JUGA:  Gubernur Ansar Lantik Dewan Kebudayaan Kepri 2026–2031, Perkuat Pelestarian Budaya Melayu

Bagi masyarakat sekitar yang harus beraktifitas, ketika air surut, mereka harus menggunakan jalur khusus. Jalur yang dibuat dengan semen seadanya yang menjorok hingga ke laut. Orang menyebut pelabuhan batu gajah. Jalur ini dikabarkan sudah ada sejak lama dan menjadi akses berguna bagi masyarakat. Namun penuh resiko. Meski tak sudah biasa digunakan. Masyarakat pun harus berjalan meniti semen seukuran lebar 80 centimeteran dengan panjang berkisar lebih dari 100 meteran.

Camat Selat Gelam, Indra yang dikonfirmasi POSMETRO menceritakan. Jalur khusus yang ada tersebut sangat bermanfaat ketika air laut sedang surut. Namun sangat berisiko.

“Namun penuh resiko. Lumpur, licin sehingga harus berhati-hati, karena ketika air laut pasang, beton yang menjorok ke laut akan tenggelam oleh air. Dan satu lagi hanya untuk lintas orang. Untuk barang masyarakat harus menunggu air pasang. Bongkar muat baru bisa dilakukan di pelabuhan utama yang ada saat ini,” ujar Indra.

BACA JUGA:  RS Jiwa Engku Haji Daud Luncurkan Tiga Layanan Baru untuk Kesehatan Masyarakat

Tak jarang masyarakat, tenaga pendidik, pelajar dan lainnya harus menggunakan jalur khusus itu untuk dapat dapat beraktifitas menyebrang ke pulau Karimun besar. Berbejalan dan keperluan lainnya.

“Hal ini sudah berlangsung lama, tak ada pilihan lain, hanya itu jalan satu-satunya saat ini, gak mungkin harus nunggu air pasang,” ketus Indra.

Ia menyatakan, bukan tak pernah membahas permasalahan kebutuhan pelabuhan yang lebih baik bagi masyarakat. Namun sayang perjuangan untuk memperpanjang pelabuhan harus kandas.

“Pelabuhan yang ada tak dapat diperpanjang, karena di depan pelabuhan utama saat ini merupakan area aktifitas nelayan, sehingga tidak memungkinkan di perpanjang,” tegasnya.

Untuk itu ia berharap, pemerintah, melalui dinas perhubungan dapat menganggarkan pembuatan pelabuhan baru yang lebih baik, sehingga aktifitas masyarakat dapat lebih optimal. Terutama bagi anak sekolah, tenaga pendidik, kesehatan dan masyarakat yang setiap harinya harus menyebrang ke Pulau Karimun yang ada di depan pulau Tulang.

BACA JUGA:  Wakil Bupati Bintan, Deby Maryanti Hadiri Penganugerahan Gelar Adat Melayu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Sejatinya, lanjut Indra, kerinduan akan pelabuhan baru bagi masyarakat Pulau tulang, merupakan kerinduan yang sangat lama diharapkan.(ria)