Sikat Mafia, Jurus Mentan Amran Sukses Swasembada Beras – Awasi Penyelundupan Beras di Batam

136

Jakarta, Posmetrobatam.co: Mentri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan,  produksi beras nasional tahun 2025 mengalami surplus sebesar 3,52 juta ton.

“Swasembada pangan yang semula ditarget oleh Presiden Prabowo empat tahun, dipercepat setelah melihat kinerja dan perubahan besar sektor pertanian,” ujar Amran saat berdialog dengan pimpinan jaringan media Jawa Pos Group di kediamannya, Minggu (11/1) pagi.

Produksi beras yang mencapai 34,71 juta ton, mengalami peningkat 4,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan 2024. Indonesia mencapai swasembada beras hanya dalam waktu satu tahun di Awah kepemimpinan Amaran di kementrian pertanian.

Mentana Amran Sulaiman buka-bukaan tentang jurusnya mencapai swasembada beras yang begitu cepat ini. Salah satunya tentu, terus waspada dengan ulah ulah kotor mafia beras. Termasuk di Batam selama ini. “Saya akan datang ke Batam,” ujarnya dengan tegas.

BACA JUGA:  BP Batam Komitmen Tuntaskan Pengembangan Rempang sebagai Mesin Ekonomi Baru Indonesia

Swasembada pangan 2025 tercermin dari sejumlah indikator utama yang menunjukkan penguatan signifikan.

Akibat capaian ini, Indonesia tidak lagi impor beras untuk memenuhi konsumsi pangan sepanjang tahun 2025. Bahkan, jumlah itu dianggap FAO sebagai rekor tertinggi Indonesia.

Amran menyatakan, keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan hasil transformasi radikal dan strategi “gaspol” di kementeriannya.

Amran melakukan deregulasi besar-besaran dengan pemangkasan birokrasi berbelit.

Kementan menyederhanakan regulasi secara masif dengan mencabut 291 Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) yang dianggap menghambat.

“Dari 15 Permentan kami pangkas hanya menjadi satu aturan. Ratusan keputusan menteri juga disesuaikan demi mempercepat investasi dan hilirisasi melalui pembentukan taskforce khusus,” katanya.

Kemudian yang terpenting melakukan “bersih-bersih” di internal kementerian dengan sistem meritokrasi ketat. Amran tak segan melakukan mutasi, demosi, hingga pemecatan terhadap 192 pejabat yang dinilai tidak berkinerja baik atau bermasalah.

BACA JUGA:  Video Musik 'Bubble Gum' Melampaui 19 Juta Penayangan, Popularitas NewJeans Terus Menanjak

“Saya mau orang yang ingin berubah, ” katanya.

Lalu, memperketat pengawasan eksternal dengan menggandeng Satgas Pangan Polri untuk menindak mafia pangan.

Sepanjang 2024 hingga 2025, Satgas berhasil menindak 92 kasus (termasuk 46 kasus beras dan 27 kasus pupuk) serta menetapkan 76 tersangka.

“Izin dari 2.229 pengecer dan distributor pupuk nakal pun dicabut demi menjamin distribusi yang adil bagi petani,” bebernya.

Amran juga melakukan efisiensi anggaran. Kementan melakukan penghematan biaya umum dengan memangkas perjalanan dinas, seminar, dan rapat di hotel. Total efisiensi anggaran tahun 2025 tercatat mencapai Rp 3,8 triliun.

Hasil refocusing anggaran tersebut dialihkan langsung untuk kebutuhan petani, seperti pembelian benih unggul, pompa, dan alat mesin pertanian (alsintan).

BACA JUGA:  Amsakar-Li Claudia Hadiri Musrenbang Galang 2026, Fokuskan Skala Prioritas dan Kebutuhan Masyarakat

Langkah ini berkontribusi signifikan pada peningkatan produksi beras senilai Rp 17,89 triliun.

Dan yang terakhir transformasi dari pertanian tradisional ke modern. Penggunaan teknologi mekanisasi diklaim berhasil menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga 100 persen.

“Ke depan, Kementan tidak hanya fokus pada pangan, tetapi juga mendukung kemandirian energi,” ujarnya.(*)