Gelar Energy Meet Up, SKK Migas Sumbagut Paparkan Kontribusi Nyata Industri Hulu Migas untuk Negara dan Masyarakat

247

Posmetrobatam.co: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kepulauan Riau menggelar Energy Meet Up di Batam Provinsi Kepulauan Riau sebagai wadah literasi, dialog, dan peningkatan kapasitas bagi media.

acara ini terselenggaran kolaborasi SKK Migas Sumbagut dengan sejumlah KKKS yang beroperasi di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Medco E&P Natuna Ltd., Harbour Energy Indonesia, Star Energy (Kakap) Ltd., KUFPEC Indonesia (Anambas) B.V., dan West Natuna Exploration Ltd, Prima Energy Northwest Natuna, serta Pertamina East Natuna.

Kegiatan ini penting karena industri hulu migas berperan besar dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menyumbang penerimaan negara. Dalam konteks itulah, jurnalis memegang peran strategis tidak hanya menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang, tetapi juga membantu menerjemahkan kompleksitas proses kerja serta istilah teknis migas menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

BACA JUGA:  Tenang, Mental Health Dijamin BPJS Kesehatan

Mengusung tema “Multiplier Effect Hulu Migas”, kegiatan ini memaparkan peran industri migas tak hanya sebagai penyumbang penerimaan negara, tetapi juga memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang sangat luas bagi pembangunan ekonomi nasional maupun daerah.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholison, menjelaskan bahwa multiplier effect tersebut hadir dalam berbagai bentuk yang langsung dirasakan masyarakat.

“Industri hulu migas bukan hanya soal energi. Lebih dari itu, migas menggerakkan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah serta pelaku usaha lokal,” ungkapnya.

Secara nasional, kontribusi sektor ini cukup signifikan. Pada 2023, hulu migas menyumbang lebih dari Rp114 triliun bagi penerimaan negara. Selain itu, ribuan tenaga kerja lokal terserap, UMKM tumbuh di sekitar wilayah operasi, dan pasokan gas bumi menopang kebutuhan listrik PLN di berbagai daerah.

BACA JUGA:  SKK Migas dan KKKS Kepri Sosialisasi serta Pelatihan Jurnalistik Industri Hulu Migas Kepada Mahasiswa UPB Batam

Di wilayah kerja SKK Migas Sumbagut yang meliputi Aceh, Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Kepulauan Riau, manfaatnya bahkan lebih terasa.

Pada 2024, lifting minyak dari wilayah operasi Sumbagut mencapai 183.000 barel per hari, atau sekitar 31,7 persen dari produksi nasional, dengan target naik menjadi 193.000 barel per hari pada 2025. Dari wilayah ini pula, Blok Rokan di Riau tercatat sebagai salah satu penopang utama produksi nasional dengan penerimaan sebesar USD 5,97 miliar pada 2023, atau 67 persen dari total penerimaan KKKS di Sumbagut.

Dampak ekonomi juga tercermin dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang disalurkan ke berbagai kabupaten/kota penghasil migas di Riau, Aceh, dan Sumatra Utara. Dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, memperkuat layanan publik, serta mendukung sektor pendidikan.

BACA JUGA:  Porwil XI Dibuka, Ribuan Warga Padati Lapangan Kantor Gubernur Riau

Multiplier effect semakin nyata dengan hadirnya program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini meliputi beasiswa pendidikan, pelatihan kerja, serta dukungan bagi UMKM lokal. Dengan demikian, keberadaan industri hulu migas bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di daerah.

“Harapan kami, manfaat dari multiplier effect migas ini bisa semakin dirasakan oleh masyarakat luas. Migas adalah milik bangsa, dan hasilnya harus memberi kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat,” tutup Yanin Kholison.(*/hbb)