Sahat Tambunan dan Kekagumannya atas Pacitan

465

Ilham Mendrofa, Kader Partai Demokrat

Posmetrobatam.co: Senja merayap pelan di Tebet, kami duduk di Wimlock Dimsum, sebuah kafe dua lantai. Udara Jakarta berdesir, pertemuan terasa berbeda. Sahabat saya, Bang Sahat Tambunan, baru saja tiba dari Pacitan.

Wajahnya, yang kerap dihiasi kesibukan legislatif, kini memancarkan cahaya lain semacam kejernihan yang dalam. Ceritanya tentang Pacitan, tentang ziarah politik dan bathin yang baru saja dijalaninya, mengalir bagai anak sungai yang menemui muara.

“Museum SBY dan Galeri Ibu Ani Yudhoyono,” ujarnya, suara bergetar penuh hormat.

Museum itu adalah lebih dari sekadar bangunan. Itu adalah perjalanan menyusuri lorong waktu seorang negarawan. Sebagai anggota parlemen Batam dua periode, yang telah mengunjungi banyak museum, ia mengakui kelengkapan dan kedalaman narasi di Pacitan tak tertandingi.

“Kita diajak memahami bahwa politik, seperti pernah diungkapkan Winston Churchill, bukanlah sekadar permainan. “Politics is not a game. It is an earnest business”. Dan di Pacitan, kami menyelami keseriusan itu keseriusan untuk membangun bangsa,” jelasnya.

BACA JUGA:  375 Pendeta di Batam Terima Insentif Periode Triwulan Keempat

Raut mukanya yang cerah dan jujur dalam kekaguman itu menghapus segala lelah perjalanan jauhnya. Pengalaman di Pacitan melampaui segalanya, membekas lebih dalam dari sekadar kunjungan biasa.

Benar adanya. Pada Agustus-September 2025 ini, Pacitan menjadi kiblat pencerahan bagi kader Partai Demokrat. Di bawah bimbingan Badiklat yang dipimpin Mas Rizki Natakusumah, mereka menyegarkan kembali pengetahuan dan mengokohkan ideologi partai. Ini bukan sekadar Bimtek biasa, melainkan sebuah ritual politik yang menghidupkan kembali memori kolektif perjuangan.

Di sana, para kader tidak hanya berdiskusi tentang taktik elektoral, tetapi juga disuguhi panorama alam Pacitan yang memesona dan kuliner yang menggugah selera. Pacitan, dengan segala warisan pemikiran dan keteladanan SBY, telah membentuk karakter kader-kader ini. Mereka disadarkan kembali pada akar ideologi pro-rakyat dan jejak langkah pendiri partai, seorang mentor senior yang visinya tetap relevan.

BACA JUGA:  Kodim 0316/Batam Bangun Gudang dan Gerai KMP di 2 Kelurahan, Jual Sembako Serta Pangkalan LPG

Setiap partai punya caranya masing-masing menumbuhkan ideologi. Bagi Demokrat, jalur Pacitan adalah cara kami mengolah bathin, menyerap inspirasi dari perjalanan panjang Pak SBY dalam mengarungi samudera politik dan pemerintahan.

Kader belajar dari ketegasan beliau menghadapi tantangan, dan kecintaan beliau pada alam, lingkungan, dan seni yang tercermin dalam koleksi fotografi Ibu Ani Yudhoyono serta ratusan buku di perpustakaan pribadi Pak SBY.

“Rasanya tak rugi setiap tahun ke Pacitan,” kata Bang Sahat spontan.

“Saya niatkan membawa keluarga, ini seperti umroh lokal menuju sumber kearifan,” tambah dia lagi

Ucapan terima kasih dan penghormatan kepada warisan legacy Pak SBY bergema dari setiap kader yang pulang dari sana. Sahat mengaminkan pengakuan para kader-kader itu.

“Seorang pemimpin bukan hanya tentang kebijakan yang dibuat, tapi tentang jiwa yang diwariskan, sekali lagi tentang jiwa; dan itu yang menginspirasi jiwa demokrat,”

BACA JUGA:  Gebyar Pramuka Kota Batam Tahun 2025 Ajang Kreatifitas Bagi Gerakan Pramuka di Batam

Dalam dunia politik yang semakin keras dan pragmatis, Pacitan adalah oase yang mereparasi pola pikir, sikap, dan tindakan. Di sanalah kader Demokrat diingatkan untuk tetap menjadi pejuang pro-rakyat, kokoh mendukung koalisi pemerintah Prabowo, membantu rakyat setulusnya, menjauhi sikap pamer kemewahan dan mengambil inisiatif dalam setiap kesulitan warga.

Kini, di usia ke-24, Partai Demokrat, setelah melalui fase oposisi lebih dari sembilan tahun dan kekuasaan selama sepuluh tahun, kembali memfokuskan diri untuk melayani Indonesia. Menjadi penguat pemerintah, dengan dedikasi penuh untuk rakyat, sambil terus berkonsolidasi menyerap aspirasi.

Pagi baru saja tumbuh di Jatibening, 25 September 2025, pagi ini menulis kembali perjalanan seorang kawan; sahabat yang baru saja mengunjungi masa lalu sekaligus memanen kearifan untuk masa depan. (*/hbb)