Multiplier Effect Nyata Bagi Perekonomian dan Masyarakat Kepri
Batam, Posmetrobatam.co: Provinsi Kepri, memiliki potensi alam yang sangat kaya, termasuk minyak dan gas bumi (migas) yang berada di Kabupaten Anambas dan Kabupaten Natuna yang bisa dieksplorasi.
Kehadirannya telah berdampak multiplier effect yang nyata bagi perekonomian dan masyarakat daerah Kepulauan Riau (Kepri). Bahkan, beberapa tahun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menggelar kegiatan Pre Indonesia Upstream Oil & Gas Supply Chain Management & National Capacity Building Summit 2024 (IOG SCM & NCB Summit 2024) di Batam, Kepri.
Kegiatan ini bukan tanpa sebab, tapi bertujuan untuk pelaku industri hulu migas, termasuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan pemangku kepentingan lainnya, untuk berkolaborasi dan mencari solusi atas berbagai tantangan dalam mencapai target produksi migas nasional.
Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C.W Wicaksono mengatakan kehadiran industri migas bukan saja berkontribusi pada ketahanan energi nasional. Namun, lebih dari itu sektor ini jadi mesin penggerak dalam perekonomian daerah dan masyarakat.
“Industri migas ini jadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mempeoleh kesempatan ekonomi yang lebih baik,” tegasnya, Kamis (18/9).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di Kepri pada tahun 2023, tumbuh sebesar 5,20 persen. Sementara pada triwulan pertama 2025, kembali mencatat angka 5,16 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Salah satu faktor pendorongnya beroperasinta lapangan Forel dan Terubuk pada Mei 2025. Proyek ini menambah kapasitas produksi sebesar 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD) dan menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja, dengan 1.386 di antaranya bekerja di galangan kapal Batam.
“Manfaat migas tidak berhenti di laut, tetapi menjalar ke daratan dalam bentuk lapangan kerja dan geliat industri,” kata Wicaksono.
Ia mengakui, masyarakat lokal ikut dilibatkan seperti di Anambas. Di mana serapan tenaga kerja di perusahaan migas merupakan putra daerah, terutama di posisi operator dan foreman. Pelibatan ini sangat penting, Karena bukan hanya menambah penghasilan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan daya beli dan
memutar roda perekonomian.
Sehingga multiplier effect juga tampak dari program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara
konsisten. Di Natuna dan Anambas, berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan lingkungan dilaksanakan
melalui sinergi SKK Migas, KKKS, dan pemerintah daerah.
Misalnya, dukungan beasiswa bagi pelajar berprestasi, program pelatihan keterampilan nelayan, pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dan
UMKM, hingga bantuan sarana pendidikan dan kesehatan.
“Ada pula program peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, seperti pelatihan keselamatan kerja migas, pengelasan, dan operator alat berat, agar masyarakat bisa terlibat langsung dalam kegiatan industri,” ucapnya.
Keberadaan hulu migas di kabupaten termuda di Kepri membawa dampak besar bagi masyarakat Anambas melalui program Corporate Social Responbility (CSR). Hal ini mendapat apresiasi masyarakat Tarempa, Mulyadi (55).
Seperti, beasiswa ke jenjang yang lebih tinggi, untuk nelayan, UMKM, dan lainnya. Ia berharap program CSR terus berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat di Anambas.
“Kita ingin keberadaan industri hulu migas, membawa dampak yang luas bagi masyarakat. Mereka membuka lapangan pekerja bagi putra daerah, anak-anak mendapat beasiswa, nelayan mendapat peralatan, UMKM dapat pelatihan. Kira berharap program CSR ini tepat sasaran,” harapnya. (sya)









