ISTRI PAJANGAN Bagian 18: Rihana Mulai Berani Melawan

69

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Rihana merasa tak bebas, belakangan ini. Segala aktifitas dia di luar rumah, selalu dibatasi sama sang ibu mertua.

Seperti biasa, Rihana berencana buat janji, bareng Fitriani, di rumah makan Padang.

Tapi, sebelum terlaksana, kali ini rencananya gagal. Lagi-lagi Fatimah tak memberinya kebebasan.

“Mau kemana kamu. Pekerjaan di rumah masih bertumpuk. Mana para pembantu sedang cuti selama dua bulan ini. Jadi, kamu nggak bisa seenaknya pergi-pergi.” kata Fatimah dengan ketusnya.

Rihana hanya diam melihat ulah sang ibu mertuanya itu.

Rihana terus bersolek, karena dia ada janji sama Fitriani, di tempat biasa.

Fatimah yang merasa dicuekin, mulai emosi. Dia teringat akan cake bolu pisang yang pernah diberikan ke Novi.
“Aku mau tanya dan kamu harus jawab jujur!” desak Fatimah, dan dia juga berusaha agar Rihana fokus mendengarkan pembicaraannya.

Tiba-tiba tangan Rihana ditarik Fatimah, lalu dipegangnya erat sekali.

“Kamu beri garam banyak-banyak ya kue yang buat Novi kemarin. Maksud kamu apa coba?!” tanya Fatimah to the point.

Rihana cekikikan dalam hati. Dia merasa puas karena sudah membuat perempuan itu kesal.

“Lepaskan ibu. Sakit sekali!” kata Rihana berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Fatimah.

“Nggak!” kata Fatimah bersikukuh. Fatimah tidak akan melepaskan genggamannya selama dia nggak mendapatkan kejujuran Rihana.

“Sekali lagi, lepaskan tangan aku atau aku akan cerita ke semua orang tentang Gita, anak Fatimah yang kedua, hamil di luar nikah.” ancam Rihana.

Mulai detik ini, Rihana tak lagi jadi menantu yang penurut, atau diam saja saat diperlakukan tak adil, oleh ibu mertuanya itu.

“Aku lelah jadi menantu baik-baik. Karena tak pernah dihargai. Jadi buat apa jadi menantu baik.” ucap Rihana dengan kasar.

BACA JUGA:  Diadaptasi dari Buku Habib Jafar, Film "Seni Merayu Tuhan" Tayang 13 Agustus 2026

Dalam hati, untung hari ini dia nggak ketahuan sama Broto kalau sudah bersikap kasar sama Fatimah.

Tapi, Rihana tahu pasti, kalau Broto tak pernah memberikan pembelaan pada Fatimah. Broto berada di pihak yang netral.


Sudah sepekan yang lalu, Fatimah, berniat ingin santai di pantai. Tapi, lagi-lagi dia mengandalkan Rihana untuk menyiapkan segala keperluan yang bakal dibawa ke pantai.

Pintu kamar Rihana diketuk Fatimah. Padahal masih jam 06.00 wib. Seperti biasa, Rihana baru keluar kamar, jam 07.00 wib.

“Bising banget sih nenek lampir yang satu ini. Ganggu tidur aku aja!” Rihana kesal. Tapi posisi dia masih rebahan di tempat tidur.

“Ri. Bangun. Ibu mau ke pantai. Siapkan bekalnya. Sekarang!” teriaknya dari luar pintu kamarnya.

Rihana cuek.
“Suruh saja Novi!” gumam Rihana masih emosi karena tidurnya yang kurang satu jam lagi itu, diganggu.

Selama pintu kamar Rihana belum dibuka, Fatimah tetap akan buat ulah, terus menggedor-gedor pintu kamar Rihana.

“Ri..Bangun RI!” teriaknya seperti tarzar hutan.

Rihana terpaksa berteriak juga merespon panggilan sang ibu mertuanya itu.

“Iya sabar. Bu. Sebentar lagi Rihana bangun. Masih ngantuk banget ini!” bantah Rihana.

“Dasar menantu pemalas!” maki Fatimah.

Dia semakin emosi mendengar jawaban Rihana yang tak menuruti keinginannya itu.

“Kenapa harus saya sih Bu. Bukannya ada Novi, calon menantu kesayangan ibu itu!” Seloroh Rihana to the point.

“Kamu ini jangan kurang ajar ya sama mertua!” pekik Fatimah sembari menggebrak pintu kamar menantunya itu, tak henti.

Karena suara bising itu mengganggu, akhirnya Rihana buka pintu.

“Bu..Kenapa harus mengandalkan saya. Bukankah calon menantu ibu, adalah Novi?! Saya sebentar lagi mau hengkang dari rumah ini!” bentak Novi, tapi pelan.

BACA JUGA:  Byeon Woo Seok Pemain Drama 'Lovely Runner' Menderita

“Nggak bakalan sanggup kamu pisah dari Bagas. Mau ya kamu jadi gembel di luaran sana?” tanya Fatimah seolah meremehkan tekad Rihana yang berusaha ingin cerai dari Bagas.

“Oh nggak masalah ibu. Karena saya merasa rumah ini bukan lagi tempat saya berteduh. Rumah ini, bagai neraka, buat saya!” kata Rihana blak-blakan, karena tak tahan lagi ingin mengungkapkan semuanya.

“Awas kamu ya. Aku bilang semuanya ke Broto dan juga Bagas. Kamu itu memang menantu tak berguna..Tak tahu diri. Tak tahu berterimakasih.” kata Fatimah lagi, panjang lebar merendahkan Rihana.

Rihana bertekad, secepatnya dia akan berusaha bercerai dari Bagas.


Hari ini, Bagas pulang ke rumah. Sudah sepekan dia berada di luar kota.

Sampai di rumah, Bagas menerima banyak aduan buruk tentang kelakuan Rihana pada Fatimah yang mulai tak menghargai lagi.

Tapi, lagi-lagi Bagas cuek. Katanya, dia sibuk dengan urusan partai. Masa kampanye, tinggal dua bulan lagi, dan dia ingin fokus menyelesaikan targetnya, melenggang ke kursi wakil rakyat.

“Bagas. Pokoknya kalau bisa secepatnya kamu ceraikan saja Rihana. Dia sudah nggak sayang sama keluarga kita. Dia itu cuma beban. Menantu tak berguna.” Fatimah menceritakan Rihana dengan semangat menjatuhkan.

“Sudah Bu. Bagas juga nggak peduli. Dia mau ngapain juga Bagas tak peduli.” kata Bagas cuek.

Tapi, dalam hati, dia tetap ingin mempertahankan Rihana, sampai dia terpilih jadi wakil rakyat.

Dia tak ingin cerita tentang rumah tangganya yang retak ini, diketahui publik.

“Pokoknya, sampai aku terpilih jadi anggota DPR, aku nggak akan menceraikan Rihana. Bisa buruk citra aku kalau sampai orang luar mendengar aku bercerai.” kata Bagas to the point di depan Fatimah.

BACA JUGA:  Perkenalkan Inilah Tujuh Member RIIZE, Boygroup Yang sedang Menyala di Korea Selatan

Fatimah protes.
“Bilang saja kalau Rihana itu istri yang tak becus. Jadi kamu bisa menceraikan dia secepatnya!” Fatimah memberi saran.

Bagas tetap bersikukuh kalau setelah melenggang ke kursi DPR, dia bakal cerai dengan Rihana.

“Nggak bisa Bu.. Kalau Bagas cerai sama Rihana sekarang, bisa buruk citra Bagas di mata konstituen.” jelas Bagas untuk kesekian kalinya. Karena, Fatimah berharap secepatnya Bagas menceraikan Rihana.

Karena tak ingin berpanjang lebar, Bagas berlalu dari hadapan Fatimah.

“Tunggu Bagas. Ibu belum selesai bicara!” kata Fatimah meneriaki Bagas. Tapi, Bagas tak menghiraukannya.

Tiba-tiba Rihana datang.
“Ibu tahu sendiri kan? Bagas akan segera menceraikan saya, setelah dia terpilih jadi anggota DPR. Jadi, ibu jangan khawatir. Cuma tinggal dua bulan lagi waktunya saya jadi menantu Nyonya Fatimah dan Tuan Broto.” celetuk Rihana panjang lebar.

Mendengar itu, Fatimah kesal. Fatimah memang berharap Rihana segera bercerai dari Bagas, secepatnya. Tapi, demi target Bagas. Harus menunggu dua bulan lagi.

Broto yang baru saja balik dari nongkrong bareng teman-temannya, tiba-tiba ikut nimbrung bicara.

“Ada apa sih Bu. Tiap hari selalu ribut. Kalau sehari nggak ribut sama Rihana, apa ibu nggak puas!?”

Mendengar itu, Fatimah sewot. Dia menilai, Broto selalu membela Rihana. Padahal, Rihana itu, tak lain musuh bebuyutan Fatimah.

Ironisnya, meski musuh bebuyutan, Fatimah selalu mengandalkan Rihana, dalam segala hal.

“Dia itu baik, Bu. Masih saja kamu musuhi.” kata Broto membela Rihana.

“Bela saja terus dia. Dan aku nggak peduli, dia itu tetap saja menantu tak berguna!” Fatimah terus merendahkan Rihana di depan Broto.
Karena merasa tak diperlukan lagi keberadaannya, Rihana bergegas meninggalkan Fatimah dan Broto di meja makan. (*)