Inflasi Batam Tembus 3,99 Persen, Emas hingga Tarif Pesawat Jadi Pemicu

98

Batam, Posmetrobatam.co: Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyoroti tingkat inflasi Kota Batam yang mencapai 3,99 persen atau melampaui target inflasi nasional sebesar 1,5-3,5 persen.

Karena itu, Amsakar meminta seluruh pemangku kepentingan fokus mengendalikan komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Batam.

Berdasarkan data Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kenaikan inflasi dipicu oleh harga emas perhiasan, tarif angkutan udara, beras, daging ayam ras, serta kelompok makanan jadi.

“Komoditas penyumbang inflasi ini harus menjadi perhatian bersama. Langkah yang bisa dilakukan di daerah harus segera diupayakan. Sementara untuk kebijakan nasional seperti tarif angkutan udara, kami berharap ada perhatian khusus agar beban masyarakat Batam dapat ditekan,” kata Amsakar.

BACA JUGA:  Lagu " Lemak Manis " Roslan Madun Malaysia semarakkan Kenduri Seni Melayu 2026

Selain inflasi, Amsakar juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Batam pada triwulan I 2026 yang tercatat nol persen. Menurutnya, angka tersebut belum sejalan dengan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif.

Ia menyebut kunjungan wisatawan yang meningkat, investasi yang terus tumbuh, serta kondisi dunia usaha dan ketenagakerjaan yang relatif stabil menjadi indikator ekonomi Batam masih bergerak baik.

Untuk memastikan akurasi data, Pemko Batam akan menggelar rapat koordinasi bersama BP Batam, Bank Indonesia, BPS, dan Bea Cukai guna melakukan pendalaman data secara menyeluruh.

“Kita membutuhkan data yang objektif dan akurat. Kebijakan yang tepat hanya bisa diambil jika didukung data yang benar,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Wijidarto, mengatakan stabilitas inflasi menjadi salah satu pertimbangan utama investor sebelum menanamkan modal.

BACA JUGA:  Usai Penggusuran di Tanjung Uncang, Pedagang Desak Solusi ke DPRD Batam

Menurutnya, tingginya daya beli masyarakat dan pertumbuhan sektor industri membuat arus barang dari luar daerah terus meningkat. Namun, ketergantungan Batam terhadap pasokan pangan dari daerah lain masih menjadi tantangan karena keterbatasan lahan pertanian produktif.

Rony menjelaskan, inflasi Batam dalam tiga tahun terakhir paling banyak disumbang oleh emas perhiasan. Selain itu, kelompok makanan jadi seperti nasi campur dan nasi goreng juga terus mengalami kenaikan harga dan masuk dalam lima besar penyumbang inflasi.

“Inflasi diukur dari perubahan harga. Karena itu, stabilitas harga, terutama di pasar tradisional, harus terus dijaga,” pungkasnya. (hbb)