Bikin Khawatir, IHSG Jeblok Rupiah ke Rp22.000 Per Dolar AS

Jakarta, Posmetrobatam.co: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap kredibilitas pasar modal domestik serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed, pada Jumat (30/10) pagi.

Adapun IHSG Jumat dibuka melemah 31,12 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.066,94.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya, Jumat, menilai persoalan MSCI masih membayangi kepercayaan pelaku pasar dan investor.

Tekanan tersebut sebelumnya tercermin dari penurunan IHSG sebesar 3,49 persen. Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi juga mengalami kenaikan hingga 7,64 persen.

Sentimen pasar keuangan domestik juga tercermin dari kekhawatiran mengenai potensi arus modal asing keluar yang dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

BACA JUGA:  PLTS Pulau Sembur Jadi Andalan Pertamina NRE Dukung Program 100 GWp

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo sebelumnya memperingatkan rupiah berpotensi melemah hingga Rp20.000-Rp22.000 per dolar AS apabila persoalan pasar modal terkait evaluasi MSCI tidak segera diselesaikan.

“Pernyataan Hashim mengenai potensi pelemahan rupiah hingga Rp22.000 per dolar AS mencerminkan besarnya risiko kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, khususnya di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI,” kata Maximilianus.

Meski Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menanggapi dengan menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik, para investor tetap mewaspadai pelemahan lebih lanjut rupiah.

“Kami memperkirakan upaya BI menjaga rupiah akan tetap menjadi prioritas, dengan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Jelang Pilpres 2024, Anies Baswedan: Bacawapres Mungkin dari Jatim

Maximilianus memandang efektivitas kebijakan tersebut juga bergantung pada penyelesaian persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal guna memulihkan kepercayaan investor asing.

Maka dari itu, risiko pelemahan rupiah bukan hanya ditentukan oleh faktor eksternal, melainkan juga kredibilitas reformasi pasar keuangan domestik.

Selain sentimen domestik, pergerakan pasar juga dibayangi perkembangan ekonomi AS, terutama kenaikan inflasi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Pilarmas mencatat indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sementara itu, pertumbuhan belanja konsumen melambat dari 0,9 persen menjadi 0,5 persen.

Kenaikan inflasi di tengah perlambatan belanja konsumen tersebut menambah ketidakpastian terhadap arah suku bunga AS. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

BACA JUGA:  Dukungan Golkar ke Prabowo Dinilai Berpotensi Jadi Kunci Memenangkan Pilpres 2024

Dengan kombinasi sentimen domestik dan eksternal tersebut, Pilarmas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat. Berdasarkan analisis teknikal Pilarmas, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 4.815 dan resistance 5.185.(ant)

Statistik artikel
Tampilan:
Klik: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *