Energi Masa Depan Batam, Menjamin Kelistrikan Lebih Andal

Direktur Posmetro Batam saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan pelatihan jurnalistik yang bekerja sama Posmetro dan PLN Batam di SMA N 20 Batam.

ENERGI listrik terjadinya antara, pembangkit dan arus yang tersalurkan ke tiang listrik dan menjadi sebagai sumber daya utama. Hasil akhir distribusikan dan digunakan oleh pelanggan.

Manajer Tranmisi PT PLN Batam M Affandi menjelaskan, saat masa transisi, soal energi atau kelistrikan di Batam tidak bakal kembali secara organik. Justru menurutnya, kita bakal berada fase era hyper-growth. Historis perkembangan organik di Batam (tahun 2015-2024), mencapai 6,4% per tahun dan beban puncak industri konvesional adalah 690 MW, tahun 2024.

“Memasuki fase era growth, proyeksi ruptl (2025-2034) lonjakan terjadi 10,69% per tahun, dan beban nya melampaui 6 GW. Lalu, apakah kesenjangan kapasitas nya?

Kesenjangan nya adalah, pembangkit lokal eksisting tidak diprogramkan membendungi gelombang tanpa dirombak oleh arsitektur secara menyeluruh,” inilah pemaparan M Affandi saat memberikan materi sebagai bahan tulisan dalam kegiatan pelatihan jurnalistik SMA/SMK di SMA N 20 yang digelar oleh Posmetro dan PLN Batam.

Dalam penjelasannya, Affandi mengatakan, Batam dan Singapura berjarak tempuh 20 km. Hal ini menurutnya, mengubah lanskap Batam menjadi ekosistem digital padat energi. Dia juga menyebutkan di area KEK Nongsa Digital Park episetrum data centre tier 3 & 4. Menurut Affandi demand mencapai senilai 1.075 MVA. Ini melampaui total recap historis se-Batam. Lalu, KEK Kabil ekspansi manufaktur canggih & digital, demand mencapai 85 MVA.

“Dan sayang nya, tidak bisa ditawar 100% green energy,” Affandi menegaskan.

Lalu, dipaparkan Affandi, ancaman apa saja yang selalu ditutupi? Pertama,transisi awan menghapuskan ratusan megawatt. Kedua, kurang daya tahan pembangkit gas eksisting untuk menutupi defisit daya secara instan. Terakhir, PLTS tidak memiliki masa putar mekanis. Saat terjadi gangguan, tidak ada energi kinetik untuk menahan Rate of Change of Frequency (RoCoF).

“Ancaman utama adalah blackout kostan. Adanya penurunan IKS (Indeks Kekuatan Sistem) ke generator sikron yang mengghambat jalan arus > 3 p.u dan membatasi arus sekitar 1.0 – 1.5 p.u. Yang membuat, relai pelindungan tradisional gagal mendektesi sekaligus hilang arah. Dan keadaan batas aman reverse margin tergerus berada di bawah 3%. Menyebabkan kolaps frekuensi ramp rate pembangkit gas eksisting bergerak sangat lambat,” ujar Affandi.

Untuk antisipasi black out, dijelaskan Affandi, skenario ada dua, yaitu Skenario UNDERREACH dan Skenario OVERREACH. Skenario UNDERREACH, tentang gangguan di dalam proteksi. Arus IBR terlihat rendah, membuat relai mengira gangguan sangat jauh. Relai gagal bekerja atau gagal trip.

Sedangkan, Skenario OVERREACH adalah gangguan di luar zona aman. Fluktuasi impedansi menipu relai, mengira gangguan mendekat. Lalu relai memutuskan tanpa alesan (black out parsial).

“Tantangan yang dihadapi VRE adalah fluktuasi cuaca per menit nya dan surplus siang/defisit malam. Dan solusi dari BESS (2025-2034); Smoothing, menyerap lonjakan secara langsung (mencegah overvortalge) dan menambah defisit daya instan dengan frekuensi tinggi dan Peak shifting & firming; menyimpan energi di siang hari dan dipakai untuk melayani beban puncak dari data centre, pada malam hari,” ujar Affandi menjelaskan.

Affandi mengatakan, ada tiga solusi untuk mencegah blackout Pertama, deteksi secepat kilat memakai inverter pintar BESS untuk mendeteksi lonjakan RoCof dan suntik daya aktif sedalam <200 milidetik. Kedua, ilusi fisika algoritma droop control, yaitu memanipulasi jaringan secara matematis. Membuat ambigu, seakan bereaksi turbin mekanis berputar (inersia buatan).

“Terakhir, penyelamat beban kritis dengan memberi ruang cadangan untuk menyalakan dan mengambil alih suplai tanpa harus memadamkan server data centre,” kata Affandi.

Planning kedepan orkestrasi esekusi terpadu (2025-2034). Dijelaskan Affandi, sikronisasi serentak antara pembangkitan, penyimpanan, dan transmisi kelistrikan. Fase 1, penetrasi awal (2025-2028); PLTS Tembesi [35 mw] & PLTS mulai tersebar, implestasi awal BESS tersebar (15 MW -100 MW). Untuk stabililasi lokal, konstruksi SUTT 150 kV

KEK Nongsa & kabil. Fase 2, interkoneksi & ekslasi: 2031; akan ada beroperasi SUTET 275 kV & Kabel di bawah laut Sumatra, injeksi masif impor daya bersih (700 MW),

Akselerasi kapasitas BESS mencapai >200 MW kumulatif. Fase 3, kematangan sistem cerdas: penyelesaian target bauran EBT 29,4% , Sistem terpadu adaptif melayani beban kiper 6 GW dengan menjaga keseimbangan inersia sintetik dan IKS terjamin penuh.

Kemudian, dijelaskan Affandi terkait planning konluksi menuju resillent smart grid Asia Tenggara. Pertama, ekonomi digital yang terjamin. Hal ini melayani deman eksponennisial KEK Nongsa & Kabil dengan komitmen kualitas daya absolute. Yang kedua harmoni VRE & kendalan 725 MW BESS ditambah interkoneksi, mereduksi kelemahan fatal intermittecy surya dibawah 200 milidetik. Dan yang ketiga, transisi berpusat manusia memastikan setiap megawatt dibangun dan mempertimbangan keseimbangan ekosistem dan keadilan ruang hidup bagi masyarakat.

Inilah yang menjadi penjelasan PLN Batam, menjadikan masa depan Batam sebagai kota yang terus berkembang di tengah kemajuan era digital yang semakin membutuhkan banyak sumber energi untuk menjamin kelistrikan yang lebih andal.(*)

(Selvilia, siswi SMA N 20 Batam)

Exit mobile version