Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Di awal hari, jam 05.30 wib, Cahyo sudah bersiap hendak keluar. Katanya mau ke kantor nya yang baru.
“Sayang. Aku ke kantor PLN sebentar ya?” kata Cahyo, yang terlihat buru-buru.
“Mas. Ini masih pagi banget. Memangnya ada ya pimpinan PLN datang ke kantor pagi-pagi banget!” celetuk Rihana.
“Hmmm. Ada dong. Nih….orangnya di depan kamu. Aku nggak lama kok di kantor. Paling, memperkenalkan diri aja sebentar. Satu jam aja. Setelah itu balik. Lagi pula, belum efektif masuk kantor. Kan aku soalnya dikasih cuti buat berangkat umroh. Pertengahan bulan depan baru masuk kantor.” sebut Cahyo bersemangat.
“Baiklah kalau begitu.” jawab Rihana, sembari mencium punggung tangan kanan Cahyo, sebelum dia beranjak pergi.
Di luar rumah, Rihana melihat Zulaikha mengenakan kaos pres body, dan celana pendek sepaha.
“Sialan. Perempuan itu kenapa ada di depan rumah sih! Sepertinya dia sengaja muncul pagi-pagi di depan rumah, buat menarik perhatian Mas Cahyo.” gumam Rihana kesal.
“Hai…Mas Cahyo. Berangkat kerja ya?!” sapa Zulaikha dengan suara manja yang dibuat-buat.
“Ih jijik banget lihat dia! Kenapa sih panggil-panggil Mas Cahyo kayak begitu. Najis!” Rihana semakin kesal karena tahu kalau Cahyo membalas sapaan dari Zulaikha.
“Duluan ya Zulaikha. Buru-buru soalnya?!” sahut Cahyo.
“Kenapa sih Mas Cahyo ini, selalu saja ditanggapi kalau diajak bicara sama perempuan itu. Lagi pula, perempuan itu gatel banget bicara sama Mas Cahyo.” Rihana menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar ke langit-langit ruang tamu rumah kontrakannya itu. Dadanya sesak, bagai ditindih batu kali, karena menahan kesal di benaknya.
Sekitar jam 11.00 wib, Cahyo balik dari kantor.
Rihana diam. Tak ingin banyak bicara. Apalagi, bersamaan dengan kepulangan Cahyo ke rumah, Zulaikha juga datang membawa kue brownis.
“Assalamualaikum!” kata Zulaikha mengucap salam.
Rihana tak menjawab. Dia malah masuk ke kamar.
Akhirnya Cahyo yang menyambut kedatangan Zulaikha.
“Ada apa Zulaikha?!” sapa Cahyo.
“Ini Mas. Aku tadi beli kue brownis. Kan kamu suka banget makan kue brownis. Istri Mas Cahyo juga pasti suka kan? Ini kue nya spesial.” sebut Zulaikha panjang lebar.
“Ri….ada tamu,” kata Cahyo, mencoba meminta Rihana untuk menemui Zulaikha. Tapi, Rihana terlanjur kesal dengan perempuan itu.
Rihana pura-pura tidur. Bahkan dia tak menghiraukan panggilan Cahyo.
“Tidur sepertinya istri aku.” jelas Cahyo.
“Ya sudah Mas. Zulaikha balik ya. Salam ke kakak. Siapa ya nama istri Mas itu?” tanya Zulaikha lembut.
“Rihana,” sebut Cahyo.
“Oh oke. Salam ya ke Kak Rihana.” sebut Zulaikha, seraya bergegas pulang.
Cahyo kembali memeriksa Rihana. Masih terpejam. Tiba-tiba Cahyo mendaratkan ciuman mesra di bibir Rihana.
Rihana tampak cuek.
“Sayang. Kamu kenapa? Marah sama aku ya?” bisik Cahyo pelan di telinga Rihana.
Cahyo tahu, Rihana marah pada kehadiran Zulaikha. Tapi, Cahyo sendiri juga nggak mungkin bersikap kasar ke Zulaikha.
Haruskah di saat perempuan itu datang, lalu mengusirnya? Rasanya nggak mungkin.
Cahyo coba membelai mesra rambut Rihana. Rihana masih bersikukuh tak ingin merespon Cahyo.
“Maaf ya kalau aku sudah buat kamu kecewa.Maafin aku ya sayang,” ucap Cahyo memelas.
Rihana masih bertahan, dengan posisinya yang pura-pura tidur.
“Rihana. Maafin aku dong.” pinta Cahyo lagi.
Tak lama, akhirnya Rihana meresponnya.
“Maafin aku ya sayang. Jangan marah dong sama aku?” ucap Cahyo untuk yang kesekian kalinya.
“Capek aku Mas, selalu aja menyaksikan drama-drama nggak penting. Aku mau hidup tenang Mas. Aku nggak mau ada orang ketiga lagi di hidup aku. Cukup aku tersakiti saat sama Bagas. Aku nggak mau itu terulang lagi.” jelas Rihana panjang lebar.
“Iya aku tahu Ri. Aku pun nggak menyangka kalau bakal ketemu perempuan itu di depan mata aku! Aku janji waktu itu, sejak aku mengenal kamu pertama kali, kamu satu-satunya yang aku sayang.” jelas Cahyo.
“Tapi kenapa kamu respon sapaan dia dengan hangat Mas?!” protes Rihana.
“Ya ampun kamu cemburu sama Zulaikha?!” Dia masa lalu aku Ri. Kamu sekarang masa depan aku.” aku Cahyo akhirnya terus terang.
“Dia pernah meninggalkan aku, demi pria lain. Aku sudah menghapus nama dia dalam hatiku, Ri.” Cahyo berusaha meyakinkan Rihana.
“Tapi kulihat kamu bahagia banget saat pertama ketemu dia Mas. Bahkan kamu terlihat salah tingkah di depan dia,” tuduh Rihana serius.
“Ya ampun. Salah tingkah gimana?!.Ya sudah. Begini aja. Maafkan aku, dan kumohon, jangan ada lagi pembahasan soal Zulaikha. Dia adalah lembaran lama yang sudah usang.
Rihana terdiam.
Tiba-tiba Cahyo menyerahkan kue brownis yang dibawakan Zulaikha.
“Kue ini buang aja Ri..Kalau kamu nggak sudi memakannya.” ucap Cahyo.
“Kue ini nggak salah apa-apa Mas. Kenapa harus dibuang. Lagi pula, kita akan berdosa Mas karena membuang rejeki.” sebut Rihana mencoba berbesar hati saat mengatakan itu. Padahal, sebenarnya Rihana tak ingin menyentuh kue brownis itu. Tapi, sekali lagi, kue itu rejeki dari Allah, tak peduli dari siapa. Jadi, kata Rihana, kue itu nggak boleh dibuang.
“Mau dari penjahat sekalipun, kalau dikasih makanan orang, ya kita terima dan syukuri, Mas.” ucap Rihana dengan bijak.
“Ya terserah Ri. Makasih ya kamu baik banget sama aku. Aku minta maaf ya, karena sudah sering mengecewakan kamu, beberapa hari ini,” kata Cahyo merasa bersalah.
“Fit apa kabar?” tanya Rihana pada sahabatnya itu.
“Maaf ya kemarin aku nggak sempat pamit. Sekarang aku sudah di Jogja. Ikut Mas Cahyo. Dia kan dimutasi ke Jogja.” cerita Rihana lewat pesan chatnya.
Fitri tak mau membalas pesan itu lewat chat. Dia langsung menelepon Rihana.
“Eh seriusan kamu pindah ke Jogja?” tanya Fitri tak percaya.
“Iya masa aku bohong!” jawab Rihana lewat percakapan video call dengan Fitri.
“Terus gimana kabar kamu!? Enak kan di Jogja?!” tanya Fitri serius.
Rihana menarik nafas dalam-dalam, lalu perlahan dia menghembuskan ke langit-langit kamarnya.
“Lagi galau aku.” sebut Rihana.
“Hmm kenapa?! Bukannya kamu bahagia banget sudah bisa mendapatkan Cahyo!” celetuk Fitri.
“Iya sih!” sahut Rihana.
“Terus? Apa masalahnya?!” tanya Fitri penasaran ingin tahu.
“Tahu nggak yang bikin aku galau.” Rihana masih ragu mengatakannya.
“Iya apa Ri..Cerita aja!”
desak Fitri.
“Di Jogja, Mas Cahyo ketemu mantannya.” sebut Rihana
“Terus, mantannya itu rajin ngirim kue ke rumah aku.” cerita Rihana lagi, panjang lebar.
“Oh itu….yang bikin galau. Kenapa kamu nggak labrak aja dia. Suruh ngaku apa tujuan dia kirim-kirim kue ke rumah kamu!” ucap Fitri memberi saran.
“Tak hanya sekali, Zulaikha mengirimkan kue brownis. Nyaris sepekan sekali, mantan Cahyo itu mengirim kue brownis. Kenapa ya perempuan satu itu. Sepertinya, dia selalu mencari cara untuk menarik perhatian Mas Cahyo,” Rihana curhat ke sahabatnya, Fitri.(“)
