Anak-anak Belajar dari Rumah, Orang Tua Malah Pusing

Pinang, Posmetrobatam.co: Kabut asap yang menyelimuti kota, akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah lokasi di Bintan, dan Kota Tanjungpinang, membuat pemerintah ambil kebijakan khusus. Siswa diliburkan selama 5 hari (14-18 September) atau sampai kondisi membaik.

Terkait kebijakan itu, sebagian siswa dan orang tua, memaklumi. Bahkan, hal itu bukan menjadi persoalan yang serius. Ada siswa yang memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar di rumah dengan baik, dan ada juga yang melakukan aktifitas kumpul bersama keluarga tercinta.

Tapi, tidak buat sebagian orang tua yang lainnya. Momen libur selama lima hari ini, orang tua justru kerepotan.

Seperti yang diungkapkan Lusi, yang masih punya anak kelas 1 SD.

“Pusing saya selama libur dan belajar daring ini. Masalahnya, kalau belajar daring, anak saya itu banyak tingkah dan banyak drama,” sebut Gita yang anaknya sekolah di sekolah negeri Tanjungpinang Timur.

“Ngerjain tugas dikit katanya capek. Minta pijit badannya gerah. Ngantuk. Macam-macam pokoknya tingkah dia. Rasanya menguras emosi jiwa kalau menghadapi tingkah anak saya itu. Kalau bisa, dan tak darurat, tolonglah sekolah/ pemerintah jangan buat kebijakan belajar daring. Rasanya ini lebih parah dari zaman covid kemarin. Emosi bawaan saya kalau ngajarin anak-anak belajar daring. Lebih baik mereka belajar di sekolah saja. Biar saya tak darah tinggi,” ucap Gita penuh emosi.

Tak hanya Gita, Yusfreyendi, salah satu dari orang tua siswa yang juga mengaku pusing kalau melihat anaknya belajar daring.

“Hari pertama daring, rasanya buat kepala pusing. Apalagi, sampai belajar daring sampai beberapa hari, rasanya mau angkat tangan, saya. Pusing!” selorohnya.

Yusfreyendi punya pekerjaan tetap yang saban hari harus terjun ke lapangan. Lantaran anaknya belajar daring, terpaksa harus izin dari kantornya untuk beberapa hari ini.

Mengapa tak mengandalkan sang istri? Istrinya juga punya pekerjaan tetap yang sama sekali tak memberinya kesempatan libur ketika di waktu hari kerja.

“Terpaksa mengalah, dan minta izin dari kantor karena harus mendampingi anak belajar daring,” katanya kesal.

“Pasalnya, memang di surat edaran yang diterima orang tua, datang ke sekolah sementara diliburkan. Tapi, kegiatan belajar dialihkan di rumah. Jadi, libur beberapa hari ini, bukan berarti libur total tanpa melakukan aktifitas belajar,” ujarnya.

Lalu, dimana letak inti masalahnya. Siswa diberi tugas, meski diliburkan ke sekolah. Tugas itu, menjadi beban berat buat orang tua. Pasalnya, anak-anak malah manja dan banyak tingkah, kalau belajar daring.

“Anak tak mengerjakan tugas dan malah meminta bantuan ke kita. Bukankah ini anak jadi manja?” sebut Yusfreyendi.

Hari pertama daring, anak dapat tugas PR bahasa Indonesia dan Matematika.

“Tugas belum selesai, dia sudah mengeluh minta dibuatkan Indomie. Oke saya turuti buat Indomie. Selesai makan Indomie, bukannya dia mengerjakan tugasnya. Malah main hape. Pusing saya dibuat kalau belajar daring. Mau dimarahi, nanti malah anaknya nangis dan tak mau mengerjakan tugas. Memang benar-benar merepotkan kalau belajar daring. Kalau bisa usul ke sekolah, saya mau usul, jangan ada belajar daring. Karena belajar daring, bukan anak jadi pinter dan rajin mengerjakan tugas, ini malah banyak tingkah dan banyak permintaan. Rasanya, sesak nafas kalau jadi guru tiap hari selama belajar daring ini,” pungkasnya.(aiq)

Exit mobile version